Perempuan dan Anak-anaknya merupakan kumpulan cerpen yang salah satunya ditulis oleh Gerson Poyk dan terbit pertama kali di majalah sastra pada periode 1966–1970, lalu dibukukan kembali oleh KPG.
Buku ini merekam suasana Indonesia pasca peristiwa 30 September 1965, sebuah periode kelam yang menyisakan trauma, kekerasan, dan luka sosial yang dalam.
Melalui tokoh-tokoh perempuan, anak-anak, dan orang-orang biasa, cerita-cerita dalam buku ini menghadirkan potret kehidupan yang terguncang oleh situasi politik dan sosial.
ereka bukan tokoh besar dalam sejarah, melainkan manusia sehari-hari yang harus menanggung akibat dari kekerasan struktural, fitnah, penangkapan, kehilangan anggota keluarga, hingga rasa bersalah yang tak pernah selesai.
Dalam beberapa cerita, pembaca diajak mengikuti sudut pandang korban, keluarga korban, bahkan mereka yang berada di sisi pelaku.
Hal ini membuat buku ini terasa kompleks dan tidak hitam-putih.
Tragedi tidak hanya ditampilkan sebagai peristiwa besar, tetapi sebagai pengalaman personal yang menghancurkan kehidupan rumah tangga, relasi orang tua dan anak, serta rasa aman dalam masyarakat.
Keunikan utama Perempuan dan Anak-anaknya terletak pada keberaniannya mengangkat trauma sejarah dari perspektif kemanusiaan.
Alih-alih berfokus pada politik tingkat tinggi, cerpen-cerpen ini justru menyoroti dampaknya pada perempuan dan anak-anak—kelompok yang sering kali menjadi korban paling sunyi dalam konflik sosial dan politik.
Gerson Poyk dan para penulis lain dalam antologi ini menghadirkan suara-suara yang jarang terdengar, ibu yang kehilangan, anak yang tumbuh dalam ketakutan, serta individu yang hidup dalam bayang-bayang masa lalu.
Keunikan lainnya adalah sudut pandang yang beragam, termasuk dari mereka yang terjebak di posisi abu-abu, sehingga pembaca diajak memahami betapa rumitnya situasi pada masa itu.
Selain itu, buku ini juga unik karena tidak hanya berfungsi sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai dokumen sosial dan sejarah.
Ia menjadi semacam jendela untuk melihat bagaimana tragedi nasional merembes ke ruang-ruang paling personal: rumah, keluarga, dan relasi antarmanusia.
Gaya bahasa Gerson Poyk dalam cerpen-cerpen yang termuat cenderung lugas, realistis, dan terkadang getir. Tidak banyak romantisasi penderitaan.
Kalimat-kalimatnya sering terasa dingin, sederhana, namun justru karena itu terasa lebih menghantam. Kekerasan, ketakutan, dan kesedihan tidak selalu digambarkan secara eksplisit, tetapi hadir melalui suasana, dialog, dan ingatan tokoh-tokohnya.
Bahasa yang digunakan juga mencerminkan zamannya, dengan narasi yang kuat dalam menggambarkan situasi sosial dan psikologis.
Gaya ini membuat cerita terasa seperti kesaksian, bukan sekadar fiksi, sehingga pembaca seolah diajak menyaksikan langsung luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.
Pesan utama dalam Perempuan dan Anak-anaknya adalah pentingnya mengingat dan memahami sejarah dari sisi kemanusiaan.
Buku ini mengajak pembaca untuk tidak hanya melihat angka dan peristiwa, tetapi juga wajah-wajah manusia di balik tragedi.
Novel ini menegaskan bahwa kekerasan politik tidak pernah berhenti pada pelaku dan korban langsung, tetapi juga diwariskan pada keluarga, terutama perempuan dan anak-anak.
Trauma menjadi sesuatu yang turun-temurun, memengaruhi cara seseorang mencintai, mempercayai, dan memandang masa depan.
Selain itu, buku ini juga menyuarakan nilai empati dan kemanusiaan.
Dengan menghadirkan berbagai sudut pandang, pembaca diajak untuk lebih berhati-hati dalam menghakimi, serta lebih peka terhadap luka-luka sosial yang mungkin masih membekas hingga hari ini.
Pada akhirnya, Perempuan dan Anak-anaknya bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar agar tragedi serupa tidak terulang kembali.
Potret getir perempuan dan anak-anak dalam bayang-bayang tragedi sejarah, yang mengingatkan kita pada pentingnya empati dan kemanusiaan.