Cerita Fiksi

Sayap Tanpa Rupa, Terbang Tanpa Suara

Sayap Tanpa Rupa, Terbang Tanpa Suara
Ilustrasi peta dan pesawat (Pexels/Monstera Production)

Raka tidak punya teman sejak pindah ke kota baru. Itu fakta yang harus ia terima, sebagaimana menerima cuaca yang kadang panas, kadang hujan, dan tidak bisa ditawar.

Tapi Raka punya satu kebiasaan aneh yang tidak dimiliki anak lain di kelasnya: setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia berdiri di tepi jendela lantai dua, menutup mata, dan membayangkan dirinya terbang.

Bukan terbang pakai pesawat. Bukan pakai roket. Tapi terbang dengan cara yang ia sendiri susah menjelaskannya.

Ya.

Badannya jadi ringan, melanglang buana menembus awan sampai lupa kalau gravitasi itu ada.

Suatu hari Bu Lastri, guru Bahasa yang terkenal killer, memberikan tugas yang bikin seluruh kelas menghela napas berat: presentasi tentang cita-cita, bukan hanya ditulis tapi diperagakan.

"Kalian harus hidup di dalam cita-cita kalian," kata Bu Lastri sambil menyesuaikan kacamatanya. "Bukan cuma bilang saya mau jadi dokter terus duduk."

Semua anak langsung sibuk bisik-bisik. Dinda bilang mau jadi chef dan bawa apron. Fajar bilang mau jadi atlet dan pinjam bola dari gudang.

Raka? Diam.

"Kamu mau jadi apa, Raka?" Dinda bertanya, setengah iseng.

"Penjelajah," jawab Raka pelan.

Dinda tertawa kecil. "Penjelajah itu bukan profesi."

Raka tidak menjawab. Tapi di dalam kepalanya, ia sudah terbang jauh—melewati atap sekolah, melewati kota, melewati awan yang kelihatan seperti kapas cuci piring raksasa.

Malam sebelum presentasi, Raka duduk di lantai kamarnya dengan kertas-kertas berserakan. Ibunya masuk, membawa segelas susu hangat yang tidak pernah Raka minta namun selalu datang tepat waktu.

"Belum tidur?"

"Lagi mikir," jawab Raka.

Ibunya duduk di sebelahnya, tidak bertanya macam-macam. Cuma duduk.

"Bu," Raka akhirnya ngomong, "kalau aku bilang aku bisa terbang, Ibu percaya?"

Ibunya tidak langsung menjawab. Ia melirik Raka dari sudut mata, lalu senyum tipis. "Tergantung. Kamu terbang ke mana?"

"Ke mana aja. Paris. Antartika. Luar angkasa."

"Sudah sampai?"

Raka mengerutkan dahi. "Kan baru mau—"

"Kalau kamu yakin kamu bisa sampai," ibunya memotong pelan, "kamu sudah separuh jalan."

Raka menatap gelasnya. Uap dari susu naik tipis-tipis, menghilang sebelum sempat ia tangkap.

Keesokan harinya, Raka maju ke depan kelas tanpa apron, tanpa bola, tanpa properti apapun.

Ia hanya berdiri. Menutup mata selama tiga detik. Cukup lama untuk bikin kelas jadi sunyi.

Lalu ia membuka mata dan berkata:

"Aku sudah ke 47 negara."

Kelas langsung ribut. Ada yang ketawa. Ada yang bisik bohong. Bu Lastri mengangkat alis tapi tidak menghentikan.

Raka melanjutkan. Tenang, pelan, tapi ada sesuatu di nada suaranya yang bikin orang diam.

"Aku belum pernah naik pesawat sekalipun. Tapi aku sudah baca tentang jalanan di Lisbon yang berbatu. Aku tahu warung kopi di Hanoi yang buka jam 5 pagi dan selalu penuh orang tua main catur. Aku hafal nama-nama gunung di Patagonia yang bahkan orang di sana sendiri susah ngucapinnya."

Ia berhenti sebentar.

"Penjelajah bukan soal punya uang atau paspor banyak cap. Penjelajah adalah orang yang pikirannya tidak pernah berhenti bergerak. Dan aku sudah latihan terbang sejak lama."

Sunyi.

Bukan sunyi canggung, tapi sunyi seperti sehabis hujan. Yang segar. Yang bikin orang mau tarik napas dalam-dalam.

Bu Lastri menulis sesuatu di bukunya. Dinda tidak ketawa lagi.

Pulangnya, Dinda mengejar Raka di koridor.

"Hei." Ia sedikit ngos-ngosan. "Tadi itu... keren. Aku nggak nyangka."

Raka berhenti. Sedikit kaget. Ini pertama kalinya seseorang di kelas ini bicara kepadanya bukan karena soal pinjam penghapus.

"Kamu serius mau jadi penjelajah?" tanya Dinda lagi.

"Serius."

"Tapi... nggak takut? Maksudnya, itu kan susah. Butuh banyak uang, koneksi, pengalaman..."

Raka senyum. Bukan senyum sombong, tapi senyum orang yang sudah memikirkan pertanyaan itu jauh sebelum ditanya.

"Semua orang yang sekarang sudah sampai," katanya, "dulu juga belum pernah sampai."

Dinda diam sebentar. Lalu, pelan, ia mengangguk.

Malam itu, Raka duduk di meja belajarnya dan membuka buku catatannya yang sudah lusuh. Di halaman pertama, ada tulisan tangannya sendiri dari dua tahun lalu, waktu ia masih di kota lama. Ya. Sebelum pindah, sebelum merasa asing di mana-mana.

Tulisannya:

"Aku mau ke semua tempat yang belum aku tahu namanya."

Ia membaca kalimat itu pelan. Lalu tersenyum.

Dua tahun lalu, kalimat itu terasa seperti coretan iseng anak kecil yang kebanyakan nonton dokumenter. Sekarang, kalimat yang sama terasa seperti peta.

Ia sadar sesuatu malam itu: "Mimpi tidak berubah ukurannya. Yang berubah adalah cara kamu memandangnya—dari sesuatu yang jauh di luar jangkauan, menjadi sesuatu yang sedang kamu jalan menuju ke sana, satu langkah kecil setiap harinya."

Ia tidak punya uang untuk beli tiket ke Islandia. Tidak punya paspor yang penuh cap. Tidak punya siapa-siapa di luar negeri yang bisa dihubungi.

Tapi malam itu ia punya hal yang lebih penting: ia tahu ke mana ia mau pergi. Dan ia percaya ia akan sampai.

Itu saja sudah cukup untuk mulai.

Ia berdiri lagi di tepi jendela sebelum tidur. Langit sudah gelap, bintang muncul satu-satu seperti lampu yang dinyalakan perlahan.

Ia menutup mata.

Badannya ringan.

Dan saat itu Raka mengerti—sayap itu tidak tumbuh di punggung. Sayap tumbuh di dalam kepala, setiap kali kamu memilih untuk percaya bahwa kamu bisa, bahkan ketika belum ada buktinya.

Terbang bukan soal meninggalkan tanah.

"Terbang adalah tentang tidak membiarkan pikiranmu tetap di tempat yang sama."

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda