Cerita Fiksi

Lentera Ganjil

Lentera Ganjil
ilustrasi Lentera Ganjil (Gemini AI)

Kota ini dibangun dari sisa-sisa ingatan ganjil yang menolak runtuh. Tempat sepasang mata asing mencuri trauma di emperan toko yang basah oleh sisa gerimis. Di bawah temaram lampu jalan yang berkedip sekarat, aku menghitung keputusasaan yang berceceran dari tumit orang-orang sibuk.

Dunia akhir-akhir ini terasa seperti mesin penggiling raksasa. Ia meremukkan apa saja yang melata di atasnya, memaksa kita melipat lutut dan menyerah kalah sebelum malam sempat merampungkan mimpinya.

Namun, tepat ketika jemariku bersiap melipat takdir sendiri menjadi selembar kertas pembungkus duka, lampu kota memantulkan bayangannya di genangan air. Cahaya itu melesat lurus ke sepasang mata seorang perempuan yang berdiri terpaku di batas trotoar. Ia memegang sebuah payung transparan yang tidak ia kembangkan.

Nama perempuan itu Halea. Nama yang terdengar purba sekaligus asing di tengah bising klakson kendaraan yang saling memburu waktu. Ia mengenakan mantel abu-abu kekecilan yang seolah-olah dipinjam dari masa lalu yang tak pernah selesai. Saat pandangan kami bertemu, ada getaran kosmik yang aneh, seolah-olah seluruh kebisingan dunia mendadak diredam oleh dinding kedap suara yang gaib.

Halea melangkah mendekat ke arah teras ruko tempatku berteduh. Area ini terbuka, tanpa pintu, membiarkan angin malam yang dingin menusuk tulang siapa saja yang singgah. Tanpa sepatah kata pun perkenalan yang klise, ia duduk di sebelahku, menyisakan jarak satu jengkal yang dipenuhi aroma hujan dan kertas tua.

“Boleh aku duduk di sini?” tanya Halea pelan. Suaranya halus, hampir tenggelam oleh desau angin malam.

“Teras ini terbuka untuk siapa saja yang sedang dihajar isi kepalanya sendiri,” jawabku seraya menggeser duduk, memberi ruang yang lebih lapang.

Halea tersenyum tipis, sejenis senyuman yang lahir dari rasa lelah yang menumpuk. “Terima kasih. Kupikir kota ini sudah kehabisan ruang untuk orang yang lupa cara pulang.”

Tuhan, apakah dia juga sedang membawa pecahan cermin yang sama denganku?

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari sakunya. Selembar surat yang tepiannya mulai menguning mencuat keluar dari sela-sela halaman.

“Kau tahu?” Halea membuka suara lagi, matanya lurus menatap gerimis yang mulai mendarat di aspal. “Aku hampir mati dua hari yang lalu.”

Aku tidak terkejut. Di kota ini, pengakuan seperti itu terdengar seperti keluhan cuaca. “Bukan fisikmu, kan?”

“Bukan,” ia menggeleng, jemarinya meraba tepian surat ganjil itu. “Isi kepalaku. Semuanya runtuh bersamaan dengan tumpukan beban kerja dan ekspektasi orang-orang yang menuntutku menjadi sempurna tanpa jeda. Aku ingin melipat lutut dan menghilang saja.”

“Aku tahu rasanya,” balasku, menoleh dan memandangi profil wajahnya yang tampak samar dalam bias cahaya lampu merkuri. “Hari ini, tepat sebelum matamu memotong lamunanku, aku juga sedang bersiap melipat lembaran takdirku sendiri. Dunia terlalu gemar memukuli kita sampai kita merasa sekecil debu.”

Halea menatapku dalam-dalam. “Lalu, apa yang membuatmu masih duduk di sini?”

“Mata kita beradu,” kataku jujur. “Dan mendadak aku merasa tidak sendirian menjalani derita gila ini.”

“Kalau begitu, mari kita bertukar,” sahut Halea, menyodorkan buku catatannya sedikit lebih dekat. “Satu jam saja. Kita pinjam waktu dari keangkuhan dunia untuk merayakan sisa muda kita. Kau ceritakan nestapamu, aku akan mendengarkan. Lalu gantian.”

“Kisahku tidak ada yang indah, Halea. Penuh cacat dan pincang di sana-sini. Aku bahkan tidak pandai menyanyikan lagu kehidupan dengan nada yang merdu.”

“Aku tidak butuh penyair,” potongnya cepat dengan nada tegas, tetapi lembut. “Aku hanya butuh manusia yang jujur dengan lukanya. Ceritakan saja. Aku tidak akan membantah satu patah kata pun.”

Maka, mengalirlah kata-kata dari mulutku. Tentang harapan yang patah, tentang kegagalan yang sengaja kusembunyikan di balik kemeja kerja yang rapi, dan tentang malam-malam panjang saat aku bertarung dengan trauma masa lalu. Halea mendengarkan dengan takzim yang luar biasa. Tak sekali pun ia memotong atau melontarkan kalimat penghakiman yang klise.

“Sekarang giliranku,” ucap Halea setelah keheningan kembali merayap. Ia mengambil surat yang menguning itu, lalu meletakkannya di telapak tanganku. “Bacalah paragraf pertamanya.”

Aku membaca tulisan tangan yang rapi, tetapi mulai memudar di sana.

Kau berharga seada-adanya, sekurang-kurangnya.

“Surat lama?” tanyaku.

“Surat dari seseorang yang pernah mencintaiku dengan segalanya, fully as I am,” jawab Halea, matanya berkaca-kaca, tetapi ada binar keteguhan di sana. “Saat dunia memukulku hingga ingin menyerah, surat ini yang menyelamatkanku. Kelak, aku akan menceritakan isi surat ini kepada anak-anakku nanti. Bahwa ibunya pernah dicintai sedalam itu, sehingga tidak ada alasan bagiku untuk mengakhiri hidup karena kekejaman kota ini.”

Aku mengembalikan surat itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ternyata, rasa sakit memiliki bahasa universalnya sendiri, dan dia baru saja menyembuhkan bagian dari diriku yang hampir mati.

“Kau baru saja menyelamatkanku, Halea,” bisikku.

“Kita saling menyelamatkan,” ralatnya sambil berdiri dan merapikan mantel abu-abunya karena jam dinding imajiner kami telah merampungkan satu jam perayaan itu. “Besok kita harus kembali bertarung dengan dunia, bukan?”

“Ya, tapi kali ini dengan punggung yang lebih tegak.”

Halea tersenyum, memberikan lambaian kecil sebelum melangkah menembus sisa gerimis, meninggalkan teras terbuka yang kini tidak lagi terasa begitu dingin. Cerita kami memang tidak jauh berbeda; kami sama-sama remuk, tetapi malam ini, di bawah lentera ganjil kota, kami menolak untuk dilipat oleh takdir.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda