Health
Ancaman Tersembunyi Social Smoking: Dari Ikut-Ikutan Bisa Menuju Ketergantungan Loh!
Banyak orang merasa dirinya aman karena hanya merokok dalam situasi tertentu, misalnya saat berkumpul bersama teman, nongkrong di kafe, atau ketika sedang stres. Tahukah Anda bahwa fenomena ini dikenal sebagai social smoking, yaitu perilaku merokok yang muncul terutama dalam situasi sosial?
Mengacu pada Levinson et al. (2007), social smoking adalah perilaku merokok yang dilakukan secara tidak rutin dan biasanya terjadi saat seseorang bersama perokok lain. Sementara itu, Taylor (2018) memperjelas bahwa perilaku ini dapat berkembang melalui social contagion, yaitu pengaruh lingkungan sosial seperti teman sebaya, keluarga, dan media yang mendorong seseorang untuk mencoba rokok agar diterima dalam kelompok. Meskipun tidak dilakukan setiap hari, social smoking tetap berisiko karena dapat berkembang menjadi kebiasaan merokok yang lebih rutin, dan paparan nikotin tetap dapat memengaruhi sistem saraf serta meningkatkan keinginan untuk merokok lebih lanjut.
Mahasiswa sebagai Kelompok yang Paling Rentan
Penelitian Satya et al. (2024) menunjukkan bahwa prevalensi perokok pada kelompok usia 20–24 tahun mencapai 27,2%. Angka ini bukan kebetulan. Usia tersebut bertepatan dengan masa kuliah, fase hidup di mana tekanan sosial sangat tinggi, identitas diri masih terbentuk, dan keinginan untuk diterima kelompok berada di puncaknya. Banyak mahasiswa yang mulai merokok bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena ingin terlihat terikat atau nyambung dengan lingkaran pertemanannya.
Selain tekanan sosial, stres akademik turut berperan besar. Tugas yang menumpuk, konflik organisasi, kekhawatiran soal masa depan, semua itu menciptakan ketegangan yang mencari jalan keluar. Rokok sering menjadi solusi instan yang terasa paling mudah dijangkau. Secara ilmiah, ini bisa dijelaskan, di mana nikotin merangsang pelepasan dopamin yang mengaktifkan sistem reward otak, sehingga menimbulkan perasaan nyaman dan tenang. Ketika rokok berhasil membuat stres terasa lebih ringan, otak secara otomatis mencatat pengalaman itu sebagai sesuatu yang bermanfaat dan mendorong individu untuk mengulanginya. Inilah yang disebut proses reinforcement, dan inilah risiko menuju ketergantungan.
Perspektif Psikologi Kesehatan
Dalam psikologi kesehatan, perilaku social smoking dapat dijelaskan menggunakan teori Health Belief Model (HBM). Merujuk dari Rosenstock (1974), teori ini menjelaskan bahwa seseorang melakukan suatu perilaku berdasarkan keyakinannya terhadap risiko, manfaat, dan hambatan yang dirasakan, berdasarkan enam komponen dalam teori ini yang secara langsung bisa menggambarkan mengapa social smoking begitu sulit untuk dihentikan, sebagai berikut:
Perceived Susceptibility (Kerentanan yang Dirasakan):
Perceived Susceptibility adalah keyakinan individu mengenai seberapa besar dirinya berisiko mengalami suatu penyakit atau masalah kesehatan. Banyak social smoker merasa dirinya tidak rentan terhadap kecanduan karena hanya merokok saat berkumpul dan tidak menganggap diri sebagai perokok. Padahal, paparan nikotin yang berulang, meskipun tidak setiap hari, tetap dapat membentuk toleransi dan ketergantungan secara bertahap. Rendahnya kesadaran risiko membuat perilaku ini terus dilakukan tanpa disadari.
Perceived Severity (Keparahan yang Dirasakan):
Perceived Severity adalah keyakinan individu tentang tingkat keseriusan penyakit dan dampaknya terhadap kehidupan. Dampak social smoking sering dianggap tidak serius karena efeknya tidak langsung terasa. Seseorang masih merasa sehat sehingga menganggap rokok tidak berbahaya. Padahal, merokok dapat meningkatkan risiko gangguan paru-paru, penyakit jantung, penurunan stamina, gangguan tidur, serta masalah konsentrasi, dan juga dapat memicu ketergantungan psikologis sebagai pelarian stres.
Perceived Benefits (Manfaat yang Dirasakan):
Perceived Benefits adalah keyakinan individu bahwa perilaku sehat akan memberikan manfaat dan mengurangi risiko penyakit. Manfaat berhenti merokok meliputi peningkatan kesehatan, pernapasan lebih lega, kualitas tidur yang lebih baik, kebugaran meningkat, serta penghematan biaya. Selain itu, berhenti merokok juga melindungi orang sekitar dari paparan asap rokok. Semakin seseorang menyadari manfaat ini, semakin besar dorongan untuk mengubah perilaku.
Perceived Barriers (Hambatan yang Dirasakan):
Perceived Barriers adalah persepsi individu terhadap berbagai hambatan atau kesulitan yang dapat menghalangi perilaku sehat. Hambatan utama berasal dari lingkungan sosial, seperti rasa tidak enak menolak ajakan teman, takut dianggap tidak solid, atau khawatir dijauhi kelompok. Budaya nongkrong yang identik dengan merokok membuat perilaku ini terasa normal sehingga banyak orang kesulitan untuk berhenti atau menolak ajakan.
Cues to Action (Isyarat untuk Bertindak):
Cues to Action adalah pemicu yang mendorong seseorang untuk mengambil tindakan atau menerapkan perilaku sehat. Seseorang biasanya mulai mempertimbangkan berhenti merokok setelah ada pemicu tertentu, seperti munculnya masalah kesehatan, pengalaman melihat orang terdekat terdampak rokok, atau paparan informasi kesehatan dari media dan tenaga kesehatan. Pemicu ini meningkatkan kesadaran akan risiko yang sebelumnya diabaikan.
Self-Efficacy (Efikasi Diri):
Self-efficacy adalah keyakinan seseorang untuk mampu menolak atau berhenti merokok. Individu dengan self-efficacy rendah cenderung mudah mengikuti tekanan teman, sedangkan individu yang lebih percaya diri mampu menolak ajakan dengan tegas tanpa takut merusak hubungan sosial.
Upaya untuk Mengurangi Perilaku Social Smoking
Meninjau dari Health Belief Model, perilaku merokok tidak hanya dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga oleh bagaimana individu memaknai risiko, manfaat, dan hambatan yang dihadapi. Perubahan perilaku perlu dimulai dari dalam diri melalui cara seseorang menilai situasi dan risiko. Dalam model ini, self-efficacy yang tinggi membuat individu lebih mampu menolak tekanan sosial untuk merokok, namun hal ini perlu didukung oleh self-control sebagai kemampuan mengendalikan dorongan, emosi, dan kebiasaan yang memicu keinginan merokok.
Self-control merupakan fondasi penting dalam perubahan perilaku. Menurut Ananda dan Rohmadani (2025), kemampuan ini membantu individu mengarahkan perilaku sesuai tujuan jangka panjang meskipun menghadapi godaan jangka pendek. Self-control dapat dilatih secara bertahap, seperti mengurangi paparan lingkungan pemicu merokok, menunda dorongan sesaat, serta membiasakan pengambilan keputusan berdasarkan kebutuhan diri, bukan tekanan sosial.
Selain itu adalah komunikasi asertif, kemampuan menyampaikan keputusan secara tegas namun tetap sopan, untuk dapat menghindari ajakan yang dapat menimbulkan risiko, seperti merokok. Tidak kalah penting yaitu membangun cara mengelola stres yang lebih sehat, dengan olahraga ringan, menulis buku harian, mendengarkan musik, atau sekadar berbicara dengan orang yang dipercaya adalah alternatif yang lebih sehat.
Lingkungan sosial juga berperan besar dalam membentuk perilaku merokok. Dukungan dari teman dan lingkungan yang menerapkan gaya hidup sehat dapat membantu seseorang mengurangi atau menghindari kebiasaan merokok, sedangkan lingkungan yang menganggap merokok sebagai hal biasa dapat mendorong perilaku tersebut terus berlanjut.
Social smoking mungkin terasa sepele. Tapi kebiasaan yang diulang meski hanya sesekali perlahan bisa membentuk pola yang jauh lebih sulit diputus. Kesadaran bahwa sesekali bisa berubah menjadi setiap kali adalah langkah pertama yang paling penting untuk keluar dari ancaman ini. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memiliki kontrol diri yang baik, mengembangkan cara yang lebih sehat dalam mengelola stres, serta berani menolak ajakan merokok agar terhindar dari kebiasaan yang berpotensi berkembang menjadi ketergantungan.
Penulis
- Cantika Zulyanti
- Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog.