WIB: Waktu Indonesia Bercanda

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
WIB: Waktu Indonesia Bercanda
Ilustrasi gambar cerpen WIB: Waktu Indonesia Bercanda (Gemini AI/Nano Banana)

"Koko, lihat itu orang-orang itu berjalan seperti jarum jam yang dipaksa berputar terus. Lelah sekali aku melihatnya," kata Kiki sambil menyandarkan punggung di tiang lampu trotoar Thamrin yang sudah usang.

Koko, yang berdiri persis di sebelahnya dengan postur yang sama, menyeringai. "Makanya kita dirikan komunitas pantomim ini, Ki. Biar WIB bukan cuma Waktu Indonesia Barat, tetapi Waktu Indonesia Bercanda. Hari ini kita bikin mereka berhenti. Benar-benar berhenti."

Mereka berdua adalah kembar identik: rambut acak-acakan, kaus hitam polos yang sudah pudar, dan celana kargo yang penuh kantong untuk menyimpan barang-barang aneh, seperti sarung tangan putih, topi koboi miniatur, dan sebuah jam beker antik yang jarumnya sengaja mereka bengkokkan. Komunitas pantomim yang mereka dirikan dua tahun lalu hanya punya sepuluh anggota tetap, tetapi hari ini mereka berdua saja yang turun ke lapangan. Yang lain sibuk ujian atau terjebak rapat Zoom.

Jakarta sore itu seperti biasa: klakson saling ejek, asap knalpot menari-nari, dan orang-orang berjalan dengan mata tertuju ke layar ponsel. Tidak ada yang benar-benar melihat sekitar. Koko dan Kiki menganggap itu dosa besar.

Mereka mulai bergerak bersamaan tanpa kata. Gerakan mereka selalu sinkron sempurna, hasil bertahun-tahun latihan di kamar kos mereka yang sempit di Tebet. Koko mengangkat tangan kanan perlahan seolah menarik benang tak kasat mata. Kiki mengikuti dengan tepat, tetapi sedikit terlambat sepersekian detik sehingga menciptakan ilusi gema. Orang pertama yang berhenti adalah seorang ibu kantoran yang hampir menabrak mereka.

Koko pura-pura memegang dinding tak terlihat. Kiki mendorong dinding yang sama dari arah berlawanan. Wajah mereka tegang seolah-olah benar-benar sedang menahan sesuatu yang berat. Ibu itu mengerutkan kening, lalu tersenyum kecil. Beberapa orang di belakangnya ikut berhenti. Ponsel mulai diangkat.

"Wah, pantomim kembar," gumam seseorang.

Koko dan Kiki tidak menjawab. Mereka tidak pernah bicara saat beraksi. Itu aturan komunitas: tubuh bicara, mulut diam. Mereka mulai memutar waktu. Koko berjalan mundur dengan gerakan robotik yang kaku. Kiki mengikuti, tetapi berjalan maju. Efeknya aneh, seperti dua orang yang berjalan di dua arah waktu yang berbeda. Lalu mereka bertukar tempat dengan gerakan cepat yang hampir tidak terlihat, seolah bertukar jiwa dalam sekejap.

Kerumunan bertambah. Seorang pengemudi ojek online yang tadinya buru-buru mengantarkan pesanan ikut berhenti. Seorang wiraniaga yang membawa map tebal tertawa pelan saat Koko pura-pura "mencuri" jam tangannya dan menggantinya dengan jam beker bengkok yang mereka bawa.

Itulah inti permainan mereka: mencuri waktu orang, lalu mengembalikannya dalam bentuk yang konyol.

Tiba-tiba Koko berhenti. Matanya bertemu dengan Kiki. Tanpa suara, mereka sepakat. Ini saatnya gerakan spesial yang belum pernah mereka lakukan di depan umum, gerakan yang mereka namai "WIB Loop".

Mereka berdiri saling berhadapan hanya berjarak satu meter, lalu mulai menirukan gerakan orang-orang di sekitar mereka. Koko menirukan ibu kantoran tadi yang memegang tas sambil melihat jam. Kiki menirukan pengemudi ojek yang mengusap keringat. Gerakan itu disinkronkan sempurna, tetapi dengan sedikit distorsi: tangan yang seharusnya memegang tas jadi memegang udara, keringat yang diusap jadi air mata yang dibuat-buat. Efeknya seperti cermin rusak yang sedang mengolok-olok pemiliknya.

Kerumunan mulai tertawa. Bukan tawa sopan, melainkan tawa yang meledak-ledak. Seorang bapak berjas langsung duduk di trotoar sambil memegang perut. Seorang gadis remaja merekam sambil terbahak-bahak sampai air mata keluar.

Namun, hal aneh terjadi kemudian.

Jam besar digital di gedung perkantoran di depan mereka tiba-tiba berkedip. Angka 17.42 berubah menjadi 17.24, lalu 17.55, lalu mundur lagi ke 17.38. Orang-orang mulai memperhatikan. Beberapa mengucek mata. Seorang pria memeriksa arlojinya sendiri dan mengumpat pelan, "Kok mundur, sih?"

Koko dan Kiki tidak berhenti. Mereka terus memutar "loop" itu. Semakin lama, semakin banyak orang yang ikut bergerak tanpa sadar, menirukan gerakan konyol yang sedang mereka peragakan. Seorang satpam yang tadinya marah-marah karena jalanan mulai macet malah ikut pura-pura berjalan seperti robot. Ibu kantoran tadi sekarang memegang tasnya dengan dua tangan sambil berjingkrak-jingkrak kecil.

Waktu terasa melambat.

Bukan secara harfiah, melainkan persepsi semua orang berubah. Klakson yang tadinya memekakkan telinga terdengar jauh. Asap knalpot seolah berhenti mengambang. Jakarta yang biasanya terasa seperti mesin raksasa yang tidak pernah tidur, tiba-tiba seperti anak kecil yang sedang iseng.

Kiki memberi isyarat kecil dengan jari kelingking, kode mereka untuk mengakhiri. Koko mengangguk. Mereka berdua membungkuk dalam-dalam, lalu dengan gerakan cepat menghilang ke gang kecil di belakang gedung. Kerumunan masih tertawa, masih bingung, dan masih memeriksa jam mereka yang anehnya kembali normal.

Di gang itu, Koko dan Kiki bersandar di dinding dengan napas tersengal, tetapi tersenyum lebar.

"Gila, Ki," kata Koko. "Tadi beneran kayak waktu ikut main sama kita."

Kiki mengeluarkan jam beker bengkok dari kantong. Jarumnya yang tadinya rusak sekarang lurus sempurna. "Mungkin kita memang berhasil mencuri waktu. Sedikit. Cukup untuk membuat mereka ingat kalau hidup tidak harus selalu tepat waktu."

Mereka berdua tertawa pelan. Di kejauhan, suara kerumunan masih terdengar, tawa yang tidak kunjung reda. Besok pasti ada video di TikTok, komentar-komentar "kembar gila", "pantomim terbaik", dan mungkin juga "ini sihir apa prank?".

Namun bagi Koko dan Kiki, itu bukan yang terpenting.

Yang penting adalah sebentar tadi, di tengah kota yang selalu buru-buru, ada sekelompok orang yang berhenti. Benar-benar berhenti. Dan dalam keheningan itu, mereka tertawa bersama.

Koko menepuk bahu saudaranya. "Besok kita ajak yang lain. Kita bikin WIB Loop lebih besar. Monas, mungkin."

Kiki mengangguk. "Atau di dalam MRT. Bayangin, semua penumpang ikut pantomim bareng."

Mereka berjalan keluar dari gang, kembali ke keramaian yang sudah mulai normal lagi. Namun sesekali, ada yang masih tersenyum sendiri. Seorang pengemudi ojek menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. Ibu kantoran tadi berjalan lebih pelan seolah takut kehilangan momen yang baru saja ia rasakan.

Di langit Jakarta yang mulai gelap, lampu-lampu kota menyala satu per satu. WIB tetap berjalan seperti biasa, tetapi bagi mereka yang sempat ikut dalam lingkaran kecil dua pemuda kembar itu, waktu terasa sedikit lebih ringan.

Sedikit lebih nakal.

Sedikit lebih manusiawi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak