Serial Layangan Putus menjadi bahan perbincangan belakangan ini karena banyak penonton yang mengklaim bahwa kisah pedih Kinan sangat relate dengan kehidupan mereka. Web series viral ini aslinya merupakan versi pengembangan dari cerita dalam novel karya drh. Eka Nur Prasetyawati, atau lebih dikenal dengan sebutan “Mommy ASF” dengan judul yang sama.
Seiring berakhirnya serial web series ini, ada anggapan bahwa cerita dalam serial Layangan Putus berasal dari apa yang dialami sendiri oleh dok Eca (panggilan drh Eka Nur). Akan tetapi, "konspirasi" ini telah dibantah beberapa kali oleh yang bersangkutan, salah satunya dalam podcast The Sungkars.
Pada kesempatan lain, dok Eca menghadiri sebuah sesi wawancara di channel YouTube Feni Rose Official dan bercerita banyak soal bagaimana awal mula ia menulis Layangan Putus. Menurut penuturannya, kisah Layangan Putus aslinya merupakan seri cerpen yang ditulisnya dalam sebuah forum online. Pertemuannya secara kebetulan dengan teman penulis membuatnya berkenalan dan masuk dalam forum berbagi karya di Facebook.
Tulisan-tulisannya di forum inilah yang menjadi asal muasal kisah Layangan Putus dilirik penerbit dan menjadi novel hingga akhirnya bertransformasi menjadi web series. Dok Eca sendiri mengaku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk merampungkan novelnya karena kondisinya yang saat itu sedang dalam masa transisi dari tempat kerjanya dan duka atas kehilangan anak kelimanya. Akan tetapi, tekanan dari penerbit dan keinginan besarnya sendiri untuk mengeluarkan cerita ini secara utuh menjadi pemicu dok Eca untuk merampungkan Layangan Putus.
Meskipun terdapat banyak perbedaan dengan novel aslinya, serial Layangan Putus mengadopsi esensi “mendua” dari novel, yang kemudian diubah sedemikian rupa menjadi drama perselingkuhan. Judul “Layangan Putus” diambil Dok Eca karena menurutnya sesuai untuk menggambarkan kondisinya yang saat itu tengah terombang-ambing ketidakpastian.
Pesan yang ingin disampaikan Dok Eca melalui novel ini sebagai penulis sesungguhnya adalah dorongan kepada siapa pun untuk berpegang teguh pada komitmen yang telah dibuat. Selain itu, ia juga menyinggung pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan pasangan, termasuk untuk urusan poligami yang dipercayainya.
Feni Rose dalam wawancara ini juga berusaha mengulik korelasi elemen-elemen dalam novel dengan sang penulis. Saat membahas tokoh Kinan, misalnya, dok Eca membeberkan bahwa perbedaan mendasar dirinya dengan tokoh Kinan adalah respon terhadap peristiwa. Ia mendeskripsikan dirinya sebagai orang yang penuh perhitungan, sementara Kinan relatif lebih cepat dalam merespon sesuatu.
Perbincangan mereka ditutup dengan pendapat dok Eca soal casting Layangan Putus. Ia tampak ragu-ragu menyatakan pendapatnya terkait pemilihan Reza Rahadian sebagai pemeran sosok Aris. Sementara itu, dok Eca hanya memberikan tanggapan “good job” dan “bravo” untuk pemilihan Putri Marino dan Anya Geraldine sebagai pemeran sosok Kinan dan Lidya.