3 Risiko Penyakit Akibat Bulu Kucing yang Penting Diwaspadai

Sunatus Solikhah
3 Risiko Penyakit Akibat Bulu Kucing yang Penting Diwaspadai
Ilustrasi kucing (Pexels/Ihsan Adityawarman)

Masih banyak orang yang mengabaikan berbagai risiko penyakit akibat bulu kucing. Atau malah belum mengetahui sama sekali bahwa bulu kucing berisiko membawa penyakit membahayakan bagi tubuh manusia.

Terutama bagi orang yang sedang menderita penyakit autoimum serta para ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi. Untuk itulah sangat penting menjaga kebersihan hewan kesayangan satu ini supaya tidak terjadi hal-hal tidak diinginkan. Dilansir dari laman Halodoc.com, inilah 3 risiko penyakitnya:

1. Reaksi Alergi

Risiko pertama yaitu timbulnya reaksi alergi. Munculnya alergi asalnya bukan semata-mata dari bulu, tapi urine serta air ludah kucing. Seperti kita tahu bahwa kucing akan menjilat dirinya sendiri.

Akan secara otomatis air ludahnya terkena bagian bulu. Secara umum kemunculan reaksi alergi mengakibatkan gejala flu, bersin, pilek, mata terasa gatal serta peradangan pada bagian sinus. Bulu hewan kesayangan juga bisa memicu timbulnya asma.

BACA JUGA: 5 Alasan Kucing Seringkali Berguling-guling di Tanah dan Lantai, Salah Satunya Merasa Aman

2. Toksoplasmosis

Risiko penyakit akibat bulu kucing selanjutnya bernama toksoplasmosis. Jenis penyakit ini dapat disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini bisa ditemukan pada kotoran kucing yang sudah mengalami infeksi.

Sesudah terinfeksi, sekitar waktu 2 hingga 3 minggu, hewan kesayangan akan mengeluarkan parasit pada fesesnya. Ketika kucing menjilati bagian bulunya, berpotensi meninggalkan parasit tersebut. 

Parasit tersebut nantinya bisa pindah ke manusia saat mengelus bulu hewan kesayangan. Penyakit ini sangat penting diwaspadai karena parasit tersebut dapat mengakibatkan bayi lahir cacat. Selain itu juga membuat ibu hamil rentan mengalami keguguran.

BACA JUGA: 5 Alasan Induk Kucing Memakan Anaknya, Bikin Hati Terenyuh

3. Penyakit Cakar Kucing

Risiko terakhir yaitu penyakit cakar kucing atau cat scratch disease. Secara umum untuk jenis penyakit satu ini tidak menimbulkan gejala. Bakterinya bernama Bartonella henselae, dapat berpindah kepada manusia lewat gigitan maupun cakaran kucing.

Selain cakaran atau gigitan, penularan juga bisa melalui cara lain. Seperti, menyeka mata menggunakan tangan yang sebelumnya telah terkontaminasi bakteri sesudah menyentuh kucing. Secara umum, penyakit ini menimbulkan benjolan kecil selama waktu 10 hari. 

Bukan hanya benjolan, bisa juga diikuti gejala lainnya, seperti demam, mual, muntah, lelah, menggigil, rasa nyeri bagian kelenjar getah bening serta peradangan. Tapi, untuk orang berdaya tahan tubuh baik, biasanya penyakit ini tidak menimbulkan dampak serius.

BACA JUGA: 5 Tanda Kucing Sakit, Segera Periksakan ke Dokter

Supaya terhindar dari risiko penyakit akibat bulu kucing, sebaiknya jaga kesehatan hewan kesayangan kamu ini. Bukan hanya dari segi makanan atau minuman yang dikonsumsi, tapi juga kebersihan tubuh. Jangan lupa untuk mencuci tangan setelah menyentuh kucing.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak