Pagi itu selain matahari yang terbit, harapan masyarakat juga ikut muncul. Suara deru motor, juga obrolan di tengah situasi yang belum pulih sepenuhnya membuat suasana hangat yang berbeda di wilayah yang sempat lumpuh. Menandai langkah kecil dalam perjalanan panjang pulihnya kegiatan sehari-hari warga.
Di ruas Lintas Timur Aceh yang sempat sepi, akses sempat tertutup lumpur dan material pasca banjir, untungnya kini mulai bisa dilewati. Saat akses hilang, kehidupan otomatis terhenti. Tidak ada komunikasi dengan anggota keluarga yang terpisah, atau menjajaki jalan menuju ke rumah yang kini sudah tidak bisa dihuni.
Waktu itu, oprit Jembatan Krueng Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya yang menjadi penghubung bagi jalur penting menuju Kabupaten Bireuen rusak parah akibat banjir bandang, membuat warga harus memutar jauh atau menunggu akses dibuka.
Meski keadaan sulit tapi tidak mematikan semangat mereka yang terkena bencana, seiringan dengan alat-alat berat yang diturunkan pemerintah untuk membuka jalan, masyarakat bergotong royong membenahi kekacauan satu demi satu.
Mulai dari pembersihan jalan, sampai hal sesederhana apapun dilakukan dengan harap bahwa semua akan kembali seperti sedia kala.
Tim di lapangan yang menurunkan alat berat melakukan penimbunan ulang untuk oprit jembatan, serta pembersihan lumpur tebal akibat banjir.
Usahanya mungkin tidak langsung berbuah manis—bertahap tapi nyata. Seperti kata pepatah lama Jawa, alon-alon asal kelakon, yang menemani harapan serta aksi nyata dari warga yang terdampak. Hasilnya, Jembatan Krueng Meureudu kembali dibuka dan bisa dilintasi sejak 12 Desember 2025.
Sebuah titik balik awal bagi mereka yang memiliki tekad untuk pulih, sembuh, dan kembali seperti awal. Bagi warga yang sehari-hari bergantung pada jalan itu, momen kecil seperti kendaraan yang melintas bukan lagi angka statistik, tapi hasil nyata yang membuktikan kalau rutinitas kembali berjalan.
Warung kecil mulai kembali terbuka, anak-anak juga membantu meski sekadar membersihkan lumpur dari jalan, truk bermuatan logistik bisa melintas, dan titik-titik kehidupan kembali bangkit dari keterpurukan.
Di berbagai wilayah yang terdampak banjir, beberapa ruas jalan nasional sempat terputus tapi kini sudah berangsur fungsional dan dapat dilalui kendaraan atau truk pengangkut logistik.
Upaya serupa yang dilakukan pemerintah sebagai prioritas untuk pemulihan konektivitas oleh tim infrastruktur agar arus logistik dan mobilitas masyarakat bisa kembali seperti sedia kala.
Pemulihan akses ini memberikan dampak lebih luas dari sekadar bisa lewat atau tidak. Dari jalur-jalur ini aktivitas keseharian kembali bergerak, memutar roda ekonomi yang sempat lumpuh—pedagang bisa menerima pasokan bahan, anak-anak bisa kembali sekolah tanpa harus memutar rute, dan kebutuhan pokok semakin terjangkau dari segi akses dan mobilitasnya.
Momen itu bisa dilihat di konten media sosial yang beredar sebagai media bagi masyarakat di luar wilayah terdampak untuk mengetahui kabar kerabat di sana.
Beberapa pengendara motor sudah bisa tersenyum lepas dan merekam perjalanan mereka saat melewati Jembatan Krueng Meureudu yang kembali terbuka, disambut komentar hangat dari warga yang berharap supaya aktivitas di daerah terdampak dapat kembali seperti sebelumnya.
Tentu saja, proses ini belum sempurna. Masih ada wilayah yang membutuhkan perhatian dan pembersihan intensif yang memakan waktu lebih panjang jika ditinjau dari segala aspek. Tapi setiap suara kendaraan yang lewat, seruan anak kecil bergurau, mewarnai setiap langkah yang menandai bahwa akses pemulihan membangun kembali pintu harapan bagi masyarakat untuk kembali menyusun pecahan puzzle satu persatu pasca bencana.
Jalan itu belum sepenuhnya pulih, tapi setidaknya sudah bisa dilalui harapan. Memang tidak mudah untuk bisa kembali seperti semuanya saat belum kacau, tapi setidaknya pelan-pelan akses yang sempat terputus kembali bernapas. Kejadian ini bisa jadi pelajaran untuk siapa saja, kalau di situasi terberat sekalipun bisa dilalui jika bersama-sama.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS