Cerita Fiksi
Api Sore Hari
Api datang pada sore hari. Tidak ada suara petir. Tidak ada gunung meletus. Tidak ada pula matahari yang jatuh terlalu dekat ke bumi. Mula-mula, hanya bau asing.
“Apakah kalian mencium sesuatu?” tanya Arang, seekor orang utan tua yang sedang bergelantungan di dahan pohon meranti.
“Aku mencium ketakutan,” jawab Laras, burung enggang yang bertengger di atasnya.
“Ketakutan tidak punya bau,” sahut Bara, seekor musang yang terkenal sinis.
“Kalau begitu, hidungmu terlalu sibuk mencium buah busuk.” Bara mendengus.
Di bawah mereka, hutan sedang menjalani sore seperti biasanya. Rumput-rumput kecil bergumam ketika angin melewati tubuh mereka. Anggrek hutan membuka kelopaknya perlahan. Pohon-pohon tua saling berbisik melalui akar yang menembus tanah.
Hutan itu memiliki bahasa. Hanya saja, manusia terlalu jarang diam untuk mendengarnya.
“Aku haus,” keluh Embun, sebatang pohon muda.
“Kita semua haus,” jawab Pohon Meranti.
Kemarau tahun itu terlalu panjang. Sungai mulai menyempit. Tanah mengeras. Daun-daun berguguran sebelum waktunya.
Arang menatap langit.
“Ada sesuatu yang tidak beres.”
“Lagi-lagi firasat orang tua,” ejek Bara.
Namun Laras tidak tertawa. Dari tempat tinggi, burung itu melihat garis tipis berwarna kelabu bergerak di antara pepohonan.
“API!” teriak Laras.
Sekejap, hutan yang tenang berubah menjadi kepanikan. Burung-burung beterbangan tanpa arah. Rusa-rusa berlari menabrak semak. Ular melata menuju tanah yang lebih dingin. Arang segera turun dari pohon.
“Semua menuju sungai!” teriaknya.
“Aku tidak bisa berlari secepat kalian!” tangis Embun.
“Kau pohon,” kata Bara. “Memang sejak kapan pohon bisa berlari?”
“Ini bukan saatnya bercanda!”
Api menjalar semakin dekat. Rumput yang biasanya bergumam kini menjerit. Dahan-dahan patah terdengar seperti tulang yang dipatahkan. Asap menutupi langit. Di tengah kekacauan itu, muncullah Teras, seekor bekantan muda.
“Kita harus ke arah utara!”
“Utara terbakar!” sahut Laras.
“Kalau ke sungai, kita akan terjebak!”
Arang menatap Teras dengan tajam.
“Lalu ke mana?”
Bekantan itu terdiam. Untuk pertama kalinya, tidak ada yang tahu arah pulang. Mereka akhirnya berkumpul di sebuah tanah lapang yang belum disentuh api. Pohon Meranti tua berdiri di tengah mereka, tubuhnya gemetar diterpa panas.
“Kenapa api ini datang?” tanya Embun.
Tidak ada yang menjawab.
“Aku pernah mendengar cerita dari kakekku,” kata Arang pelan. “Dulu, api datang ketika langit marah.”
“Itu cerita lama,” sela Bara.
“Lalu menurutmu?” Bara menatap kobaran api di kejauhan.
“Mungkin manusia.”
Semua terdiam. Laras mengepakkan sayapnya.
“Manusia?”
“Mereka sering datang membawa suara keras. Menebang pohon. Membelah tanah. Kadang meninggalkan api.”
“Tapi manusia juga pernah menolong,” kata Teras.
“Ya,” jawab Bara. “Manusia selalu bisa menjadi penolong setelah menjadi alasan mengapa sesuatu perlu ditolong.”
Kalimat itu membuat semua makhluk terdiam. Api semakin dekat. Arang menggendong anak rusa yang kelelahan. Laras terbang rendah, mencari jalan keluar. Teras memimpin kelompok menuju celah di antara pepohonan. Sementara Pohon Meranti tetap berdiri.
“Pergilah,” katanya.
“Kau juga harus ikut!” teriak Embun.
Pohon tua itu tertawa lirih.
“Akar tidak punya kaki, Nak.”
Api akhirnya tiba.
Satu per satu pohon mulai terbakar. Arang berhenti dan menoleh ke belakang. Pohon Meranti telah menjadi bayangan hitam di tengah cahaya merah.
“Terima kasih,” bisik Arang.
Lalu mereka berlari. Setelah berjam-jam, kelompok itu tiba di tepian sungai. Mereka selamat. Atau setidaknya, itulah yang mereka pikirkan. Tiba-tiba Laras kembali dari udara.
“Aku menemukan sesuatu!”
“Apa?” tanya Arang.
Burung enggang itu tidak langsung menjawab. Di paruhnya terdapat selembar kain. Bau bahan bakar menyengat dari kain tersebut.
“Aku menemukan ini di dekat tempat api pertama muncul.” Bara mendekat.
“Bukan petir,” gumamnya.
Teras menundukkan kepala.
“Bukan juga matahari.”
Arang mengambil kain itu. Di atas tanah, mereka menemukan bekas langkah kaki manusia. Namun yang membuat mereka semakin terdiam bukanlah jejak tersebut. Di balik semak, berdiri seorang laki-laki. Bajunya berbau asap. Tangannya memegang jeriken kosong.
Ia tidak berlari menyelamatkan diri. Ia justru menatap kobaran api dengan wajah tenang.
“Jadi,” bisik Bara, “kau yang membakar rumah kami?”
Laki-laki itu tentu tidak mendengar. Tidak ada manusia yang mendengar bahasa hutan. Ia hanya tersenyum. Kemudian mengeluarkan telepon genggam dan mengambil gambar.
Arang menatapnya lama. Baru saat itu ia memahami sesuatu yang lebih menakutkan daripada api. Api tidak pernah memilih hutan mana yang harus dibakar. Tetapi manusia memilih. Dan laki-laki itu bukan datang untuk menghancurkan hutan. Ia datang karena hutan yang telah terbakar akan lebih mudah disebut tanah kosong.
Beberapa minggu kemudian, hujan turun. Abu berubah menjadi lumpur. Pohon-pohon yang dahulu berbicara kini berdiri sebagai batang hitam. Di antara sisa hutan, Arang berjalan pelan. Ia menemukan sebuah papan kayu baru.
“DIJUAL LAHAN SIAP DIKELOLA.”
Arang menatap tulisan itu. Lalu ia tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena akhirnya ia mengerti. Manusia tidak pernah kehilangan kemampuan untuk mendengar. Mereka hanya memilih tidak mendengar ketika hutan meminta tolong.