Cerita Fiksi
Kompetisi Orang Paling Menderita
Kompetisi Orang Paling Menderita adalah sebuah program reality show yang mendobrak rating televisi dua tahun terakhir ini. Seri pertama dari kompetisi itu dimenangkan oleh seorang janda anak satu yang hidup miskin di bawah kolong jembatan. Lalu, seri kedua dimenangkan oleh seorang gadis remaja sebatang kara yang ditinggal orang tuanya sejak bayi dan besar di jalanan.
Setelah kompetisi itu selesai dan mereka keluar sebagai pemenang, hidup mereka berubah drastis. Si janda anak satu sering diundang ke acara gosip untuk menceritakan kisahnya, dan kini ia punya rumah sendiri yang berdiri kokoh di kawasan elite. Si gadis yatim piatu mendapat bantuan dari influencer terkenal, diberi beasiswa, dan bahkan diangkat menjadi anak oleh artis yang memiliki nama baik.
Lihatlah bagaimana sebuah program televisi bisa mengubah nasib hidup orang, persis seperti seorang penyihir yang mengayunkan tongkat sihirnya.
Asca, lelaki yang baru menginjak usia kepala dua itu, memutuskan untuk mengikuti seri kompetisi yang ketiga. Tubuhnya cungkring dengan perawakan pendek yang mencirikan tanda-tanda tengkes (stunting) atau mungkin cacingan. Penampilannya memang meyakinkan sebagai orang miskin karena Asca sendiri tidak begitu peduli tentang merawat diri. Mukanya kusam dan banyak bekas jerawat yang timbul di sisi wajahnya. Asca cukup percaya diri dengan segudang permasalahan di hidupnya.
Tiga bulan kemudian, Asca berdiri di antara ratusan peserta yang mengular di depan gedung stasiun televisi. Sebagian datang membawa map berisi dokumen. Sebagian membawa foto-foto lama. Ada yang datang dengan kursi roda, tongkat, bahkan infus yang masih menempel di lengan. Asca menunduk melihat nomor antreannya.
Ia mulai curiga bahwa hidupnya tidak cukup buruk untuk berada di sana. Di depannya, seorang ibu paruh baya sedang bercerita kepada peserta lain. "Saya ditinggal suami pas lagi hamil tujuh bulan." Peserta lain mengangguk simpati. Di belakang Asca, seorang pemuda berkata bahwa rumahnya hanyut diterjang banjir dua kali dalam setahun. Asca diam.
Saat panitia membagikan formulir, ia membaca salah satu pertanyaannya: Jelaskan penderitaan terbesar dalam hidup Anda.
Asca menggigit ujung pulpen. Pikirannya melanglang buana di antara tumpukan nasib buruk yang layak ditulis di atas kertas formulir.
Penderitaan terbesar? Asca menggenggam erat pulpennya. Ia pernah gagal mendapat pekerjaan lebih dari dua puluh kali, pernah ditolak perempuan yang ia sukai, dan pernah hidup dari mi instan selama hampir sebulan. Masalahnya, semua itu terdengar memalukan, bukan menyedihkan. Penderitaannya terasa seperti sebuah peristiwa yang hanya terjadi pada pecundang, bukan sekadar orang miskin.
Ia melirik formulir milik peserta di sebelahnya. Tertulis di sana: korban perdagangan manusia. Asca segera memalingkan muka. Sial, batinnya. Penderitaannya kalah telak bahkan sebelum babak penyisihan dimulai. Asca melirik lagi ke pria paruh baya di sebelahnya, tertulis kalau pria itu ditelantarkan oleh keluarganya dan hartanya diperebutkan oleh mereka. Asca mengembuskan napas pelan, sementara senyum getir terpampang di wajahnya.
Satu per satu peserta dipanggil memasuki ruang audisi. Dari luar terdengar suara tangisan. Sesekali terdengar tepuk tangan. Asca terpaku saat peserta nomor 316 keluar dengan mata merah dan tisu di tangan.
"Nomor 317!"
Asca berdiri, mengikuti instruksi dari kru yang berjalan di depannya. Ruangan itu lebih kecil dari yang ia bayangkan. Hanya ada tiga juri dan sebuah kamera yang menyorot tepat ke wajahnya. Sebuah suasana yang begitu asing, apalagi ketiga juri itu menatapnya secara menyelidik dari atas sampai bawah.
Seorang juri perempuan tersenyum profesional. "Silakan duduk. Ceritakan kisah hidup Anda," katanya pelan, tetapi mengintimidasi.
Asca duduk, lalu berpikir cukup lama. Asca meringis, lalu memulai ceritanya dengan batuk kering yang tersangkut di tenggorokannya. "Saya lahir miskin." Juri menunggu lanjutannya. "Sampai sekarang masih miskin." Mereka tetap menunggu.
"Itu saja."
Salah satu juri menghela napas. "Asca, apakah Anda pernah mengalami tragedi besar?"
"Tidak."
"Bencana alam?"
"Tidak."
"Kekerasan dalam rumah tangga?"
"Tidak."
"Penyakit kronis?"
"Saya pernah diare tiga hari," jawab Asca dengan lugas dan yakin.
Juri mulai terlihat kecewa.
"Lalu mengapa Anda mengikuti kompetisi ini?"
Asca berpikir sejenak. Mungkin karena ia lapar, capek, karena hidupnya tidak bergerak ke mana-mana, karena ia sudah mengirim puluhan lamaran kerja dan tidak pernah dipanggil, atau karena setiap tahun ibunya bertambah tua sementara atap rumah mereka makin bocor.
Namun, semua alasan itu terdengar terlalu biasa jika dibandingkan dengan peserta yang hidupnya terkena bencana alam hampir setiap tahun, atau menjadi korban perdagangan manusia akibat lowongan palsu. Asca menggaruk pelipisnya, lalu ia menjawab jujur.
"Saya butuh uang."
Ruangan mendadak hening. Untuk pertama kalinya sejak masuk, salah satu juri terlihat tertarik. Juri itu menumpukan dagunya di kedua tangan dengan badan condong ke depan.
"Kenapa?"
Asca tertawa kecil. "Karena miskin itu mahal, Pak."
Asca keluar dari ruangan tanpa tangisan atau selembar tisu di tangan. Langkahnya cukup santai, tetapi jelas terlihat kekecewaan di setiap pijakannya. Saat sampai di luar gedung, ia memutuskan untuk mengistirahatkan diri di sebelah tukang es doger. Ia memesan satu, tanpa es.
Hari itu, di samping gerobak es doger dan penjual yang masih tampak bingung menerima pesanan tanpa es, Asca berpikir sejenak. Ia tidak tahu harus bersyukur atau kecewa. Bersyukur karena hidupnya ternyata tidak semenyedihkan peserta lain, atau kecewa karena penderitaannya bahkan tidak cukup menyedihkan untuk lolos seleksi.
Namun, satu hal yang pasti, Asca tidak pernah menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang ringan. Mungkin ia tidak yatim piatu, tidak mengidap penyakit langka, dan tidak pernah menjadi korban bencana. Akan tetapi, kemiskinan tetaplah bentuk kesengsaraan yang bekerja dengan cara berbeda. Kesengsaraan itu tidak datang sekaligus untuk menghancurkan hidup seseorang. Ia datang sedikit demi sedikit, lalu menetap terlalu lama.