Brigitta Sriulina Beru Meliala atau yang akrab disapa Idgitaf menjadi salah satu musisi yang karyanya kerap menemani keseharian banyak orang.
Lagu-lagunya tak hanya sering diputar di kafe atau kantor, tetapi juga masuk dalam playlist harian pendengarnya. Salah satu lagu yang akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian adalah Sedia Aku Sebelum Hujan.
Lagu ini terasa dekat dengan pengalaman banyak orang, sehingga wajar jika setiap pendengar memaknainya dengan cara yang berbeda-beda sesuai perjalanan hidup masing-masing.
Lagu Sedia Aku Sebelum Hujan memang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kedekatan itulah yang membuat lagu ini memiliki banyak tafsir di kalangan pendengar.
Melalui unggahan podcast di kanal YouTube Juan & Eve pada Sabtu (3/1/2026), Idgitaf mengungkapkan bahwa lagu tersebut merupakan salah satu bentuk caranya meluapkan perasaan cinta.
“Jadi, Sedia Aku Sebelum Hujan itu adalah bentuk luapan cinta aku karena aku juga merasa dicintai. Makanya aku bisa bikin karya kayak gitu,” tutur Idgitaf.
Ia pun menjelaskan bahwa rasa dicintai mampu mendorong seseorang untuk berkembang dan menghasilkan hal-hal baik.
“Bayangkan apa yang bisa dilakukan cinta padamu. Kalau lo dicintai sebegitunya, lo tuh benar-benar bisa melesat seperti roket,” kata Idgitaf.
Pengalaman itulah yang juga dirasakan Idgitaf saat menulis lagu tersebut. Ia mengaku sedang berada dalam fase jatuh cinta yang mendalam bersama pasangan yang tepat, sehingga emosi itu mengalir ke dalam karya.
Meski berangkat dari pengalaman pribadi, Idgitaf menyadari bahwa ketika lagu tersebut dilepas ke publik, maknanya menjadi milik banyak orang dan bisa ditafsirkan secara beragam.
“Ada orang yang kayak cuma cinta sendirian. Bucin mampus, tapi nggak dibucinin balik. Itu banyak banget interpretasinya,” ujar Idgitaf.
Bahkan, ia menyebut ada pendengar yang memaknai lagu tersebut sebagai bentuk hubungan spiritual maupun kepedulian terhadap alam.
“Ada yang interpretasinya ke Tuhan, ngutip-ngutip dari Al-Kitab. Bahkan sekarang ada juga interpretasi hutan dan bumi. Fungsi hutan di bumi ini. Pokoknya jadi banyak banget,” tutur Idgitaf.
Bagi Idgitaf, secara pribadi lagu ini tetap merepresentasikan cinta kepada pasangan. Cinta yang dimaksud bukan tentang diri sendiri, melainkan tentang kebahagiaan yang lahir ketika melihat orang yang dicintai bahagia.
“Kalau dari aku pribadi, ya emang cinta itu kayak gitu bentuknya. Kita tuh nggak ngelihat diri kita kalau sudah ngomongin cinta. Tapi kita bisa ngerasa bahagia karena kita bikin dia bahagia,” ungkapnya.
Melalui lagu ini, Idgitaf juga menyelipkan harapan agar setiap orang bisa menemukan hubungan yang setara. Ia menegaskan bahwa cinta seharusnya dirasakan oleh kedua belah pihak.
“Sebenarnya harapan aku, ya lo harus cari orang yang bisa bikin lo ngerasa dicintai juga. Ugal-ugalannya itu harus setara,” tuturnya.
Pesan tersebut selaras dengan salah satu lirik lagunya, “Jika tak setara, kumaafkan, memang segitunya aku…”. Menurut Idgitaf, makna setara yang dimaksud bukan soal latar belakang atau status, melainkan keseimbangan dalam saling mencintai.
“Waktu aku nulis itu, aku melihat dia, aku merasa kekurangan dia bisa aku penuhi. Dan sebaliknya, kekurangan aku juga bisa dia penuhi,” kata Idgitaf.
Lagu ini mengajak siapa pun untuk memahami bahwa cinta yang sehat adalah cinta yang tumbuh dari rasa saling dicintai, dipahami, dan dijalani secara setara.