Cerita Misteri

Suatu Malam bersama Tiga Peronda Misterius

Suatu Malam bersama Tiga Peronda Misterius
ilustrasi Pos Ronda. (Gemini AI/Nano Banana 2)

Usman si pelamun itu kembali menemui gelap malam. Ia keluar dari rumahnya menuju pos ronda. Walaupun bukan gilirannya untuk ronda hari ini. Sebenarnya ia malas keluar rumah, apalagi angin malam berembus cukup kencang. Namun di rumah pun ia tidak bisa tenang. Malam sudah gelap sempurna, sehabis azan isya ia melangkah. Kepalanya masih pening akibat gigi linu menghujam, sudah bolong, tetapi ia belum punya uang untuk mencabutnya. Biaya ke dokter gigi zaman sekarang tidak murah untuk ukuran kantongnya.

Sore tadi sehabis segelas kopi pekat, dicampur setengah keping gula merah, nikmat terasa di lidah, kopi harum dan gurih gula aren. Itulah kesalahannya. Sehabis menikmati kopi itu, giginya yang berlubang terasa ngilu luar biasa. Rasa senat-senutnya menjalar sampai ke pelipis dan ubun-ubun. Dicobanya mandi, akan tetapi dinginnya air, membuat suhu tubuhnya turun dan sakit giginya bertambah parah. Dicobanya sholat ashar, air matanya menetes ketika sujud keenam. Ia lama terdiam dalam sujud, menahan rasa sakit yang luar biasa sambil meratapi nasibnya yang serba kekurangan.

Setelah meringkuk sendirian dalam kamar, yang sedikit hangat. Kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa makin sesak oleh pikirannya sendiri. Ia melangkahkan kaki menuju pos ronda, mencari tahu, apakah ada orang, yang bisa membahagiakan hatinya yang sendu, dihantam gigi yang linu. Setidaknya kalau ada teman mengobrol, rasa sakit itu bisa sedikit teralihkan.

Pos ronda itu terletak di seberang sebuah mesjid kecil, di sebelah selatannya ada kuburan salah satu trah di kampung ini. Kuburan tua yang dikelilingi pohon kamboja besar. Tak ada satu pun orang di pos ronda itu awalnya. Hanya dia sendiri, menutupi sebagian tubuhnya dengan sarung biru kotak-kotak. Berbalut jaket wol hitam yang sudah mulai menipis kainnya, ia duduk dengan posisi meringkuk.

Empat gelas kopi hangat sudah tersaji, bagi warga yang memiliki giliran ronda malam ini. Tampaknya warga yang bertugas belum juga datang, atau mungkin sengaja datang terlambat karena malas menerobos angin dingin. Karena semalam tak tidur, menahan komplikasi sakit gigi dan flu, Usman pun terlelap, berhubung kedua penyakit itu sudah agak mereda setelah terkena angin malam sepoi-sepoi. Lupa ia bahwa sebagai peronda, ia harus berjaga, bahkan mengelilingi kampung bergantian, mencari tahu apakah ada manusia yang berpikiran pendek, untuk mengambil milik orang-orang yang tak berpunya, ataupun hewan yang sedang kelaparan, sehingga nekat menerobos masuk ke rumah manusia, yang pagarnya jarang ataupun pintunya renggang.

Ketika terbangun, di depan matanya terdapat 3 sosok, yang belum bisa dipastikannya apakah itu manusia atau bukan. Suasana sekitar terasa sangat sunyi, bahkan desau angin pun seolah mendadak berhenti.

Sosok pertama menyapanya, “Ayo Masbro, jangan tidur saja, kita di sini kan ronda alias berjaga, he-he-he.” ucapnya sembari menyeringai. Panggilan "Masbro" itu terdengar aneh di telinga Usman, terasa terlalu modern untuk diucapkan di pos ronda kampung.

Yang dua lainnya diam saja, akan tetapi ikut menyeringai. Usman bingung, ia belum pernah melihat 3 sosok ini di desa tempat ia tinggal. Padahal sebagai pelamun yang sering duduk di pos ronda, ia hafal betul wajah semua warga kampung dari ujung ke ujung.

“Panjenengan semua dari kampung ini Pak?” tanya Usman penasaran.

“Iya Mas, kami dulu penghuni kampung sini, dulu sering ikut ronda bantuin warga.” jawab salah seorang yang diam tadi, dengan nada misterius. Suaranya terdengar sangat datar, seperti suara rekaman kaset tua yang diputar berulang-ulang.

Ketiganya berpakaian sama, baju hitam lengan panjang, dengan peci lusuh dan sarung lusuh melingkari badan. Pakaian yang biasa dipakai orang-orang tua zaman dulu ketika menghadiri acara kenduri atau tahlilan.

“Ayo Masbro, seruput kopinya, nanti keburu dingin.” ucap salah seorang peronda misterius itu kepada Usman.

Dengan sigap Usman meraih gelas kopi dan langsung menyeruputnya secara cepat. Rasa hangat kopi itu melewati tenggorokannya. Diperhatikannya ketiga peronda itu juga menyeruput kopi mereka, hanya saja kepulan uap kopi panas mereka melawan arah angin. Uap itu berputar balik menuju wajah mereka sendiri, bukan terbawa angin yang berembus ke utara.

Usman kaget, deg, “Kenapa bisa begitu ya? Siapa sebenarnya mereka ini?” tanya Usman dalam diam.

Ia memperhatikan lebih detail. Rasa ngilu di giginya mendadak hilang, digantikan oleh rasa tebal yang dingin, menjalar cepat hingga ke tengkuk. Ia menatap lekat-lekat pada tiga gelas yang dipegang oleh ketiga sosok itu. Kopi di dalam gelas mereka sama sekali tidak berkurang sedikit pun, meski terdengar suara seruputan yang nyaring berulang kali memenuhi keheningan malam.

Ia tiba-tiba terpikir kata-kata salah seorang peronda itu, “waktu ronda tahun ‘65 dulu.” kalau begitu seharusnya mereka sudah tua sekali. Jika umur mereka 15 tahun saja pada waktu itu, maka seharusnya tahun ini mereka sudah berusia 76 tahun.

“Mengapa ketiganya msih terlihat seumuran dengan aku?” tanya Usman dalam hati. Wajah mereka tidak keriput, kulit mereka tampak biasa saja, hanya sedikit terlalu pucat di bawah temaram lampu pos ronda yang remang-remang.

Bulu kuduknya meremang hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut ketiga sosok di depannya bisa mendengar suara debaran itu. Di bawah temaram lampu pos ronda yang berayun, Usman memberanikan diri melirik ke arah bawah, ke bagian kaki mereka yang tersembunyi di balik untaian sarung lusuh. Kain sarung itu terjuntai lurus tanpa membentuk lekukan mata kaki, menggantung beberapa sentimeter di atas lantai semen pos ronda. Mereka tidak menapak tanah. Mereka mengambang.

Sosok pertama yang menyebut tahun '65 itu tiba-tiba menghentikan langkah mundurnya. Lehernya berputar perlahan, melihat dengan sudut yang tak wajar ke arah Usman yang berada di belakangnya. Seringainya melebar, memperlihatkan deretan gigi yang hitam dan gusi yang seputih kapas. Pemandangan itu membuat bekas gigi berlubang Usman kembali berdenyut ngilu, seolah tertular hawa kematian dari masa lalu.

"Kenapa diam saja, Masbro? Takut?" bisik sosok itu. Suaranya bukan lagi gema dari sumur tua, melainkan desisan angin yang lolos dari sela-sela batu nisan. "Tugas kita belum selesai. Malam ini, ada yang mau coba-coba mengubah batas tanah makam di selatan. Ada yang berpikiran pendek, ingin menggusur rumah kami demi meluaskan pekarangan rumahnya yang baru. Ayo, bantu kami ingatkan dia."

Kedua sosok lainnya kini sudah berdiri di batas bayang-bayang lampu pos ronda, separuh tubuh mereka mulai menyatu dengan kegelapan jalan setapak menuju kuburan trah. Mereka melambaikan tangan secara bersamaan, sebuah gerakan kaku yang dingin, seolah membuat Usman terbius untuk segera bangkit dari bangku kayu.

Tepat di seberang jalan, jam dinding di dalam masjid kecil berdentang satu kali. Menandakan waktu telah bergeser ke pukul satu dini hari. Bersamaan dengan itu, lampu pos ronda mendadak padam total, menyisakan Usman dalam kegelapan pekat bersama tiga peronda dari masa lalu.

Seperti ada magnet yang tak terlihat, menarik tubuh Usman berjalan di belakang tiga peronda misterius itu. Mereka bergerak menuju sebuah rumah di sebelah selatan pos ronda, menyeberang ringroad utara, menuju ke sebuah rumah megah di samping sebuah pemakaman warga. Rumah itu besar sekali, kontras dengan makam tua di sebelahnya.

“Ini Masbro, rumah orang kaya itu.” ucap salah seorang peronda tiba-tiba.

“Itu orangnya Masbro, Panjenengan tunggu di sini saja, biar kami yang berurusan dengan dia.”

Tiba-tiba tiga peronda itu sudah berada di depan sesosok gempal berperut buncit itu. Orang kaya itu tampak sedang memegang linggis besi di tangannya. Mereka mengepung si orang kaya. Yang dikepung panik dan mengayun-ayunkan linggis miliknya mencoba menyerang para pengepung dengan membabi buta. Tak ada yang bisa mengenai tiga peronda itu. Linggis itu hanya menembus udara kosong. Sampai akhirnya linggis itu tiba-tiba terlepas dari genggamannya yang gemetar dan menghantam kaca mobil milik tetangga sebelah rumahnya.

Praaaang! Kaca itu pecah berantakan.

Alarm mobil berbunyi nyaring. Usman langsung bergerak sigap menjauh secepatnya. Kembali ke pos ronda.

Langkah kakinya yang tadi terasa diganduli beban berkwintal-kwintal, mendadak menjadi seringan angin akibat kepungan adrenalin. Ia berlari sekencang-kencangnya membelah kegelapan, menyeberang kembali melintasi aspal ringroad utara yang sepi sekali, tak ada kendaraan yang melintas sama sekali, tanpa menoleh lagi ke belakang. Suara lengkingan alarm mobil di seberang sana masih terus meraung-raung, memecah malam kampung yang tadinya senyap tanpa suara.

Napas Usman memburu hebat ketika tubuhnya kembali terhempas di atas bangku kayu pos ronda. Dada naik turun mengatur napas. Ia segera menarik sarung biru donker kotak-kotaknya hingga menutup kepala, meringkuk menyamar, berpura-pura telah tertidur lelap sejak berjam-jam lalu. Jantungnya berdegup kencang di balik jaket wol hitam.

Dari balik lipatan sarung, Usman melirik ke arah meja. Lampu pos ronda yang tadinya padam kini sudah menyala kembali, berkedip-kedip redup seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Di atas meja kayu, empat gelas kopi masih berjajar rapi. Namun, tiga gelas di antaranya kini benar-benar kosong dengan ampas yang mengering di dasar kaca, sementara satu gelas miliknya masih terisi penuh—kopi racikan sore tadi yang kini sudah sedingin air sumur. Aroma kapur barus dan tanah basah yang tadi pekat, kini menguap sepenuhnya, berganti bau pekat aspal malam hari.

Dari arah seberang jalan, beberapa warga kampung yang mendengar alarm mulai keluar rumah dengan menyalakan senter, kasak-kusuk mencari sumber keributan di dekat rumah megah si orang kaya baru. Suara langkah kaki warga terdengar mendekati area tersebut.

Usman tetap bergeming di posisinya, membiarkan peluh dingin bercucuran di dahinya. Perlahan, ia meraba pipi kirinya. Ganjil. Rasa ngilu, cenat-cenut, dan pening akibat gigi berlubang yang sejak sore menyiksanya habis-habis hingga membuatnya menangis saat sujud, kini hilang total tanpa bekas. Mulutnya terasa plong, seolah rasa sakit itu tertinggal di seberang jalan bersama linggis yang menghantam kaca mobil tetangga.

Usman si pelamun hanya bisa menatap langit-langit pos ronda dalam diam. Rupanya, tiga peronda dari masa lalu itu tidak hanya berhasil menjaga batas tanah makam mereka, tetapi juga sukses menyembuhkan penyakit giginya dengan cara yang paling bikin jantung copot.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda