Cerita Fiksi

Tas Ajaib Ema

Tas Ajaib Ema
Ilustrasi Tas Jinjing (unsplash/Jon Tyson)

Kalau yang ada di pikiranmu adalah kantong ajaib milik tokoh kartun terkenal itu, kamu salah besar! Ini adalah kisah Ema, si anak perempuan bergaun merah selutut yang selalu membawa sebuah kantong kecil serupa tas jinjing di tangan kirinya. Tidak ada yang menarik dari benda kesayangannya itu. Tas yang terbuat dari anyaman goni itu memang tampak lusuh dan kumal dari luar, tetapi anehnya tak pernah terlihat robek atau rusak.

Tak pernah ada yang tahu apa isi benda itu. Mungkin hanya ia, temannya, atau Tuhan yang tahu. Sekali waktu, tasnya berukuran normal. Di lain waktu, ia terlihat lebih besar dari biasanya. ‘Mungkin saja ia telah menambahkan isinya,’ begitu pikirku.

Suatu malam, gadis kecil itu terlihat duduk termenung di tepi toko kelontong yang baru saja tutup. Lututnya yang tertutup rok terlipat karena ia duduk ngemper. Tas lusuhnya tergenggam erat di depan kaki. Wajahnya terkesan datar dengan tatapan mata kosong yang tertimpa cahaya hangat lampu temaram depan toko. Ada satu hal yang mencuri perhatianku.

"Dari mana? Apa yang habis kau beli?" tanyaku, dengan mata tertuju pada kantong lusuh itu.

Dengan gerakan lemah, mata dan wajahnya menghadapku, lalu ia menggeleng sambil tersenyum samar. Tak ada jawaban yang ia berikan. Ia pun kembali pada posisi semula, seakan tak pernah terjadi apa-apa.

‘Aneh,’ pikirku. Memang, aku tidak sedekat atau seintens itu saat berinteraksi dengannya. Aku hanya sering melihatnya berjalan dan bermain sendirian di taman kota sepulang aku bekerja. Hingga pada suatu sore, aku berkenalan dengannya. Ia hangat, sangat hangat. Tak seperti anak lain yang takut pada orang asing, dengan antusias ia menyambut perkenalanku. Tak ada guratan sendu pada wajah dan matanya seperti yang kulihat malam itu. Begitu pun pada hari-hari setelahnya. Meskipun aku tak pernah lagi berbicara dengannya, aku sering memperhatikannya dalam diam. Matanya yang ikut tersenyum saat bibirnya melengkung, membuatku sedikit bisa melepaskan penat.

"Ayo, kuantar kau pulang," ucapku suatu hari, sambil menggamit lengan kecilnya.

Tanpa perlawanan, ia menuruti pergerakanku. Beberapa kali kutawarkan diri untuk membawakan tasnya yang terlihat membesar, tapi ia menolak.

Sesampainya di depan rumah Ema, ada sekelebat perasaan tak terduga menghampiri. Sunyi. Dingin. Ketika langkahku mulai mendekati teras rumahnya, aku bisa mendengar sesuatu dari dalam sana. Teriakan, makian, pukulan—berbagai macam suara yang tidak seharusnya didengar oleh anak berumur delapan tahun.

Dengan senyuman tipis ia berbisik setengah terkekeh, "Maaf, ya. Kakak jadi dengar, deh. Ini udah biasa, kok."

Aku tidak bisa bereaksi. Setiap makian dan teriakan yang terdengar dari dalam rumah seolah mendorong cairan di mataku untuk keluar. Setetes bulir hangat mengalir dari sudut mata kiriku, seiring kepalaku yang menunduk menatap si gadis kecil. Ia terkejut. Dengan wajah khawatir, ia melepaskan genggaman tanganku dan malah memeluk pinggangku. Entah kenapa, meskipun posisinya ada di belakangku, aku bisa merasakan tas itu memberat dan membesar.

Aku pun sedikit malu. Hal-hal yang baru saja dilakukannya kepadaku, seharusnya aku yang melakukannya untuknya. Tapi, ada satu hal yang mengganjal: kantong itu. Tidak ada yang mengisinya dengan benda apa pun, namun ia bisa terlihat membesar. Oh iya, ada satu hal lagi. Aku tak pernah melihat Ema menangis. Hal pertama yang akan dilakukan bocah seusianya saat menghadapi kekerasan semacam itu adalah menangis. Tapi, itu tak terjadi padanya. Dan, pelukan kecil itu—ia bisa membuatku tenang dan hangat. Seakan ada aliran energi dari tangan kecilnya.

Malam berikutnya, aku melihatnya lagi di taman kota. Ia bermain-main seperti anak pada umumnya. Namun, kantongnya yang semakin membesar itu mulai membuatnya kewalahan. Sesekali ia terjatuh dan tersandung karena bebannya terlalu berat. Tapi ajaibnya, hal itu tak membuat tas goni tersebut tergores ataupun sobek.

Hari berikutnya di tempat yang sama, aku melihatnya kembali dengan kantong yang jauh lebih besar. Aku heran, kenapa ia tak pernah melepaskannya kalau benda itu terlalu merepotkan? Ia pun jadi lebih sering terjatuh. Sesekali, ia meringis kesakitan. Namun, ia tak menangis. Tak pernah. Bahkan saat lututnya bergores merah berdarah. Kantong itu juga terlihat semakin membesar.

Hari berikutnya lagi, aku menghampirinya. Ia pun mendatangiku. Kantong jelek itu sudah tak ia genggam lagi, melainkan diseret! Terlalu berat untuk tubuh mungilnya. Karena iba, kuelus ringan puncak kepalanya. Tanganku menuruni bahunya dan menepuknya pelan. Tanpa sengaja, kukuku yang panjang mengenai tasnya. Sangat pelan. Bahkan tidak seberapa tajam untuk ukuran goresan yang bisa menyobek seonggok goni.

Namun secara tiba-tiba, tas itu berlubang. Tidak besar, tapi cukup untuk mengeluarkan seluruh isinya. Karung itu sudah tak mampu lagi menampung beban di dalamnya.

Gadis itu mulai mengeluarkan air mata. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Hanya cairan bening yang terjun tak terkira dari kedua matanya.

Aku bingung. Apakah ia menangisi tas kesayangannya yang robek? Atau justru, akulah yang baru saja mengeluarkan 'isi' dari tasnya itu?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda