"Jangan suka memendam segalanya sendirian. Karena suatu saat bisa meledak”, Sari menutup mulutnya sebelum menyesap kopi hitam manis favoritnya. “Manusia apa bom waktu sih?”
Friska tertawa geli. “Kamu keseringan baca quotes motivasi di internet.”
“Katanya begini kok.”
Mereka berdua kemudian tertawa. Friska lantas menatap ke arah cermin buram di pintu lemari kayu lawas, dan mendapati hanya dia sendirian di dalam ruangan ini. Senyumnya perlahan lenyap, dan setetes air mata menetes.
“Entah apa,” gumamnya kecewa.
Di suatu malam yang cerah, Friska dan keluarganya sedang menikmati molen mini goreng aneka isian. Ada isian nanas, ubi ungu, pisang, ketan hitam, cokelat, hingga kacang hijau yang dibeli Enrico di dekat SMP Negeri.
Percakapan hangat pun mengalir ringan. Tentang keluh kesah Enrico di bengkel tempat dia bekerja, Erky dengan kawan-kawan randomnya, atau Friska yang menghadapi customer-customer absurd. Pun kisah-kisah horor yang disampaikan ibu tentang entitas-entitas ghaib yang kerap nongol. Semuanya dikemas dalam momentum kebersamaan keluarga.
“Dulu, ada satu poin di hasil psikotes-ku yang unik. Jangan suka memendam segalanya sendrian. Karena suatu saat bisa meledak.” Friska kemudian meneguk air minum. “Apaan coba?”
Ibu dan Bapak berpandangan sejenak. Kemudian beralih memandang Enrico dan Erky yang sibuk bermain game online bersama teman di teras rumah.
“Nggak nyambung banget,” tutur Friska.
“Kamu memang pernah meledak, Fris,” kata Ibu. “Kamu sudah pernah meledak.”
“Kapan? Aku nggak ngamuk-ngamuk kok. Meledak gimana?”
“Kamu memang bukan tipe yang ledakannya dengan mengamuk, tapi cenderung diam dan menyakiti diri sendiri,” ucap ibu pelan.
Di satu sisi, Bapak justru tersenyum simpul. “Nggak apa-apa. Sekarang harus lebih kuat lagi ya.”
Friska tertawa keras, terbahak-bahak. Beberapa kali Enrico menegur kakaknya karena tertawa seperti bapak-bapak. Namun, entahlah. Friska memang seperti diliputi euforia. Atau mungkin merasa lucu saat teka-teki anehnya berhasil dipecahkan.
Ingatan Friska kemudian melayang pada masa sekolah. Masa-masa penuh ambisi, dan retakan-retakan kaca. Dia mengingat bagaimana para siswa memanggilnya Biksu Tong selama SMA.
“Tong, nyontek PR Matematikamu ya.”
“Tong, minta hotspot!”
“Tong, jadi kelompokku saja ya. Aku belum ada kelompok.”
Friska dipanggil Biksu Tong karena fisiknya yang gendut, dan style rambut panjangnya yang selalu dikepang tunggal tanpa poni. Lalu, disusul dengan rumor Friska yang merebut Adrian dari Natasha.
“Goblok memang,” kenang Friska. “Siapa yang ngerebut coba?!”
Mungkin karena Adrian dan Friska pernah dekat sebagai sahabat. Dan mereka kerap berbagi cerita random hingga absurd, dan kerap disalahpahami sebagai pacar saking dekatnya. Lalu kemudian, mereka berdua berjalan di jalur masing-masing. Friska dengan keseharian menulis cerita di platform online, dan Adrian yang tampak lengket dengan Natasha.
Meski tampak diam dan tenang, semua orang tahu nilai-nilai sekolah Friska turun drastis. Dan saat saringan masuk universitas, Friska gagal di jalur undangan maupun ujian. Sejak saat itu, dia sering hilang dalam pikiran.
Dan ditutup dengan menggunduli kepala. Rambutnya dicukur habis, menyisakan satu senti di kepala, dari panjang seluruhnya yang menyentuh lutut.
“Punya rambut panjang itu menghabiskan sampo, lho!” kata Friska cuek ketika televisi menyajikan tayangan edukasi bertema kesehatan rambut di suatu waktu. “Enak juga botak. Nggak banyak sampo, cepet kering, ringan di kepala.”
Bapak tertawa. “Ya sana, cukur botak.”
“Lho boleh ya? Aku ada gunting kecil di tas,” sambut Friska bahagia.
Bapak tampak panik. “Heh, jangan. Jangan dibotaki. Sudah cukup waktu itu saja.”
Friska tertawa senang. Rasanya menang. Ternyata memegang kendali itu seru juga.
Namun, siapa yang tahu. Sisa-sisa luka dan kecewa itu masih ada. Mungkin bukan hanya pada Adrian atau Natasha semata, atau hal-hal lain di masa selepas SMA, melainkan sisa-sisa luka masa kecil yang terus berpolah tingkah tanpa diminta dalam kepalanya.
Kadang, ingatannya kembali ke dua dekade lepas. Dimana sang kakek melontarkan umpatan dan kalimat pengusiran terhadap ibu. Tepat di depan mata kepalanya sendiri.
“Toh, dia sudah membusuk di kuburnya,” pungkasnya setiap kali memori busuk itu kembali.
Friska kerap menangis sendirian di depan cermin, kemudian tertawa lega. Dia hobi menyendiri ketika ingin mengobati lara dalam hatinya. Atau sekedar ngobrol hal random dan memasak kudapan bersama sang ibu.
Nggak jarang, Friska meluapkan emosinya dengan bekerja nonstop. Alih-alih mengambil waktu istirahat, dia gas melakukan kesibukan berulang di toko Cik Zhao Fei. Berkali-kali mengelap kaca, menyapu, menata barang yang sudah rapi. Pokoknya, dia harus ada pelampiasan agar luka itu tidak merembeskan darah.
“Jangan suka memendam segalanya sendirian. Karena suatu saat bisa meledak”, kata Sari di suatu hari.
Friska tertawa geli. “Kamu keseringan baca quotes motivasi di internet.”
Sari memberengut. “Hidup itu yang boombayah gitu lho. Hidupmu kok isinya bom waktu!”
"Daripada bom atom?" Friska tertawa geli. Kemudian menatap seorang perempuan yang tersenyum simpul pada cermin di depannya. “Kita harus bisa lebih teguh lagi.”
Dan Sari mengangguk setuju. Matanya adalah mata Friska, yang kini mulai menyala binarnya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS