Cerita Fiksi

3 Butir Telur

3 Butir Telur
Gambar oleh Ilona Frey dari Pixabay

Tak ada masakan terhidang di meja makan. Pun, tak ada bahan makanan tersisa di dapur. Kondisi ini akan bertahan hingga waktu yang tak ditentukan jika suaminya tak kunjung pulang dari berlayar. Suami Endah berlayar untuk seorang juragan ikan. Sekali melaut bisa satu hingga dua minggu. Sebelum berangkat melaut, Endah diberi uang belanja untuk seminggu. Kendati sudah dihemat-hemat, uang itu hanya bertahan seminggu saja. Dan sekarang sudah hari kesepuluh suaminya melaut.

Endah bahkan sudah mencungkil celengan ayam sejak kemarin. Dua puluh ribu yang akan digunakan untuk membeli lauk-pauk saja. Jika dibelanjakan untuk membeli bahan-bahan masak, tidak akan cukup. Minyak goreng habis, bumbu-bumbu dapur habis. Setidaknya jika dibelikan lauk yang sudah masak seperti oseng tempe dan tumis sayur masih bisa dihangatkan lagi sampai waktunya makan malam. Kedua anaknya, Abi dan Buya juga tidak pilih-pilih makanan. Apa pun yang ia hidangkan di meja makan akan tandas tanpa banyak pertanyaan.

Dua anak itu pamit untuk main, tetapi tak kunjung pulang hingga waktu Asar tiba. Endah menyusuri daerah yang biasa kedua anak itu lalui untuk main bersama teman-temannya. Mendekati jalan raya, Endah menemukan kedua anaknya sedang berjalan santai sambil tertawa-tawa. Ah, untung sudah ketemu.

“Abi, Buya, kalian dari mana?” panggil Endah.

Dua anak itu malah tersenyum lebar, mereka lantas mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Abi mengeluarkan dua butir telur, sedangkan Buya hanya sebutir.

“Buat lauk makan kita, Bu. Masing-masing satu. Aku satu, Ibu satu, Buya satu,” kata Abi.

Endah mengernyit. Itu bukan telur ayam kampung atau telur ayam liar yang terkadang memang bisa ditemukan di halaman belakang. Telur yang dibawa anak-anaknya jelas telur ternakan dari pabrik. Bagaimana mereka bisa mendapatkan telur itu sedangkan Endah tak memberikan uang saku sama sekali karena sedang libur sekolah?

“Kalian dapat telurnya dari mana?!” Endah bertanya dengan nada tegas.

Abi yang duluan menjawab sambil menunjuk ke jalan. “Di sana, Bu. Banyak orang yang ambil juga, kok.”

Tanpa bertanya lagi, Endah segera menghampiri jalan yang dimaksud Abi. Di sanalah pemandangan cukup mengejutkan itu terjadi. Sebuah mobil pikap pengangkut telur ayam terguling di pinggir jalan. Alih-alih segera diamankan, telur-telur yang berjatuhan itu menjadi bahan rebutan warga. Seorang pria yang kemungkinan sopir dari mobil tersebut terlihat lemas di pinggir jalan didampingi Pak RT yang sedang merawat luka-lukanya.

Entah pria itu tengah lemas karena kecelakaan yang ia alami atau ia lemas karena telur-telurnya tak akan membawa makan malam ke meja hari ini. Endah berbalik pada kedua anaknya. Dengan mata melotot, ia segera bertanya, “Kalian maling telur ini?!”

“Enggak maling, Bu. Kan yang lain juga ambil, Abi sama Buya cuma ikut-ikutan aja,” balas Abi.

“Iya, Bu. Orang lain aja begitu, kita kan juga ikutan doang. Kita kan ambilnya juga enggak banyak, Bu,” timpal Buya.

“Iya, Bu. Kita cuma ambil tiga butir. Buat makan nanti. Padahal yang lain ambil banyak.”

“Sopirnya bilang kalian boleh ambil enggak?!”

Kedua anak itu sesaat saling pandang, lalu menggeleng pelan.

“Dia tadi larang kalian ambil enggak?!”

Anggukan pelan dari Abi dan Buya yang menundukkan kepala dalam-dalam sudah menjadi jawaban.

“Kalau begitu, tandanya kalian mencuri! Kondisi sopirnya aja begitu, dia enggak punya tenaga buat melindungi telur-telurnya dan kalian seenak hati ambil. Sekarang ikut Ibu, kita minta maaf ke sopirnya!”

Perlu beberapa kali omelan dari Endah sampai akhirnya kedua anak itu menurut. Ketiganya menghampiri si sopir yang sedang duduk di pinggir jalan.

“Pak sopir,” panggil Endah. “Saya dan anak-anak saya mau minta maaf. Anak-anak saya ambil tiga telur, Bapak.”

Pria yang masih lemas itu hanya menyunggingkan senyum tipis sambil mengangguk pelan. Endah segera mendorong kedua anaknya untuk meminta maaf kepada si sopir. Tak lupa pula, Endah menyelipkan satu-satunya uang senilai dua puluh ribu yang ia punya kepada sopir tersebut.

“Buat ganti telur yang diambil anak saya, Pak.”

Setelah menyerahkan uang tersebut, Endah dan anak-anaknya segera pamit. Tiga butir telur itu harganya jelas bukan dua puluh ribu. Ia bisa mendapatkan satu kilo jika beli di pasar. Hanya saja, uang dua puluh ribu itu tak pernah bisa mengganti ketidakjujuran yang dilakukan anak-anaknya. Sampai rumah pun Endah kembali mewanti-wanti Abi dan Buya untuk tidak lagi memanfaatkan kondisi terpuruk seseorang untuk keuntungan mereka sendiri.

Malam itu, Endah memasak telur dadar dan sambal bawang untuk makan malam. Dari tiga telur yang dipunya, satu dipecahkan, dicampur dengan tepung kanji dan daun bawang sisa. Sisa telurnya buat makan besok. Sedang menikmati makan malam sambil bercengkerama, sebuah ketukan di pintu mengejutkan Endah. Mungkinkah itu suaminya?

“Mbak Endah, ini Pak RT.”

Ada sedikit kekecewaan ketika menyadari bukan suaminya yang pulang, tapi bagaimanapun juga pintu itu tetap harus dibuka. Wajah kuyu Pak RT menyambut Endah. Tas cangklong yang biasa ia bawa untuk membawa buku catatan dan alat tulis menunjukkan kalau ia sepertinya habis dari sebuah pertemuan.

“Saya masuk sebentar, ya, Ndah. Ada yang perlu saya omongin dari kejadian telur tadi.”

Pak RT memulai dengan ungkapan lega, “Untung kamu orangnya jujur, Ndah. Anak-anak kamu juga kamu ajarin jujur. Jadinya kamu aman.”

“Aman gimana, Pak?”

“Peternakan telur itu mau nuntut beberapa warga desa, Ndah. Soalnya mobil itu bukannya terguling karena kecelakaan, tapi emang beberapa warga sengaja buat jalan licin dan mancing sopirnya biar lewat jalan itu. Niatnya mau begal, tapi malah jadi terguling. Peternakannya punya orang yang punya jabatan di pemerintahan daerah, makanya kasus ini beneran mau dibawa ke meja hijau.”

Endah tercenung sejenak. Ia sendiri yakin jika polisi tentu tak akan menangkap anak-anaknya karena memang di bawah umur. Tapi untunglah juga Endah berhasil menunjukkan pada sopir mobil pikap tersebut bahwa ia dan anak-anaknya tak pernah berada di satu kubu dengan komplotan begal itu.

“Ah, sama saya dapat titipan dari sopir tadi.” Pak RT merogoh tas cangklongnya lalu menyerahkan satu plastik telur kepada Endah. “Satu kilo telur, sesuai jumlah uang yang tadi kamu berikan ke sopir tadi. Kamu bayar buat satu kilo, kamu dapat satu kilo juga.”

Dada Endah yang semula berat menjadi agak ringan setelahnya. Setidaknya ia mendapatkan harga yang setimpal. Sembari mengamati kepergian Pak RT dengan sepeda motor bututnya, Endah masih bertanya-tanya. Akankah telur-telur itu bisa bertahan sampai suaminya pulang nanti?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda