Aku menatap langit-langit kamar kosku yang lapuk, di kota yang jaraknya tiga ratus kilometer dari rumah. Di sini, sunyi itu berbeda. Sunyi di rumah terasa berat, seolah-olah udara sendiri menuntut sesuatu dariku. Sunyi di sini terasa lega, sesaat, sebelum segalanya datang lagi.
Telepon di tanganku bergetar. Foto profil Ayah dan Ibu yang sedang tersenyum terlihat di layar. Itu gambar dari lima tahun lalu, saat senyumku masih bisa lepas. Jari-jariku membeku. Aku tahu apa yang akan terjadi: laporan nilai semester, pertanyaan tentang kapan ikut ujian CPNS, atau desahan halus saat aku bercerita soal klub menulis yang baru kujalani. "Itu bisa jadi uang tidak, Nak?" Biasanya, Ibu bertanya seperti itu.
Aku anak pertama. Anak perempuan pertama. Gelar itu seperti mahkota dari duri. Sejak kecil, aku adalah kanvas tempat mereka melukis impian yang tertunda. Ayah, yang dulu putus sekolah, matanya selalu berbinar saat berkata, "Kamu harus jadi orang sukses agar tidak susah seperti kami." Ibu, dengan lelahnya yang tidak pernah diungkap, selalu berbisik, "Ibu percaya kepadamu."
Namun, yang kudengar adalah: "Jangan gagal," "Jangan mengecewakan," "Keluargamu mengandalkanmu."
Ketakutan itu seperti kabut tebal. Takut gagal ujian, takut tidak mendapat pekerjaan bergengsi, takut dipandang sebelah mata oleh keluarga besar, serta takut melihat wajah mereka yang kecewa. Terutama, takut karena cinta mereka terasa bersyarat: kami mencintaimu jika kau bisa membawa kebanggaan, jika kau bisa mengangkat derajat keluarga.
Di kota ini, aku bisa bernapas. Aku bisa makan mi instan tanpa merasa bersalah karena tidak makan di rumah. Aku bisa mendapat nilai B tanpa diinterogasi tujuh turunan. Aku bisa menangis karena rindu, bukan karena tekanan. Hal itu membuatku semakin bersalah. Mengapa justru saat jauh dari mereka, aku merasa lebih menjadi diri sendiri?
Puncaknya terjadi bulan lalu. Aku gagal di salah satu tes magang yang mereka impikan. Saat menelepon, suaraku serak. Ibu diam lama, lalu berkata, "Ya sudah, mungkin belum rezeki. Namun, coba lagi yang lain, ya? Ibu dan Ayah tunggu kabar baik."
Tunggu kabar baik. Kalimat itu menghantamku. Seolah-olah kabar buruk tidak punya ruang di keluarga kami. Aku mematikan telepon dan membiarkan diri terlarut dalam kesendirian yang getir. Aku marah. Marah pada ketidakadilan. Mengapa adik-adikku tidak dibebani segunung ekspektasi ini? Mengapa aku yang harus menjadi penyelamat?
Kemarahan itu membara sampai suatu sore yang hujan.
Aku iseng membuka galeri foto lama di ponsel. Terpampang foto Ibu saat masih muda, tersenyum memelukku yang masih bayi. Matanya sama seperti mataku, penuh cahaya. Lalu, ada foto Ayah menggendongku di pundak, dengan topi kuliahnya yang lusuh tergeletak di bangku. Mereka terlihat lelah, namun bahagia.
Tiba-tiba, seperti tersambar petir di siang bolong, sebuah ingatan muncul. Saat aku berusia tujuh tahun dan demam tinggi, Ayah yang biasa tegar terlihat panik. Ia berlari mencari obat tengah malam dengan jas hujan sobek. Ibu tidak tidur semalaman; kompres di dahiku tidak pernah kering. Mereka berbisik, "Asalkan kamu sehat, Nak. Itu sudah cukup."
Kapan kata "cukup" itu berubah menjadi "lebih"?
Aku menggulir layar lebih jauh. Foto-foto rumah kami yang sederhana; plafon yang bocor jika hujan; motor Ayah yang sudah tua. Ibu pun jarang membeli baju baru. Namun, di setiap fotoku pada acara sekolah, seragamku selalu paling rapi dan bukuku selalu terbeli.
Mereka memberikan semua yang mereka bisa, bahkan yang tidak mereka punya.
Dan aku? Aku lari. Aku menikmati kelegaan di perantauan, sementara mereka menunggu di rumah yang sama dengan harapan yang sama, serta telepon yang jarang berdering dari pihakku. Ibu selalu menelepon duluan. Suaranya selalu bertanya, "Sudah makan?" bukan "Sudah dapat nilai bagus?"
Air mataku menetes. Ini bukan tentang mereka yang tidak adil. Ini tentang dua manusia yang tersesat dalam cara mencintai. Mereka yakin, dengan mendorongku dengan keras, aku akan sampai ke tempat yang aman, tempat yang tidak bisa mereka jangkau. Rasa takut mereka akan kemiskinan, cibiran, dan masa depan anaknya, mereka ubah menjadi tuntutan. Mereka bukan tidak melihat lukaku, mereka hanya berpikir itu adalah rasa sakit yang diperlukan untuk pertumbuhan.
Dan mereka juga terluka. Setiap kali aku menjawab dengan singkat atau setiap kali aku pulang dengan mata yang menghindar. Mereka pasti bertanya di kamar mereka, "Apa yang salah dengan cara kita?"
Mereka juga manusia. Mereka belajar menjadi orang tua dari pengalaman menjadi anak yang mungkin juga kurang disayang. Mereka berjuang dengan caranya sendiri.
Esok harinya, untuk pertama kalinya, aku menelepon Ibu tanpa alasan khusus. Bukan untuk melapor nilai, bukan pula untuk meminta uang.
"Ibu," suaraku agak gemetar. "Aku hanya mau mendengar suara Ibu saja."
Diam sejenak. Lalu, kudengar suara terisak di seberang.
"Anak Ibu..." katanya lembut. "Ibu juga sedang kangen."
Kami bicara lama. Tentang bunga di pot depan rumah yang layu, tentang masakan Ibu yang selalu keasinan, serta tentang Ayah yang mulai sering pegal. Aku bercerita tentang puisi yang kunantikan di majalah kampus dan tentang teman kos yang lucu. Tidak ada tuntutan. Hanya berbagi.
Sejak itu, sesuatu berubah. Aku mulai melihat dengan mata yang berbeda. Telepon mereka yang dulu terasa seperti pemeriksaan, kini kulihat sebagai usaha untuk terhubung. Pertanyaan tentang pekerjaan adalah kegelisahan mereka akan keamananku, bukan alat ukur nilai diriku.
Aku belajar mencintai mereka bukan sebagai orang tua yang sempurna, melainkan sebagai manusia yang rapuh dan sangat mencintaiku. Aku mulai mengirim pesan singkat, "Apakah Ayah sudah minum obat?" atau "Fotoin kucing tetangga dong, Ibu."
Pelan-pelan, lukaku tidak pergi, tetapi mulai sembuh dengan pengertian. Aku tidak serta-merta bebas dari kecemasan. Namun, kini kecemasan itu tidak lagi sendiri. Ada kesadaran bahwa perjuangan mereka adalah latar belakang dari tekanan itu. Cinta mereka nyata, hanya terbungkus dalam kegelisahan dan ketidaktahuan.
Aku tetap ingin sukses. Namun, kini definisi sukses itu sedikit bergeser. Bukan lagi sekadar tentang gaji besar atau jabatan tinggi, melainkan tentang bisa menjadi pelabuhan yang tenang bagi mereka yang sudah lama berlayar dalam kelelahan; tentang bisa membalas cinta yang berantakan itu dengan pengertian.
Malam ini, langit-langit kamar kos yang sama kutatap lagi. Namun kali ini, sebelum tidur, aku mengirim pesan: "Ibu, Ayah, terima kasih sudah berusaha menjadi yang terbaik untukku. Aku juga akan berusaha. Kita belajar sama-sama, ya."
Balasannya datang cepat dari Ayah yang jarang membalas pesan: "Kami bangga padamu, Nak. Selalu."
Dan untuk pertama kalinya, dalam sunyi yang lega di perantauan, aku merasa tidak sendiri. Aku merasa dipeluk dari jauh. Cinta itu akhirnya menemukan bahasanya sendiri, bahasa yang mulai kami ucapkan: satu kata maaf, satu kata terima kasih, dalam satu waktu.