Wajah-wajah Seram di Area Persawahan

M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Wajah-wajah Seram di Area Persawahan
Ilustrasi wajah-wajah menyeramkan di area persawahan (Gemini AI/bb9e)

Malam itu, sudah lewat pukul sepuluh malam, aku bersama istri berkunjung ke rumah saudara di daerah yang agak jauh dari rumah. Saudaraku yang satu ini memang baru saja membangun kehidupan rumah tangga, dan menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi untuk silaturahmi pada malam yang sangat sepi itu.

Sepulangnya dari rumah saudara, aku ambil jalan lain menuju rumah. Semula aku muncul dari arah depan rumah saudara, saat pulang aku keluar dari jalan di belakang rumahnya. Saat jauh dari rumah saudara itu, ternyata banyak sekali pertigaan. Aku yang tak pernah melewatinya cukup dibuat bingung. Bertanya kepada istri, ia juga gelengkan kepala.

Atas dasar feeling, aku arahkan motor ke jalur utara sebab kupikir jalan ini merupakan jalan pintas yang lebih dekat menuju rumah. Ternyata, tidak. Jalan ini malah membawa kami menuju persawahan yang sangat jarang dilalui pengendara. Kami pun tersesat hingga muter-muter di sekitar area persawahan tersebut.

Lebih dari itu, istriku yang termasuk wanita indigo melihat banyak sekali makhluk tak kasatmata berwajah seram di sekeliling persawahan tersebut. Aku yang semula sudah ketakutan, semakin menjadi-jadi ketika dari arah belakang, istri memelukku erat sekali.

“Kenapa erat sekali pelukanmu hingga aku sulit bernapas?” tanyaku sembari menyembunyikan rasa takut.

“Takut. Banyak makhluk astral di sini. Wajah mereka seram. Sangat menakutkan,” tutur istri.

“Ada yang kotak. Ada yang cemberut. Ada pula yang buruk rupa,” imbuhnya.

Laporan istriku ini sungguh membuatku bertambah ciut untuk melajukan motor hingga ke jalan raya. Tangan seolah kram yang hendak tarik gas motor. Begitu pun dengan mata, meski aku tak melihat kejadian aneh dan wajah-wajah seram mereka, namun serasa tak sanggup membuka mata untuk sekadar memandangi alam sekitar.

Tenaga istri semakin kuat memelukku dari arah belakang, sementara aku menguat-kuatkan diri untuk meneruskan perjalanan hingga ke jalanan yang ramai pengendara.

Sesampai di rumah, badanku penuh keringat. Padahal, waktu itu aku hanya mengenakan kemeja lengan pendek tanpa jaket. Demikian pula istri. Selain berderai keringat, ia juga susah mengatur napas. Seperti pencopet yang baru saja lepas dari kejaran massa.

Setidaknya, dengan ini kami mengambil pelajaran. Untuk kunjungan selanjutnya, kami akan lewat di jalan yang telah benar-benar diketahui saja, meski rutenya agak jauh menuju rumah, agar tidak tersesat lagi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak