Cerita Fiksi

Bintang yang Mustahil Digapai

Bintang yang Mustahil Digapai
Ilustrasi anak menggapai bintang (pixabay/TyliJura)

Di sebuah sudut kota yang bising oleh deru mesin pabrik, hidup seorang pemuda bernama Renjana. Nama itu berarti rasa hati yang kuat, sebuah nama yang sangat cocok dengan kepribadiannya. Sejak kecil, Renjana memiliki satu obsesi besar dalam hidupnya. Dia ingin kuliah di Universitas Prakarsa, perguruan tinggi nomor satu di negeri ini, dan mengambil jurusan Astronomi.

Renjana adalah definisi dari anak yang genius. Di sekolahnya yang reyot, dia selalu menjadi juara umum. Lemari kamarnya penuh dengan piala perlombaan sains, mulai dari tingkat kota hingga nasional. Otaknya seperti spons yang mampu menyerap rumus-rumus fisika rumit dalam sekejap. Baginya, bintang-bintang dan hukum jagat raya adalah bahasa ibu.

Namun, kecerdasan Renjana selalu bertubrukan dengan realitas yang pahit. Ibunya hanyalah seorang buruh cuci harian, sedangkan ayahnya sudah lama tiada. Untuk makan sehari-hari saja, mereka harus memutar otak. Keadaan ini membuat orang-orang di sekitar permukiman kumuh tempat tinggalnya sering mencemooh impian Renjana.

"Sadar diri, Ren. Kuliah di sana itu bukan cuma pakai otak, tapi pakai duit," kata Pak RT saat melihat Renjana belajar di bawah temaram lampu teras. "Anak orang miskin kayak kita ini jalurnya langsung ke pabrik, bukan ke universitas mentereng. Apalagi mau kuliah astronomi, mau jadi apa? Menatap langit tidak akan bikin perutmu kenyang."

Tetangga yang lain pun sering berbisik sinis saat melihat Renjana pulang membawa buku-buku tebal tentang rasi bintang dari perpustakaan daerah. Mereka menganggap Renjana aneh karena mengejar sesuatu yang dianggap mustahil. Bagi lingkungan sekitarnya, cita-cita Renjana adalah sebuah lelucon.

Renjana tidak pernah memasukkan kata-kata itu ke dalam hati. Dia tahu satu-satunya tiket untuk keluar dari kemiskinan adalah beasiswa penuh. Oleh karena itu, dia belajar dua kali lebih keras dari siapa pun. Dia mengorbankan waktu tidur dan waktu bermainnya. Saat anak-anak lain bersenang-senang, Renjana sibuk menaklukkan soal-soal ujian masuk universitas yang terkenal sangat menjebak.

Hari ujian pun tiba, dan Renjana menyelesaikannya dengan baik. Beberapa minggu kemudian, pengumuman resmi keluar. Renjana berhasil masuk menjadi mahasiswa baru Jurusan Astronomi di Universitas Prakarsa. Namun, ada satu masalah besar yang langsung menghantamnya. Namanya tidak tercantum dalam daftar penerima beasiswa penuh karena efisiensi dan pemangkasan kuota beasiswa besar-besaran pada tahun itu. Dia lolos jalur reguler, yang artinya dia harus membayar uang kuliah yang nominalnya setara dengan biaya hidup keluarganya selama satu tahun.

Dunia Renjana runtuh seketika. Kendati demikian, dia menolak menyerah. Dengan sisa waktu dua minggu sebelum tenggat pembayaran, Renjana dan ibunya mulai mencari pinjaman. Mereka mendatangi kerabat, mengajukan bantuan ke lembaga sosial, hingga berniat menggadaikan satu-satunya aset yang mereka miliki, yaitu sertifikat rumah kayu mereka yang kecil. Ibunya bahkan mengambil giliran mencuci hingga larut malam demi mengumpulkan lembar demi lembar uang.

Hingga akhirnya, semalam sebelum tenggat pembayaran itu, sebuah kejadian besar mengubah segalanya.

Malam itu, hujan tidak turun, tetapi angin berembus sangat kencang. Permukiman padat tempat Renjana tinggal mendadak riuh oleh suara teriakan panik yang memecah keheningan malam. Korsleting arus pendek dari salah satu rumah warga memicu percikan api. Dalam hitungan menit, angin kencang membuat kobaran api membesar dengan cepat, melahap deretan rumah semipermanen yang saling berdempetan, termasuk rumah Renjana.

Suasana menjadi sangat kacau. Asap hitam pekat memenuhi ruangan, membuat mata perih dan dada sesak. Dalam kepanikan yang luar biasa, Renjana bergegas meraba meja belajarnya. Dia berhasil meraih tas ranselnya, memastikan amplop cokelat tebal berisi uang pangkal kuliah itu sudah dia genggam erat di tangannya. Dia lalu menarik lengan ibunya yang gemetar untuk segera keluar menembus kepulan asap dan hawa panas yang memanggang.

Mereka harus berdesakan dengan puluhan warga yang berlarian menyelamatkan diri di gang sempit. Di tengah riuh rendah jeritan, suara ledakan tabung gas, dan runtuhnya atap-atap kayu yang terbakar, Renjana sempat tersandung dan jatuh terjerembap. Dia buru-buru bangkit, mendekap ibunya, dan terus berlari menjauh hingga mencapai lapangan terbuka di ujung kampung.

Ketika pagi hari tiba, permukiman mereka sudah berubah menjadi lautan abu dan arang. Rumah mereka habis tidak bersisa. Setelah memastikan ibunya aman di posko pengungsian, Renjana berniat memeriksa uang kuliah di dalam tasnya. Dia membuka ritsleting ransel, lalu meraba kantongnya. Kosong.

Jantung Renjana mendadak berhenti berdetak. Dia membongkar seluruh isi tas, tetapi amplop cokelat itu tidak ada. Seketika itu juga, ingatan saat dia tersandung di tengah kobaran api semalam berputar di kepalanya. Dia baru menyadari bahwa dalam cengkeraman kepanikan dan saking fokusnya melindungi sang ibu, amplop tebal itu terlepas dari genggamannya dan jatuh tepat di dalam kobaran api yang melahap rumah mereka. Uang yang dikumpulkan dengan susah payah itu telah habis menjadi abu bersama rumah mereka.

Renjana terduduk lemas di atas tanah yang masih terasa hangat oleh sisa kebakaran. Air matanya luruh tanpa suara. Hari ini adalah tenggat akhir pembayaran, tetapi dia tidak punya apa-apa lagi yang tersisa. Tidak ada waktu untuk mencari pinjaman baru, tidak ada lagi aset yang bisa digadaikan.

Sore harinya, tenggat pembayaran Universitas Prakarsa resmi ditutup. Renjana gagal menjadi mahasiswa.

Beberapa minggu kemudian, Renjana berdiri di dekat tenda pengungsian sementara. Di luar sana, dia bisa melihat anak-anak sebayanya yang berasal dari keluarga berada berjalan dengan baju kuliah mereka yang rapi. Orang-orang di kampungnya kembali berbisik, membenarkan ucapan mereka terdahulu bahwa anak miskin tidak akan pernah bisa kuliah.

Malam harinya, Renjana menatap bintang di langit dengan mata kosong. Kenyataan hidup telah menamparnya dengan sangat keras. Pada akhirnya, kecerdasan luar biasa dan kerja keras mati-matian tetap kalah oleh tembok tebal bernama kemiskinan. Ekonomi, dengan segala kekejamannya, telah berhasil menjadi penghambat mutlak bagi seorang anak manusia untuk meraih mimpinya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda