Kisah Dokter Gia Pratama Keluarkan Koin di Leher Balita Pakai Kateter Urin

Sekar Anindyah Lamase | Mira Fitdyati
Kisah Dokter Gia Pratama Keluarkan Koin di Leher Balita Pakai Kateter Urin
Tangkap layar Dokter Gia Pratama dan Raditya Dika (YouTube/Raditya Dika)

Kejadian tak terduga sering menjadi bagian dari keseharian tenaga medis, terutama mereka yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Salah satunya dialami oleh Dokter Gia Pratama, yang pernah menangani kasus unik seorang balita yang menelan uang koin hingga tersangkut di leher.

Dalam kondisi serba terbatas dan di luar jam pelayanan poli, Dokter Gia bersama tim medis dituntut untuk bertindak cepat. Keputusan yang diambil bukan hanya soal prosedur, tetapi juga soal keselamatan pasien yang masih berusia sangat kecil.

Dokter Gia menceritakan, seorang anak datang ke IGD bersama kedua orang tuanya dalam kondisi panik. Kecurigaan muncul setelah mereka menyadari uang kembalian belanja tidak lengkap.

“Dok, ini si dedek dok. Tadi kita habis belanja, dapat kembalian Rp1.500 koin. Tapi sekarang tinggal Rp500. Yang Rp1.000 ke mana?” ujar Dokter Gia.

Orang tua pun menduga sang anak telah menelan koin tersebut. Namun, alih-alih menangis atau menunjukkan tanda kesakitan, anak itu justru tampak tenang dan tersenyum. Saat ditanya, ia hanya menyebut kata “uit” atau “duit”, membuat Dokter Gia semakin curiga.

Pemeriksaan awal di mulut tidak menunjukkan keberadaan koin. Untuk memastikan, Dokter Gia kemudian menyarankan pemeriksaan rontgen.

Melalui podcast di kanal YouTube Raditya Dika yang diunggah pada Jumat (2/1/2026), Dokter Gia menjelaskan bahwa kasus benda asing merupakan hal yang sering ditemui di IGD.

“Kalau di IGD itu memang sering ada benda asing yang harus dikeluarkan. Ada yang benda mati, ada juga yang benda hidup,” kata Dokter Gia.

Dalam istilah medis, kondisi tersebut disebut corpus alienum. Hasil rontgen menunjukkan koin benar berada di leher anak, tepatnya di saluran esofagus. Meski terdengar mengkhawatirkan, anak tersebut tidak mengalami sesak napas.

“Dia masih bisa ngomong ‘uit’. Artinya bukan di jalur paru-paru, tapi di jalur esofagus,” tutur Dokter Gia.

Ia juga menjelaskan bahwa leher manusia memiliki dua saluran berbeda, yakni menuju paru-paru dan menuju lambung, sehingga tidak semua benda yang tertelan langsung mengganggu pernapasan.

Masalah muncul karena kejadian tersebut berlangsung pada hari Minggu. Poli THT tutup dan dokter spesialis tidak berada di tempat. Di tengah situasi tersebut, seorang perawat menyarankan ide tak biasa.

“Perawatku bilang, dok ada alat yang bisa kita pakai buat ngambil koin itu. Kateter urin,” ujar Dokter Gia.

Dengan bantuan ibu pasien yang memegangi tubuh anak, Dokter Gia memasukkan kateter urin melalui mulut. Kateter tersebut memiliki balon kecil di ujungnya yang dapat dikembangkan dengan udara.

Balon itu kemudian dikembangkan hingga ukurannya menyesuaikan saluran esofagus. Saat kateter ditarik perlahan, koin yang tersangkut ikut terbawa keluar.

“Berhasil keluar si koin,” tutur Dokter Gia.

Keberhasilan itu disambut lega oleh semua pihak. Orang tua merasa tenang, tim medis bernapas lega, dan sang anak pun selamat.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak