Kak Seto Angkat Bicara soal Polemik Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans

Hayuning Ratri Hapsari | Natasya Regina
Kak Seto Angkat Bicara soal Polemik Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans
Seto Mulyadi (Instagram/kaksetosahabatanak)

Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto ikut menjadi sorotan publik seiring viralnya memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans.

Buku tersebut mengungkap pengalaman grooming yang dialami Aurelie saat masih remaja dan memicu kembali perbincangan lama tentang penanganan kasus tersebut di masa lalu.

Seiring mencuatnya kisah dalam memoar itu, publik ramai menelusuri jejak digital terkait pihak-pihak yang pernah terlibat, termasuk peran Kak Seto ketika orang tua Aurelie sempat meminta perlindungan kepadanya.

Saat itu, Kak Seto diketahui menjabat sebagai pimpinan Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Respons Lama Kembali Dipertanyakan Publik

Unggahan Instagram Story Seto Mulyadi (Instagram/kaksetosahabatanak)
Unggahan Instagram Story Seto Mulyadi (Instagram/kaksetosahabatanak)

Sorotan publik mengarah pada penanganan laporan yang diajukan orang tua Aurelie kala itu. Banyak pihak menilai proses tersebut terkesan berjalan tanpa kejelasan dan tidak memberikan respons yang signifikan.

Situasi ini membuat Kak Seto kembali menuai kritik tajam, terutama setelah kisah Aurelie diungkap secara terbuka melalui Broken Strings.

Menanggapi polemik yang berkembang, Kak Seto akhirnya menyampaikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya.

Ia menyadari bahwa sikap dan pernyataannya di masa lalu kini kembali menjadi bahan perbincangan publik.

“Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat,” tulis Kak Seto pada Rabu (14/1/2026).

Perubahan Cara Pandang dalam Pendampingan Anak

Dalam pernyataannya, Kak Seto menjelaskan bahwa pendekatan terhadap pendampingan anak telah mengalami banyak perubahan dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Menurutnya, pemahaman tentang relasi kuasa, kerentanan remaja, hingga dampak psikologis jangka panjang kini jauh lebih berkembang dibandingkan masa lalu.

“Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa setiap langkah pendampingan yang dilakukan pada masanya didasarkan pada pengetahuan, kewenangan, dan kerangka pemahaman yang berlaku saat itu.

“Pada masanya, setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku saat itu,” lanjut Kak Seto.

Standar Perlindungan Anak Kini Lebih Ketat

Kak Seto juga mengakui bahwa standar perlindungan anak saat ini jauh lebih ketat dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, tuntutan terhadap kepekaan dan kehati-hatian kini semakin besar, terutama dalam melihat potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan relasi kuasa.

“Namun kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa,” ungkapnya.

Ia menyebut kasus yang dialami Aurelie Moeremans sebagai refleksi penting untuk memperbaiki sistem perlindungan anak di masa mendatang.

“Oleh karena itu, kami menjadikan refleksi atas praktik masa lalu sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan,” katanya.

Tegas Mengecam Grooming dan Dukung Suara Korban

Masih dalam klarifikasinya, Kak Seto secara tegas mengecam segala bentuk praktik grooming dan relasi yang tidak setara. Ia menekankan bahwa anak tidak dapat dibebani tanggung jawab atas hubungan yang dibangun melalui manipulasi.

“Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming,” tekannya.

Lebih lanjut, Kak Seto juga menyampaikan apresiasi kepada para korban yang berani bersuara. Menurutnya, keberanian tersebut menjadi pengingat penting bagi semua pihak agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki dan diperkuat.

“Kami memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak,” tambahnya.

Ajakan Bersikap Bijak dan Fokus ke Depan

Di akhir pernyataannya, Kak Seto mengajak publik untuk menyikapi polemik ini dengan empati dan kebijaksanaan. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung terciptanya ruang aman bagi anak-anak Indonesia, baik saat ini maupun di masa depan.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati, kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan,” tutupnya.

Polemik yang mencuat akibat Broken Strings pun menjadi momentum refleksi bersama tentang pentingnya keberpihakan kepada korban serta pembaruan sistem perlindungan anak yang lebih sensitif terhadap kerentanan dan relasi kuasa.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak