Maya dan Niat Sedekah yang Salah

Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Maya dan Niat Sedekah yang Salah
Ilustrasi Cerpen Niat Sedekah Maya Untuk Allah atau Popularitas (Gemini AI)

Langit Ramadan sore itu berwarna jingga pucat. Angin tipis berembus membawa aroma kue dan es buah dari ujung gang. Maya berdiri di depan tumpukan paket sembako yang sudah ia susun rapi beras lima kilogram, minyak goreng, gula, dan beberapa mi instan.

Ia mengenakan rompi coklat tua yang bertuliskan Gerakan Berbagi Ramadan komunitas kecil yang ia bentuk bersama teman-teman kuliahnya. Di tangannya, bukan hanya daftar penerima bantuan. Ada juga ponsel dengan baterai penuh yang siap mendokumentasikan segala bentuk amal yang dia lakukan.

“Jangan lupa nanti senyum, ya, Bu,” ucapnya pada seorang ibu yang sudah mengantre.

“Biar kelihatan semangat Ramadan-nya.”

Ia mengangkat ponsel, mengambil beberapa foto, lalu tersenyum puas. Dalam hitungan menit, unggahan itu muncul di media sosialnya. Ia juga menuliskan caption yang menggiring seperti

“Alhamdulillah, hari ke-12 Ramadan. Masih diberi kesempatan berbagi. Semoga menginspirasi lebih banyak orang untuk peduli terhadap sesama lagi.”

Notifikasi berdenting nyaris tanpa henti. Puluhan komentar memuji. “MasyaAllah, keren banget, Kak Maya!” “Semoga jadi pemudi teladan!” “Inilah dakwah dengan aksi!” dan pujian-pujian lain yang membuat dirinya melayang tinggi, senang dan puas.

Maya membaca semuanya dengan dada mengembang. Ia merasa sedang melakukan sesuatu yang besar. Bukankah berbagi itu ibadah? Bukankah menyebarkan kebaikan juga termasuk bagian dari dakwah?

Setiap sore selama Ramadan, kegiatan itu rutin dilakukan. Ia berkeliling kampung-kampung sempit, mendatangi rumah-rumah reyot, lalu membagikan paket sembako. Dan setiap kali membagikannya, tak lupa ia selalu ada foto tangan yang menerima, wajah yang menunduk, anak kecil yang memeluk beras.

Ia menyebutnya dokumentasi dan orang-orang menyebutnya inspirasi bagi anak muda zaman sekarang.

Sore itu dengan suasana yang cerah dan indah, ia mendatangi lagi sebuah rumah kecil di ujung kampung yang jarang ia kunjungi. Dindingnya setengah papan, setengah bata tak diplester. Seorang lelaki tua duduk di bangku kayu, mengenakan sarung lusuh dan peci hitam yang warnanya telah pudar.

“Assalamu’alaikum, Pak,” sapa Maya ceria.

“Kami dari Gerakan Berbagi Ramadan. Ini ada sedikit bantuan sembako untuk Bapak dan keluarga.” tambahnya dengan tersenyum kecil.

Lelaki itu mengangkat wajahnya. Matanya cekung, tapi tatapannya tenang.

“Wa’alaikumussalam,” jawabnya pelan.

Maya menyerahkan paket itu. Seperti biasa, tangannya sudah siap mengangkat ponsel.

“Boleh, Pak, kita foto sebentar? Buat laporan kegiatan.” ujar Maya sambil mengeluarkan handphone-nya.

Lelaki tua itu memandang ponsel di tangan Maya, lalu kembali menatapnya. Ada jeda yang tak biasa. Tak seperti penerima lain yang canggung tapi akhirnya menurut.

“Maaf, saya tidak mau di foto” ucap lelaki itu lirih, hampir seperti berbisik.

Maya terdiam. “Oh, tapi ini hanya sebentar saja, Pak. Buat dokumentasi. Biar yang lain juga tergerak untuk membantu sesama.”

Lelaki itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak marah, tapi juga tidak tunduk.

“Saya butuh berasnya, Nak. Bukan belas kasihannya. Jika begitu, lebih baik saya tidak menerima beras daripada saya harus menanggung malu dan dikasihani banyak orang. Saya masih sehat untuk menghidupi keluarga.” katanya yang tegas dan pelan.

Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam dada Maya.

Angin sore tiba-tiba terasa lebih dingin. Suara anak-anak yang bermain di kejauhan seolah menjauh. Maya masih memegang ponselnya, tapi tangannya terasa berat.

“Saya tidak ingin wajah saya jadi tontonan, cukup Allah yang tahu saya menerima. Dan Allah yang tahu kamu memberi.” Lanjutnya yang langsung membuat Maya tertegun tak bisa berkata apa-apa.

Tak ada nada menyalahkan. Hanya ketegasan yang lembut.

Maya perlahan menurunkan ponselnya. Untuk pertama kalinya sejak Ramadan dimulai, ia tak tahu harus berkata apa.

“Iya, Pak. Mohon maaf sebelumnya.” Jawab Maya akhirnya

Ia pamit lebih cepat dari biasanya. Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak membuka media sosial. Kalimat itu terus terngiang ‘Saya butuh berasnya, bukan belas kasihannya.’

Malamnya, saat tarawih, imam membaca ayat tentang orang-orang yang bersedekah dengan mengungkit-ungkit pemberiannya. Maya menunduk lebih dalam. Ia merasa setiap kata seperti diarahkan padanya.

Apakah ia mengungkit-ungkit? Ia tidak pernah menyebut nama penerima. Ia tidak pernah menulis kalimat merendahkan. Tapi bukankah wajah-wajah itu tetap ia tampilkan? Bukankah ia menikmati pujian yang datang sesudahnya?

Di sela doa, dadanya terasa sesak. Keesokan harinya, Maya tetap membagikan sembako. Tapi kali ini, ponselnya ia simpan di tas. Ia menyerahkan paket dengan dua tangan, menatap mata penerima, dan mengucapkan doa singkat.

Tak ada foto.

Tak ada unggahan.

Sore itu terasa berbeda. Lebih sunyi. Tidak ada notifikasi yang berdenting. Tidak ada komentar yang membanjiri layar. Anehnya, ia merasa lebih ringan.

Beberapa hari kemudian, salah satu temannya bertanya, “May, kok sekarang nggak pernah posting lagi? Biasanya kan rutin dan gak pernah lupa dengan isi media sosialmu.”

Maya tersenyum kecil. “Lagi pengen coba yang lain.”

“Hah? Kamu enggak takut donatur berkurang?”

Pertanyaan itu sempat membuatnya ragu. Selama ini, unggahan-unggahannya memang membuat banyak orang tertarik menyumbang. Apakah tanpa foto, bantuan akan berhenti?

Namun malam sebelumnya, ia menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal. Pesan singkat itu berisi “Terima kasih sudah membantu ayah saya tanpa memotretnya. Beliau cerita dengan mata berkaca-kaca. Katanya, baru kali ini merasa dihargai sepenuhnya.”

Maya membaca pesan itu berulang-ulang. Tidak ada emoji, tidak ada pujian besar. Hanya kalimat sederhana. Ia sadar, mungkin selama ini ia terlalu sibuk membangun citra kebaikan, sampai lupa menjaga harga diri orang yang ia bantu.

Ramadan hampir berakhir ketika ia kembali ke rumah lelaki tua itu. Kali ini tanpa rompi komunitas, tanpa kamera, hanya membawa sekantong kecil kurma.

“Assalamu’alaikum, Pak.”

“Wa’alaikumussalam, Nak,” jawab lelaki itu, tersenyum mengenalinya.

Maya duduk di bangku kayu yang sama. Mereka berbincang ringan tentang puasa, tentang masa muda, tentang hidup yang naik turun.

“Saya dulu juga pernah merasa paling benar, sampai Allah menguji saya dengan kehilangan. Dari situ saya belajar, kebaikan bukan untuk dipamerkan. Ia seperti akar pohon. Tak terlihat, tapi menguatkan.” kata lelaki itu tiba-tiba.

Maya menelan ludah. “Saya belajar banyak dari Bapak sejak kejadian hari itu.”

Lelaki itu tertawa kecil. “Kita sama-sama belajar. Hidup ini keras kalau kita lebih mementingkan dunia tanpa mempedulikan perasaan orang lain.”

Saat pamit, Maya merasa sesuatu dalam dirinya telah berubah. Ia masih ingin berbagi. Ia masih ingin mengajak orang lain peduli. Tapi ia kini lebih berhati-hati pada niatnya.

Di malam terakhir Ramadan, ia menulis satu unggahan tanpa foto siapa pun.

“Kadang yang paling sulit dari memberi bukan mengeluarkan harta, tapi mengosongkan hati dari ingin dipuji. Ramadan mengajarkan saya bahwa menjaga harga diri orang lain adalah bagian dari ibadah. Semoga Allah menerima amal kita, meski tak pernah dilihat manusia.”

Unggahan itu tak seramai biasanya. Tak banyak komentar, tak banyak tanda suka.

Namun saat ia mematikan ponsel dan menengadahkan tangan dalam doa, hatinya terasa lebih penuh daripada sebelumnya. Ia akhirnya mengerti memberi memang mulia, tapi ikhlas jauh lebih berat dan di situlah letak perjuangan yang sebenarnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak