Film Balas Budi resmi mencuri perhatian sejak perilisan teaser trailer perdananya. Mengusung genre romantis-komedi dengan sentuhan konflik emosional, film ini menghadirkan cerita tentang pengkhianatan cinta yang berujung pada solidaritas perempuan.
Nama Gisella Anastasia dan Michelle Ziudith pun langsung menjadi sorotan utama, berkat dinamika karakter yang mereka tampilkan dalam cuplikan singkat berdurasi kurang dari satu menit tersebut.
Alih-alih menampilkan kisah cinta klise yang berakhir damai, Balas Budi justru memperlihatkan sisi pahit relasi yang retak akibat kebohongan.
Teaser trailer dibuka dengan gambaran sosok Budi, karakter yang diperankan Yoshi Sudarso, sebagai pria nyaris sempurna. Ia tampil menawan, penuh perhatian, dan berhasil membuat dua perempuan, Thalita (Gisel) dan Alma (Michelle Ziudith), jatuh ke dalam pesonanya. Namun, kesan ideal itu tak bertahan lama.
Seiring berjalannya cuplikan, kebohongan demi kebohongan mulai terkuak. Budi ternyata bukan pria tulus seperti yang selama ini ia perlihatkan. Pengkhianatan yang terungkap secara perlahan menjadi titik balik cerita, sekaligus pemantik emosi utama dalam film ini.
Ekspresi kecewa, marah, dan terluka tergambar jelas dari raut wajah Thalita dan Alma, memperlihatkan perjalanan emosional dua perempuan yang harus menerima kenyataan pahit tentang cinta.
Menariknya, Balas Budi tidak berhenti pada narasi patah hati semata. Teaser trailer menunjukkan perubahan signifikan ketika rasa sakit itu tidak lagi dipendam sendiri.
Thalita dan Alma memilih untuk bangkit, dan dari sinilah benang merah solidaritas mulai dirajut. Keduanya tidak berjalan sendiri. Mereka bergabung dengan Ayu (Niken Anjani) dan Uli (Givina), membentuk sebuah aliansi yang lahir dari pengalaman luka yang serupa.
Adegan markas rahasia yang dipenuhi papan investigasi, foto-foto, serta catatan strategi menjadi simbol kuat perubahan arah cerita. Dari korban pengkhianatan, keempat perempuan ini bertransformasi menjadi sosok yang aktif menyusun rencana. Meski dikemas dalam nuansa komedi, atmosfer di bagian ini terasa penuh tekad.
Balas Budi seolah ingin menegaskan bahwa kemarahan dan kekecewaan tidak selalu berujung pada kehancuran, tetapi bisa menjadi bahan bakar untuk merebut kembali kendali atas hidup.
Judul Balas Budi sendiri terasa sarat makna. Nama “Budi” yang identik dengan kebaikan justru dipelintir menjadi simbol pengkhianatan.
Sementara kata “balas” mengisyaratkan perlawanan, bukan semata dendam membabi buta, melainkan upaya memberi pelajaran. Hal ini diperkuat dengan adegan penutup teaser yang cukup mengejutkan, ketika Budi terlihat disekap di sebuah kursi.
Adegan tersebut ditampilkan secara menggantung, meninggalkan rasa penasaran tentang sejauh apa aksi balas dendam itu akan dijalankan.
Disutradarai oleh Reka Wijaya, Balas Budi tampaknya berupaya menghadirkan cerita yang dekat dengan realitas banyak orang, khususnya pengalaman perempuan yang pernah dikhianati.
Namun, alih-alih mengemasnya secara kelam, film ini memilih pendekatan yang lebih ringan lewat humor dan dinamika pertemanan. Unsur komedi menjadi penyeimbang agar tema berat seperti manipulasi dan kebohongan tetap terasa menghibur.
Lebih dari sekadar kisah cinta yang kandas, Balas Budi juga menyoroti pentingnya dukungan antarsesama perempuan.
Relasi Thalita, Alma, Ayu, dan Uli menjadi pengingat bahwa luka sering kali lebih mudah disembuhkan ketika dibagi dan dihadapi bersama. Teaser trailer ini memberi sinyal bahwa film tidak hanya akan mengajak penonton tertawa, tetapi juga merenung tentang kejujuran, kepercayaan, dan harga diri.
Dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026, Balas Budi berpotensi menjadi tontonan segar di awal tahun.
Dengan kombinasi konflik emosional, komedi, serta pesan tentang solidaritas perempuan, film ini tampaknya siap menawarkan hiburan yang relevan dan mengena. Teaser trailer-nya sendiri sudah cukup untuk membuat publik penasaran, menunggu bagaimana kisah balas dendam ini akan berakhir di layar lebar.