Hujan turun sejak pagi. Bukan hujan deras, melainkan gerimis panjang yang membuat jalanan basah dan pembeli enggan keluar rumah. Di sudut trotoar dekat terminal kecil, Aisyah tetap berdiri di balik gerobak kayu tuanya. Lampu kecil berwarna kuning menggantung di atas etalase, memantulkan cahaya redup ke plastik-plastik berisi gorengan. Ia tetap berdiri kokoh menunggu rezeki yang datang.
Aisyah berusia dua puluh satu tahun, tetapi garis lelah di wajahnya membuatnya terlihat lebih tua. Sejak ayahnya meninggal setahun lalu, ia menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya sakit-sakitan, sedangkan adiknya masih sekolah. Gerobak gorengan itu bukan hanya sumber penghasilan, melainkan juga penopang harapan untuk terus melanjutkan hidup.
Hari itu dagangan Aisyah sepi. Pisang goreng masih menumpuk dan tahu isi mulai dingin. Setiap kali jam dinding di toko seberang berdetak, dadanya terasa ikut sesak. Ia menghitung-hitung dalam kepala: uang belanja besok, obat ibu yang hampir habis, dan uang SPP adik yang jatuh tempo dua hari lagi.
Kesalahan di Tengah Ketergesaan
Ketika Aisyah hampir menyerah dan berpikir untuk pulang lebih awal, seorang perempuan berhenti di depan gerobaknya. Perempuan itu mengenakan jas hujan abu-abu, rambutnya sedikit basah, dan wajahnya terlihat letih.
"Mbak, beli tahu isi sepuluh," katanya singkat.
Aisyah tersenyum kecil. "Siap, Bu."
Tangannya cekatan memasukkan tahu ke plastik. Perempuan itu menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.
"Berapa, Mbak?" tanyanya.
"Dua puluh ribu, Bu."
Wanita itu pun menyerahkan uang dan menerima kembalian tiga puluh ribu rupiah. Ia mengangguk dan memasukkan plastik ke tas, lalu pergi tergesa. Aisyah baru menyadari kesalahan itu beberapa detik kemudian. Tangannya membeku. Ia salah mengambil kembalian. Seharusnya ia memberi delapan puluh ribu rupiah.
Tahu isi sepuluh hanya dua puluh ribu rupiah, itu benar. Namun, ia baru sadar bahwa uang yang diberikan perempuan itu bukan satu lembar lima puluh ribu, melainkan dua lembar lima puluh ribu yang saling menempel. Artinya, kembalian yang seharusnya ia berikan adalah delapan puluh ribu, bukan tiga puluh ribu.
Pergulatan Batin di Tengah Kesulitan
Selisih lima puluh ribu rupiah kini terasa berat di dadanya. Aisyah menatap laci uang itu lama. Selisih lima puluh ribu terasa seperti benda panas di tangannya. Lima puluh ribu berarti dua hari makan. Lima puluh ribu berarti obat ibu. Lima puluh ribu berarti setengah biaya SPP adiknya. Ia menoleh ke arah jalan. Perempuan itu sudah berjalan cukup jauh, hampir menghilang di balik parkiran motor.
"Masalahnya, dia juga tidak sadar," gumam Aisyah pelan.
Tidak ada yang melihat. Hanya ada hujan, sepi, dan sunyi. Tuhan pun terasa jauh saat perut lapar dan dompet kosong. Aisyah menelan ludah. Tangannya gemetar saat menutup laci.
"Kalau aku diam saja... tidak ada yang tahu," bisiknya.
Namun, entah mengapa, dadanya terasa sesak. Wajah ibunya terlintas di benaknya. Kalimat yang sering ibunya ucapkan saat masih kuat berdiri di dapur kembali terngiang, "Rezeki yang baik itu bukan yang banyak, melainkan yang bersih."
Aisyah memejamkan mata. Ia mengambil jas hujan tipisnya, menutup gerobak dengan cepat, lalu berlari kecil menyusuri trotoar. Air hujan membasahi celananya, sandal jepitnya licin, tetapi ia terus berlari.
"Bu! Bu, tunggu!"
Perempuan itu menoleh, terkejut.
"Ibu kelebihan memberikan uang," kata Aisyah terengah-engah. "Tadi uang Ibu dua lembar lima puluh ribu. Ini kelebihannya."
Ia menyodorkan uang lima puluh ribu itu dengan tangan gemetar. Perempuan itu memandang uang itu, lalu menatap Aisyah lama. Matanya berkaca-kaca.
"Mbak sadar?" tanyanya pelan.
Aisyah mengangguk. "Saya hampir tidak sadar, Bu. Namun, setelah saya mengecek laci, saya tahu ini bukan hak saya."
Kebaikan yang Menemukan Jalannya
Perempuan itu terdiam. Di tengah hujan dan suara kendaraan, ia menghela napas panjang. "Mbak, tahu tidak? Saya juga sedang diuji hari yang berat," katanya. Ia tersenyum kecil dan getir. "Saya baru saja pulang dari rumah sakit. Ayah saya kritis. Tadi kepala saya penuh, sampai tidak sadar uangnya lebih."
Aisyah terdiam. Perempuan itu menerima uang itu dengan kedua tangan. "Terima kasih," katanya. "Kejujuran Mbak hari ini benar-benar menyelamatkan hati saya."
Aisyah tidak mengerti maksudnya. Ia hanya mengangguk dan merasa sedikit malu. Perempuan itu membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu kecil. "Ini kartu saya. Saya tidak menjanjikan apa-apa, tetapi saya ingin Mbak tahu bahwa kebaikan kecil sering menemukan jalannya sendiri."
Ia pergi meninggalkan Aisyah yang berdiri terpaku di bawah hujan. Malam itu, Aisyah pulang dengan hati campur aduk. Uangnya tetap sedikit dan masalah belum selesai. Ibunya masih batuk, adiknya masih membutuhkan biaya. Kejujuran ternyata tidak langsung mengenyangkan perut. Namun, anehnya Aisyah tidur lebih nyenyak. Tidak ada beban berat di dalam dada. Ia hanya akan tetap bersyukur.
Dua hari berlalu. Gerobak tetap sepi. Hingga pada sore ketiga, sebuah mobil berhenti di dekat trotoar. Seorang pria turun dengan pakaian rapi, lalu menghampiri gerobak Aisyah.
"Mbak Aisyah?" tanyanya.
"Iya."
"Saya dari kantor Bu Rina," katanya sambil tersenyum. "Beliau meminta saya menyampaikan sesuatu."
Pria itu menyerahkan sebuah amplop dan map tipis. "Bu Rina sedang mengurus ayahnya, tetapi beliau tidak melupakan kejujuran Mbak Aisyah. Katanya, kejujuran Mbak mengingatkannya bahwa masih banyak orang baik di luar sana."
Aisyah membuka amplop itu. Di dalamnya ada sejumlah uang dan surat singkat. "Mbak Aisyah, kebaikan Mbak datang di saat saya hampir putus asa. Ini bukan balasan, hanya titipan agar Mbak bisa bernapas sedikit lebih lega. Jangan berhenti jujur, meski dunia sering terasa tidak adil."
Air mata Aisyah jatuh tanpa ia sadari. Uang itu cukup untuk membayar SPP adiknya dan membeli obat ibunya. Tidak berlebihan, tidak mewah, tetapi cukup.
Malam itu, Aisyah duduk di samping ibunya yang tertidur. Ia menggenggam tangan yang mulai dingin itu dan berdoa dalam diam. Ia akhirnya mengerti satu hal: kebaikan tidak selalu datang dengan tepuk tangan. Kadang ia datang dengan rasa takut, kehilangan, dan pilihan yang berat. Namun, kebaikan yang dijaga, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya sendiri.
Di sudut kota yang basah oleh hujan, sebuah gerobak kecil tetap berdiri. Di dalamnya, ada seorang penjual yang belajar bahwa kejujuran mungkin tidak selalu membuat hidup mudah, tetapi ia membuat hidup layak dijalani.