Cerita Misteri

Lelaki Tak Berkepala yang Berjongkok di Rel Kereta Tanpa Palang Pintu

Lelaki Tak Berkepala yang Berjongkok di Rel Kereta Tanpa Palang Pintu
Ilustrasi rel kereta api (Unsplash/Irina Iriser)

Di kota-kota kecil atau besar, perlintasan rel kereta api pastilah memiliki palang pintu dan petugas penjaga. Namun, di beberapa daerah pelosok, perlintasan tanpa palang pintu justru seringnya memiliki kisah seramnya sendiri.

Ini adalah kisah yang dialami oleh Ibuku di tahun 90an, beliau bertemu dengan sosok lelaki tak berkepala yang duduk di dekat rel kereta api. Begini kisahnya.

“Pak, antarkan aku ke tukang foto ya. Aku perlu pas foto untuk mengurus dokumen pernikahan.”

Sumardi mengangguk. “Baik, kita ke kios foto di dekat pasar induk saja.”

Adzan ashar baru saja terdengar. Setelah menuntaskan kewajiban sholat ashar, Firda pun bergas pergi dengan dibonceng sepeda oleh Sumardi, ayahnya.

Jarak rumah mereka menuju kios foto memang cukup jauh. Apalagi mereka mengendarai sepeda. Tahun 90an, hanya segelintir orang kaya saja yang mampu memiliki motor.

Kios foto yang menawarkan solusi foto kilat paling dekat berada di salah satu kios di pasar induk kecamatan. Letaknya strategis, yang ada di tepian jalan raya antarkabupaten. Dan, foto ini bakal digunakan Firda untuk mengurus dokumen pernikahan.

“Kira-kira kalau foto kilat, nanti menunggu berapa lama ya, Pak?” tanya Firda. “Kalau kemalaman, berani nggak lewat jalur ini?”

“Halah, palingan setengah jam sudah kelar.” Sumardi lalu diam. “Kan ada Bapakmu ini, kenapa kamu takut?”

Firda mendecih. “Bapak memang berani lawan manusia. Tapi selalu kabur kalau ketemu hantu.”

Sumardi tertawa. Dia lantas mempercepat laju sepeda, supaya mereka tidak kemalaman. Maklum, ini adalah satu-satunya jalur penghubung antara kampung mereka dengan titik strategis wilayah sekaligus jalan raya. Jalur ini diharuskan untuk melewati hamparan sawah dan ladang, serta perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu yang kerap menyajikan kisah seram.

Begitu sampai di kios foto, ternyata Firda mendapat antrian kesekian dan harus menunggu selama setengah jam. Di momen tersebut, Sumardi lantas mengajak anaknya untuk andok (makan di tempat) soto lamongan yang terkenal di pasar induk. Mereka juga bertukar cerita seputar Bahri–calon suami Firda. Hingga akhirnya, pas foto berhasil didapatkan.

“Walah, sudah surup (menjelang maghrib), Pak. Berani kan pulang?”

“Kamu ini kok ngenyek (menghina) Bapakmu toh?” Sumardi kemudian berkacak pinggang. “Sudah, ayok pulang.”

Untunglah, situasi jalan lumayan ramai oleh penduduk sekitar. Bahkan saat harus melewati area persawahan, suasananya masih aman. Namun, begitu mendekati perlintasan rel kereta api, tiba-tiba hawanya senyap. Seketika, ada angin dingin yang mampir di tengkuk.

“Baca Bismilah, Nduk,” kata Sumardi. “Semoga nggak terjadi apa-apa.”

Firda mengangguk sebelum turun dari boncengan dan mendorong sepeda. Perlintasan rel disini memang didesain agak naik daripada jalanan. Jadi, Firda berinisiatif untuk mendorong sepeda sebelum melompat ke boncengan.

“Iya, Pak. Toh masih ada orang kok disana. Dia lagi berjongkok,” tunjuk Firda ke salah satu ruas rel dimana ada pohon besar di dekatnya. “Kukira bakalan sepi.”

Sumardi diam. Bulu tengkuknya mulai berdiri. Aslinya dia takut kalau bertemu dedemit. Namun, harga dirinya sebagai laki-laki pasti bakal ditertawakan Firda yang pemberani seperti istrinya, Halimah.

Firda segera mendorong sepeda sambil mengamati siapakah gerangan orang yang berjongkok disana itu. Jaraknya lumayan jauh, kurang lebih empat puluh atau lima puluh meteran. Dari postur tubuhnya, sepertinya dia adalah seorang laki-laki. Dan pakaiannya berwarna cokelat seperti seragam polisi. Namun, ada hal yang janggal….

Lelaki yang berjongkok tersebut, tidak berkepala!

Begitu lolos menyeberangi rel kereta, Firda segera melompat ke boncengan yang membuat Sumardi kaget. “Kamu ini lho! Aku jadi kaget, untung kita nggak jatuh gedebuk!”

“Bapak nggak lihat apa?!”

“Lihat apa sih?!”

“Tadi kubilang ada orang jongkok di dekat rel. Ternyata orangnya nggak berkepala!”

Sumardi kian menggenjot pedal sepeda, supaya mereka lekas menjauhi perlintasan rel. “Lha kenapa kamu nggak kasih tahu aku. Tahu begitu kumintai nomor undian (togel).”

“Halah! Bapak ketemu pocong saja pingsan kok!” Firda tidak berani menengok ke belakang. Jadilah dia memilih berdebat dengan ayahnya, agar rasa takutnya berkurang. “Kukira, tadi itu orang betulan. Pakaiannya cokelat, mirip seragam polisi. Eh, ternyata nggak ada kepala bulat di atas badannya.”

“Seragam polisi?” tanya Sumardi memastikan.

“Iya. Mirip seperti seragam polisi.”

“Jangan-jangan itu arwah Nizam yang gentayangan?!”

“Nizam siapa?”

Sumardi lantas menceritakan insiden tragis beberapa tahun lalu. Mengenai seorang polisi asal desa tetangga yang bernama Nizam. Dia dikenal sangat disiplin, dan memiliki wajah yang garang. Di suatu pagi seperti rutinitasnya, Pak Nizam berangkat ke kantor sambil membonceng putrinya yang masih duduk di bangku SMA. Naas tidak dapat ditolak, begitu melewati perlintasan rel tanpa palang pintu ini, mereka berdua disambar oleh kereta api berkecepatan tinggi.

Tubuh mereka terpental jauh, penuh luka, dan meninggal di tempat. Dan yang paling mengenaskan, kepala Pak Nizam terpisah dari badannya.

“Jadi, kepalanya belum ditemukan, Pak?” tanya Firda.

“Sudah ditemukan dua hari setelah kejadian itu kok. Intinya, mereka sudah dimakamkan dengan layak.” Sumardi menggelengkan kepala saat bayangan insiden itu terlintas di kepalanya. “Mungkin yang tadi itu jejadian.”

Mereka kemudian sampai di rumah dengan degub jantung yang masih bertalu-talu.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda