Cerita Misteri
Kutukan Kain Legam
Desa Candramaya terletak jauh di ceruk lembah yang selalu diselimuti kabut tipis. Bagi penduduknya, aturan hidup hanya ada satu yang paling utama, yaitu jangan pernah mengenakan pakaian berwarna hitam. Larangan ini bukan sekadar tradisi kuno, melainkan sebuah pertahanan. Di Candramaya, warna hitam adalah sebuah undangan bagi Sesuatu yang seharusnya tetap tinggal di bawah tanah yang membusuk.
Citra tidak tahu soal itu. Dia adalah seorang pelukis lanskap yang baru saja menyewa sebuah rumah kayu tua di pinggiran desa. Baginya, pakaian hitam adalah identitas. Kaus hitam, celana hitam, dan jaket hitam adalah seragam harian yang membuatnya merasa nyaman saat bekerja dengan cat warna-warni. Baginya, hitam adalah kanvas kosong yang sempurna.
Pagi itu, Citra memutuskan untuk berjalan kaki ke pasar desa. Dia mengenakan jakethitam kesayangannya dengan tudung yang menutupi kepala karena udara pagi yang cukup menggigit. Begitu Citra menginjakkan kaki di area pasar yang ramai, sebuah keheningan yang janggal mendadak jatuh. Suara tawar-menawar yang riuh berhenti seketika. Seorang pedagang buah yang sedang memegang apel merah menjatuhkan dagangannya hingga buah itu menggelinding di atas tanah berbatu. Matanya melotot, menatap lurus ke arah sweter yang dikenakan Citra.
Citra mengerutkan kening. Dia mencoba tersenyum ramah kepada seorang wanita tua yang berdiri paling dekat dengannya. Bukannya menjawab, wanita tua itu justru menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi. "Hitam," bisik wanita itu dengan suara bergetar. "Kenapa kamu mengundang Penjemput ke sini?"
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya berteriak dari kejauhan. "Masuk ke rumah! Semuanya masuk! Pintunya sudah terbuka!"
Teriakan itu memicu kepanikan massal. Orang-orang meninggalkan barang dagangan mereka begitu saja. Pintu-pintu toko dibanting tutup, disusul suara gerendel besi yang dikunci berkali-kali. Dalam hitungan detik, pasar menjadi kosong melompong. Hanya ada Citra yang berdiri mematung di tengah jalan.
Lalu, kengerian yang sesungguhnya dimulai. Matahari tidak lagi redup, melainkan tampak seperti memar di langit yang mendadak berubah menjadi abu-abu kusam. Dari celah-celah ubin jalanan, cairan kental berwarna hitam mulai merembes keluar. Cairan itu berbau seperti daging busuk dan tanah makam yang basah.
Citra mencoba berlari, namun kakinya terasa berat. Saat dia menunduk, dia berteriak histeris. Bayangannya sendiri tidak lagi mengikuti gerakannya. Bayangan itu berdiri tegak secara mandiri di atas aspal, lalu mulai mencekik leher Citra dari arah belakang. Tangan bayangan itu terasa sedingin es dan sangat nyata.
Dari ujung jalan yang menuju ke hutan tua, muncul sesosok figur yang sangat tinggi, mungkin sekitar tiga meter. Figur itu tidak memiliki wajah, hanya sebuah lubang besar di bagian kepala yang terus menerus mengeluarkan suara rintihan ribuan jiwa. Jubahnya bukan terbuat dari kain, melainkan dari ribuan serangga hitam yang saling mengunci satu sama lain.
"Pakaianmu adalah kontrakmu," suara itu bergema, menghancurkan kaca-kaca jendela di sekitar pasar.
Citra merasa kulitnya mulai melepuh di balik sweter hitamnya. Benang-benang sweter itu mulai berubah menjadi akar-akar kecil yang masuk menembus pori-pori kulitnya, mencoba menyatu dengan pembuluh darahnya. Dia jatuh berlutut, memegangi dadanya yang terasa seperti dihujam ribuan jarum.
Makhluk itu sudah berada tepat di hadapannya. Jemarinya yang pucat dan panjang menjulur untuk menyentuh dahi Citra. Saat itulah, Citra teringat pada botol kecil berisi cairan pembersih kuas dan minyak rami di sakunya yang sangat mudah terbakar. Dengan sisa tenaga yang ada, Citra mengambil pemantik api dari saku jaketnya.
"Aku tidak menyerah!" teriak Citra.
Dia menyiramkan cairan kimia itu ke jaket hitamnya lalu menyalakan api. Seketika, api biru membubung tinggi membakar pakaian hitam yang sudah mulai menyatu dengan kulitnya. Rasa sakitnya luar biasa, namun sesuatu yang mengerikan terjadi. Begitu warna hitam itu dilahap api dan berubah menjadi abu kelabu, makhluk di depannya meraung kesakitan.
Warna hitam adalah sumber kekuatannya, dan api adalah pemurni. Makhluk itu mundur dengan gerakan patah-patah saat melihat warna hitam di tubuh Citra menghilang digantikan oleh kobaran api dan warna merah darah dari kulit yang melepuh. Kontrak itu batal secara paksa karena medianya hancur.
Dengan raungan yang mengguncang tanah, figur tinggi itu lenyap menjadi kabut hitam yang kembali meresap ke dalam tanah. Bayangan Citra kembali normal, merebah di atas tanah sebagai bayangan biasa.
Citra tergeletak di tengah jalan pasar dengan napas memburu dan pakaian yang compang-camping. Beberapa saat kemudian, pintu-pintu rumah warga terbuka perlahan. Mereka keluar dengan wajah tidak percaya. Tidak pernah ada yang selamat setelah mengenakan warna terlarang itu.
Seorang wanita tua mendekat dan menyelimuti tubuh Citra dengan kain berwarna putih bersih yang menyilaukan. "Kamu mematahkan kutukannya, Nak," bisik wanita itu sambil menangis. "Tapi tolong, jangan pernah pakai warna itu lagi."
Citra hanya bisa mengangguk lemah. Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi menyentuh warna hitam di kanvasnya maupun di hidupnya. Dia selamat, namun setiap kali dia melihat bayangannya sendiri di bawah lampu yang terang, dia selalu merasa bayangan itu sedang menatapnya balik dengan penuh dendam.