Ruang Tunggu Hana

Hayuning Ratri Hapsari | Ryan Farizzal
Ruang Tunggu Hana
Ilustrasi Hana si kudanil (Gemini AI/Nano Banana)

"Hana, kamu yakin mau menunggu di sini selamanya?" tanya Zara si zebra, mengintip dari balik pagar kandang. "Kebun binatang ini bukan tempat untuk mimpi besar, lho."

Hana si kudanil menggelengkan kepalanya yang besar, air dari kolamnya berceceran. "Aku tunggu saja, Zara. Siapa tahu sesuatu datang."

Di kebun binatang yang ramai di pinggir kota, Hana hidup dalam rutinitas yang membosankan. Setiap pagi, pengunjung datang, melempar makanan, dan pergi. Hana, dengan kulit tebalnya yang berwarna abu-abu, merasa seperti patung hidup. Kandangnya luas, tapi hatinya sempit. Dia sering duduk di tepi kolam, memandang langit, membayangkan sungai-sungai liar di Afrika yang diceritakan ibunya dulu. Tapi realitas kebun binatang membuatnya pasrah. "Hidup ini seperti ruang tunggu," gumamnya sendirian. "Menunggu apa yang tak pernah datang."

Suatu hari, petugas kebun binatang membuka gerbang kandang Hana untuk perbaikan. "Kamu harus pindah sementara ke ruang tunggu," kata petugas itu. Ruang tunggu? Hana penasaran. Itu adalah gudang kecil di belakang kebun binatang, tempat hewan-hewan sementara ditempatkan saat kandang mereka direnovasi. Bukan tempat mewah, hanya ruangan gelap dengan tumpukan jerami, beberapa ember air, dan jendela kecil yang menghadap hutan buatan.

Hana melangkah masuk, tubuh besarnya hampir memenuhi pintu. "Ini ruang tunggu Hana sekarang," katanya pada dirinya sendiri. Di dalam, dia bertemu dengan hewan-hewan lain yang juga "menunggu". Ada Leo si singa tua yang kandangnya banjir, Mia si monyet yang nakal karena terlalu sering melompat pagar, dan Pico si burung beo yang suaranya serak karena terlalu banyak meniru pengunjung.

"Selamat datang di klub penunggu," sapa Leo dengan suara menggeram pelan. "Di sini, kita tunggu nasib baik atau buruk."

Mia melompat ke bahu Hana. "Tunggu apa? Aku mau keluar! Lihat, ada celah di dinding itu!"

Pico mengulang, "Celah di dinding! Celah di dinding!"

Hana tertawa kecil, sesuatu yang jarang dia lakukan. Ruang tunggu ini berbeda dari kandangnya. Tidak ada pengunjung yang menatap, tidak ada jadwal makan ketat. Hanya kebebasan kecil untuk bergerak, berbicara, dan... bermimpi. Malam pertama, Hana tak bisa tidur. Cahaya bulan menyusup lewat jendela, menerangi secarik kertas yang terselip di jerami. Itu catatan lama dari petugas: "Ingat, hal kecil yang mengubah segalanya."

Apa maksudnya?" gumam Hana. Dia ingat kata-kata itu. Hal kecil yang mengubah. Mungkin seperti biji yang tumbuh jadi pohon, atau tetes air yang mengikis batu.

Keesokan harinya, Mia mengajak Hana bermain. "Ayo, kita buat permainan! Kamu jadi sungai, aku lompat!"

Hana ragu. Tubuhnya besar, lambat. Tapi dia coba. Dia berbaring di jerami, berpura-pura jadi sungai yang mengalir. Mia melompat, Pico meniru suara air, Leo mengawasi sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, Hana merasa ringan. Permainan kecil itu membuatnya lupa rutinitas.

Lalu, Leo bercerita tentang savana. "Dulu, aku berlari bebas. Tapi di sini, aku belajar sabar. Hal kecil seperti angin pagi yang membuatku ingat rumah."

Hana mendengarkan, matanya berbinar. "Aku juga punya cerita. Di Afrika, kudanil seperti aku menjaga sungai. Tapi di sini, aku hanya menunggu."

Mia menyela, "Kenapa tunggu? Kita ubah ruang ini! Lihat, aku temukan biji apel dari sampah pengunjung."

Mereka menanam biji itu di sudut ruang tunggu. Hana menyiramnya dengan air dari embernya. Pico bernyanyi lagu aneh untuk "membantu tumbuh". Leo menggali tanah dengan cakarnya. Itu hal kecil, tapi setiap hari mereka periksa. Tunggul kecil muncul, daun hijau menyembul.

Sementara itu, di luar, kebun binatang berubah. Petugas mendengar suara tawa dari ruang tunggu. Mereka mengintip, melihat hewan-hewan yang biasanya diam jadi aktif. "Mereka seperti keluarga," kata salah satu petugas.

Hana mulai berubah. Kulitnya yang kusam tampak lebih cerah. Dia belajar dari teman-temannya: keberanian dari Mia, kebijaksanaan dari Leo, kegembiraan dari Pico. Suatu sore, saat hujan deras, air bocor dari atap. Hana menggunakan tubuh besarnya untuk menahan air, melindungi biji apel. "Ini hal kecil," katanya, "tapi bisa mengubah."

Hujan pun berhenti, kemudian pelangi muncul. Biji apel bertunas lebih cepat. Ruang tunggu tak lagi gelap; ada cahaya masuk, harum tanah basah memenuhi udara.

Akhirnya, kandang Hana selesai direnovasi. Petugas datang. "Waktunya pulang, Hana."

Tapi Hana tak mau. "Ruang tunggu ini rumahku sekarang. Di sini, aku belajar bahwa menunggu itu bukan pasrah, tapi mencipta."

Petugas terkejut. Mereka memutuskan membiarkan ruang tunggu jadi "zona bebas" untuk hewan-hewan. Hana dan teman-temannya boleh berkunjung kapan saja. Biji apel tumbuh jadi pohon kecil, buahnya dibagikan ke pengunjung. Kebun binatang jadi lebih hidup, pengunjung datang bukan hanya melihat, tapi belajar.

Hana kembali ke kandangnya, tapi hatinya bebas. Dia sering berkata pada hewan lain, "Ingat, hal kecil yang mengubah. Sebuah biji, sebuah tawa, sebuah cerita—bisa ubah dunia."

Dan begitulah, ruang tunggu Hana jadi legenda di kebun binatang. Bukan tempat menunggu nasib, tapi tempat mencipta perubahan. Hana, si kudanil biasa, jadi inspirasi: bahwa dalam rutinitas, hal kecil bisa jadi awal petualangan besar.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak