Cerita Fiksi

Kopi Kedua di Sudut Kedai

Kopi Kedua di Sudut Kedai
Ilustrasi Gambar Kopi Kedua di Sudut Kedai (Sumber Gambar Gemini AI/Nano Banana)

Bel kecil di atas pintu berdenting pelan. Sudah hampir tiga tahun sejak terakhir kali ia duduk di tempat yang sama. Tiga tahun sejak ia berhenti memesan kopi susu tanpa gula dan menggantinya dengan kopi hitam, seolah rasa pahit bisa membuat hidup terasa lebih sederhana.

Kedai itu masih sama. Meja kayu kecil di dekat jendela. Rak buku di sudut ruangan. Lampu-lampu kuning yang menggantung rendah. Bahkan aroma biji kopi yang baru digiling pun masih seperti dulu.

Elena menghembuskan napasnya.

“Meja di sudut masih kosong, Mbak.”

Ia mengangguk kepada barista, lalu berjalan ke tempat yang pernah menjadi miliknya.

Dulu, ia tidak pernah datang ke kedai ini sendirian. Ada seseorang yang selalu duduk di seberangnya. Seseorang yang sekarang seharusnya sudah menjadi bagian dari masa lalu.

Elena baru membuka laptop ketika suara kursi ditarik terdengar dari belakangnya.

“Maaf.”

Suara itu membuat tangannya berhenti di atas keyboard.

Tidak. Tidak mungkin. Ia pun menoleh. Dan dunia seolah berhenti sebentar.

Lingga berdiri di sana dengan kemeja biru tua yang lengannya digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat lebih dewasa dibanding tiga tahun yang lalu. Namun matanya masih sama.

Mata yang dulu selalu membuat Elena lupa alasan mereka bertengkar.

Mereka saling menatap cukup lama.

“Elena?”

Gadis itu tersenyum tipis. “Lingga.”

Hanya dua nama. Tidak ada pelukan, tidak ada pertanyaan tentang kabar, dan tidak ada kalimat, aku merindukanmu.

Lingga akhirnya menunjuk kursi di depannya. “Boleh?”

Elena menggeser laptopnya sedikit. “Silahkan.”

Lingga pun akhirnya duduk.

Seorang barista datang membawa dua cangkir.

Elena mengernyit. “Aku belum pesan.”

“Yang satu punya Mas Lingga,” kata barista itu. "Yang satunya—” Ia melihat Elena. “Kopi susu tanpa gula?”

Elena terdiam, begitu pun dengan Lingga.

“Masih ingat?” tanya Lingga pelan.

Elena mengangkat bahunya. “Bukan aku yang ingat.”

Mereka sama-sama tahu. Kedai ini yang mengingatnya. Pertemuan itu seharusnya hanya berlangsung dua puluh menit. Lingga sedang menunggu seseorang untuk rapat. Sementara Elena sedang mengejar tenggat pekerjaannya. Namun ketika orang yang ditunggu Lingga membatalkan pertemuan, dan ketika laptop Elena tiba-tiba kehabisan baterai, dua orang yang semestinya segera pergi justru tetap duduk.

Mereka berbicara tentang pekerjaan, tentang kota yang semakin macet, tentang harga kopi yang semakin mahal, dan tentang hal-hal kecil yang tidak penting.

Sampai Lingga bertanya, “Kamu masih suka menulis?”

Elena menatap layar laptopnya. “Masih.”

“Buku?”

“Belum ada."

“Kenapa?”

Elena tersenyum hambar. “Entahlah. Mungkin karena aku terlalu sibuk.”

Lingga mengangguk. “Aku juga.”

“Kamu masih kerja di perusahaan itu?”

“Sudah pindah.”

“Ke mana?”

“Arsitektur.”

Elena menatapnya. “Kamu akhirnya jadi arsitek?”

Lingga tersenyum. “ya.” Ada kebanggaan kecil di wajahnya.

Elena pun ikut tersenyum. “Selamat.”

“Terima kasih.”

Hening lagi.

Dulu mereka bisa menghabiskan empat jam hanya dengan membicarakan masa depan. Namun sekarang, mereka kesulitan membicarakan masa lalu.

Ketika kopi mereka hampir habis, Elena berdiri lebih dulu. “Aku harus pergi.”

Lingga mengangguk. “Iya.”

Namun sebelum Elena melangkah, Lingga berkata, “Besok datang lagi?”

Elena menoleh. “Kenapa?"

Lingga melihat cangkir kosong di meja. “Katanya kopi pertama cuma untuk mengingat.” Ia tersenyum kecil. “Kalau kopi kedua, biasanya untuk mendengarkan.”

Besoknya, Elena datang. Lingga sudah duduk di sudut kedai. Hari berikutnya, Lingga datang lebih dulu. Lalu hari berikutnya lagi.

Tidak pernah ada janji, dan tidak pernah ada pesan. Mereka hanya seperti dua orang yang secara kebetulan selalu membutuhkan tempat yang sama.

Kopi pertama diminum sambil bekerja. Kopi kedua diminum sambil bercerita. Kadang Elena menceritakan pekerjaannya yang membuatnya lelah. Kadang Lingga mengeluh tentang klien yang mengubah desain bangunan sebanyak lima kali. Kadang mereka hanya duduk diam.

Aneh rasanya. Dulu, diam di antara mereka terasa seperti hukuman. Sekarang, diam terasa seperti rumah.

Suatu sore, hujan turun lebih deras daripada biasanya. Elena datang dengan wajah kusut. Ia meletakkan tas di kursi lalu menjatuhkan diri ke sofa.

Lingga yang sedang membaca langsung menutup bukunya. “Kenapa?”

“Capek.”

“Kerjaan?”

Elena menggeleng. “Hidup.”

Lingga tertawa kecil. “Berat juga.”

Elena ikut tertawa.

Beberapa menit kemudian, Lingga mendorong cangkir kopinya ke tengah meja.

“Cerita.”

“Aku nggak tahu mau cerita apa.”

“Ya sudah. Mulai dari hal yang paling ingin kamu keluhkan.”

Elena menatapnya. Lalu, entah kenapa, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku takut gagal.”

Lingga tidak menyela.

“Aku takut ternyata selama ini aku cuma mengejar sesuatu yang nggak akan pernah bisa aku capai.” Ia menarik napas. “Aku takut suatu hari nanti aku bangun dan sadar semua yang kulakukan nggak ada artinya.”

Lingga menatapnya lama. “Kamu masih sama.”

Elena mengernyit. “Apanya?”

“Selalu memikirkan akhir sebelum menikmati perjalanan.”

Elena terdiam. Dulu, kalimat itu sering ia benci. Sekarang justru terasa seperti sesuatu yang sudah lama ingin ia dengar. “Kamu masih ingat aku sebanyak itu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Lingga tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap cangkir kopinya. “Sayangnya.”

Elena tersenyum. “Sayangnya?”

“Iya.” Lingga mengangkat wajahnya. “Karena kalau aku nggak ingat, mungkin tiga tahun terakhir akan lebih mudah.”

Hujan masih turun. Suara mesin kopi terdengar dari balik meja barista. Dan untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, Elena merasa mereka akhirnya sedang membicarakan hal yang sebenarnya.

“Aku dulu marah sama kamu,” kata Elena.

“Aku tahu.”

“Karena kamu pergi tanpa menjelaskan.”

“Aku tahu.”

“Aku pikir kamu sudah tidak peduli.”

Lingga menarik napas panjang. “Aku juga marah sama kamu.”

“Kenapa?”

“Karena waktu itu kamu bilang aku harus memilih antara kamu dan pekerjaanku.”

Elena menunduk. “Aku nggak ingat pernah bilang begitu.”

“Kamu bilang, Kalau aku penting, kamu pasti punya waktu."

Elena mengingatnya. Dan tiba-tiba ia merasa bodoh. “Waktu itu aku takut.”

“Aku juga.”

Mereka saling menatap.

“Kenapa kita nggak pernah ngomong seperti ini dulu?” tanya Elena.

Lingga tersenyum sedih. “Karena waktu itu kita terlalu sibuk ingin dimengerti.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku sudah belajar mendengarkan.”

Elena menatap cangkir kopi keduanya. Sudah dingin. Namun ia tidak ingin pergi.

“Lingga.”

“Hm?”

“Kalau waktu itu kita lebih dewasa, menurutmu kita masih bersama?”

Lingga terdiam cukup lama.

Kemudian ia tersenyum. “Aku nggak tahu.”

Elena mengangguk. Jawaban itu justru terasa jujur.

“Tapi aku tahu satu hal,” lanjut Lingga.

“Apa?”

“Aku nggak menyesal pernah mencintaimu.”

Elena menatapnya. Perasaannya terasa hangat. Bukan karena kopi, bukan pula karena kenangan. Melainkan karena akhirnya ada sesuatu yang tidak perlu mereka sesali.

Beberapa minggu berlalu. Pertemuan mereka di kedai tetap menjadi kebiasaan.

Namun suatu Jumat sore, Elena datang dan tidak menemukan Lingga. Ia menunggu. Sepuluh menit, dua puluh menit, hingga sampai setengah jam. Namun Lingga tetap tidak datang.

Ketika ia hendak pergi, barista menghampirinya.

“Mbak Elena.”

“Ya?”

“Mas Lingga titip ini.”

Sebuah cangkir kopi kedua diletakkan di depannya, dengan secarik kertas kecil. Elena pun membukanya.

"Besok aku pindah kota untuk proyek selama enam bulan. Jangan marah karena aku pergi lagi. Untuk pertama kalinya, aku pergi bukan karena ingin meninggalkanmu. Aku pergi karena ingin kembali sebagai seseorang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kalau setelah enam bulan kamu masih mau duduk di meja ini, aku akan pesan kopi kedua."

Elena membaca surat itu dua kali. Lalu tersenyum. Ia mengambil ponselnya dan mengetik satu pesan.

"Pergilah. Aku tidak akan menunggumu."

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

"Bagus. Aku juga tidak ingin kamu menunggu."

Pesan berikutnya muncul.

"Aku ingin kamu hidup."

Elena tersenyum lebih lebar. Ia menatap kursi kosong di hadapannya. Kemudian menyesap kopi yang mulai dingin. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang kehilangan seseorang. Ia hanya merasa sedang memberi seseorang ruang untuk kembali.

Enam bulan kemudian, pada sebuah sore yang biasa, bel kecil di atas pintu kedai berdenting.

Elena sedang duduk di meja sudut.

Seseorang menarik kursi di depannya.

“Masih boleh?”

Elena mengangkat wajahnya.

Lingga tersenyum. Lebih dewasa, lebih tenang, dan entah bagaimana, terasa lebih dekat.

Elena menutup laptopnya. “Bukannya kamu harus pesan dulu?”

Lingga tertawa. “Baiklah.” Ia mengangkat tangan kepada barista. “Dua kopi.”

Elena menggeleng. “Satu dulu.”

Lingga menatapnya heran. “Kenapa?”

Elena tersenyum. “Karena kopi pertama untuk bertemu kembali.” Ia mengambil tempat duduk di depannya saat tatapan mereka bertemu. “Yang kedua, untuk melihat apakah kita masih ingin tinggal.”

Lingga tersenyum.

Sore itu, untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang terburu-buru untuk pergi.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda