Film Mudborn: Boneka Tanah Liat yang Mengutuk dan Mengerikan!

Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Film Mudborn: Boneka Tanah Liat yang Mengutuk dan Mengerikan!
Poster film Mudborn (IMDb)

Mudborn, atau dikenal dengan judul asli Ni Wa Wa, adalah film horor supernatural asal Taiwan yang dirilis pada 2025. Disutradarai oleh Shieh Meng-ju, sutradara yang dikenal dengan pendekatan visualnya yang intens dalam genre thriller, film ini menandai kolaborasi pertamanya dengan elemen folklor Taiwan yang dikombinasikan dengan teknologi modern.

Dibintangi oleh Yo Yang (Yang Yo-ning) sebagai Xu Chuan, seorang desainer game VR, dan Cecilia Choi sebagai Mu Hua, istrinya yang sedang hamil dan bekerja sebagai restorasi artefak budaya.

Pemeran pendukung termasuk Derek Chang, Puff Kuo, dan Tracy Chou, yang menambah kedalaman pada dinamika keluarga dan mistis. Dengan durasi 111 menit, Mudborn menggabungkan genre horror, thriller, dan drama, menghadirkan cerita yang berakar pada mitos boneka tanah liat berhantu.

Penemuan Boneka Tanah Liat yang Berbahaya

Salah satu adegan di film Mudborn (instagram/mudborn2025)
Salah satu adegan di film Mudborn (instagram/mudborn2025)

Sinopsis film ini berpusat pada Xu Chuan, yang secara tidak sengaja membawa pulang boneka tanah liat rusak dari sebuah rumah berhantu saat mengembangkan game horor VR baru di perusahaannya. Boneka itu, yang tampak biasa saja pada awalnya, memicu obsesi aneh pada Mu Hua, yang berusaha memperbaikinya dengan keterampilan restorasinya.

Seiring waktu, kejadian-kejadian supranatural mulai mengganggu kehidupan rumah tangga mereka, termasuk gangguan psikologis pada Mu Hua yang semakin memburuk. Xu Chuan, putus asa, mencari bantuan dari seorang medium spiritual bernama A Sheng. Cerita ini mengungkap rahasia gelap di balik boneka tersebut, yang terhubung dengan elemen folklor Taiwan tentang roh-roh yang mendiami benda mati. Tanpa spoiler besar, plotnya membangun ketegangan melalui campuran antara dunia nyata dan virtual, di mana batas antara game dan kenyataan mulai kabur.

Dari segi narasi, Mudborn berhasil menyajikan cerita yang lambat tapi efektif di paruh pertama, membangun atmosfer mencekam melalui elemen-elemen sehari-hari yang berubah menjadi menyeramkan.

Shieh Meng-ju menggunakan teknik sinematografi yang cerdas, seperti pencahayaan redup di adegan rumah berhantu dan transisi antara realitas dan VR yang mulus. Tema utama film ini adalah ketakutan akan kehilangan keluarga, obsesi, dan konflik antara modernitas (teknologi game) dengan tradisi (ritus spiritual Taiwan).

Elemen Taoist, seperti jimat dan ritual pengusiran setan, menjadi highlight yang autentik, memberikan nuansa budaya yang kaya. Akan tetapi, plot di paruh kedua terasa agak klise, dengan beberapa plot hole yang muncul, seperti penjelasan mendadak tentang asal-usul roh jahat yang kurang mendalam. Ini mirip dengan film seperti Annabelle atau Insidious, tapi dengan sentuhan Asia yang lebih fokus pada psikologi karakter daripada jump scare murahan.

Review Film Mudborn

Salah satu adegan di film Mudborn (instagram/mudborn2025)
Salah satu adegan di film Mudborn (instagram/mudborn2025)

Akting menjadi salah satu kekuatan utama. Yo Yang tampil karismatik sebagai suami yang frustrasi, menunjukkan peralihan emosi dari skeptis menjadi penuh keputusasaan dengan natural.

Cecilia Choi mencuri perhatian sebagai Mu Hua, dengan performa yang intens saat menggambarkan obsesi dan kegilaan progresif—makeup efek possessed-nya sangat meyakinkan, meski CGI di beberapa bagian terasa murahan.

Pemeran pendukung seperti Derek Chang sebagai medium memberikan komik relief yang pas tanpa mengganggu nada horor. Skor musik, meski sederhana, efektif dalam membangun suspense, dengan penggunaan lagu anak-anak Taiwan yang diubah menjadi menyeramkan—sebuah trik klasik tapi dieksekusi dengan baik.

Secara visual, film ini unggul dalam desain produksi, terutama rekreasi rumah berhantu yang terasa autentik dengan detail artefak budaya. Efek spesial, seperti transformasi boneka, cukup baik untuk standar film independen Taiwan, tapi pencahayaan di adegan malam kadang terlalu gelap, membuat beberapa momen sulit dipahami.

Rating IMDb saat ini 7.1/10 dari 103 ulasan pengguna, menunjukkan penerimaan positif, meski beberapa kritik menyebutnya sebagai "ghost-hunting ala sekolah menengah" dengan kurangnya kedalaman karakter—ayah digambarkan terlalu sempurna, ibu terlalu maternal tanpa lapisan emosional lebih dalam.

Ceritanya dan elemennya Taoist tapi kritikku soal visualnya karena isu pencahayaan dan paruh pertama efektif dengan klise yang well-lampshaded, tapi akhir overdone dengan ritual yang bertele-tele. Kelemahan lain adalah kurangnya rasa horor folk Taiwan asli, lebih mirip fantasi Cina daripada horor lokal.

Secara keseluruhan, Mudborn adalah tambahan solid untuk genre horor Asia, terutama bagi penggemar cerita possession dengan twist budaya. Ini bukan masterpiece seperti The Medium atau Incantation, tapi berhasil menghibur dengan ketegangan psikologis dan elemen supernatural yang relatable.

Rating dariku: 7/10—layak ditonton untuk atmosfirnya, meski bisa lebih inovatif. Film ini sukses di Taiwan, meraup 2.56 juta dolar AS dan menjadi film lokal terlaris ketiga tahun 2025, mengalahkan Lovesick. Trivia menarik: Cerita terinspirasi dari mitos boneka berhantu dalam budaya Taiwan, dan ada adegan post-credit yang menggoda sekuel.

Untuk penonton Indonesia, Mudborn tayang di bioskop mulai 30 Januari 2026, dengan rating 17+ di beberapa jaringan seperti CGV. Ini adalah kesempatan bagus untuk merasakan horor Taiwan yang segar, terutama kalau kamu suka campuran teknologi dan mistis. Pastikan menonton di layar lebar untuk maksimalkan efek visualnya ya, Sobat Yoursay!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak