Hobi

Penyakit Lama Kambuh, Jerman Kembali Tersingkir Dini dari Ajang Piala Dunia

Penyakit Lama Kambuh, Jerman Kembali Tersingkir Dini dari Ajang Piala Dunia
Timnas Jerman gagal mengamankan tiket ke babak 16 besar usai kalah adu penalti dengan Paraguay. (Instagram/dfb_team)

Impian besar Timnas Jerman untuk melangkah jauh di ajang sepak bola paling bergengsi tahun ini harus pupus lebih cepat. Skuad berjuluk Der Panzer ini terpaksa angkat kaki lebih awal dari Piala Dunia 2026 setelah tersingkir di babak 32 besar.

Kekalahan melalui drama adu penalti melawan Paraguay di Stadion Boston, Amerika Serikat, pada Selasa (30/6/2026) waktu setempat, resmi mencatatkan rekor buruk bagi Jerman di panggung internasional.

Kekecewaan mendalam menyelimuti ruang ganti para pemain Jerman setelah laga tersebut. Julian Nagelsmann, pelatih kepala Jerman, mengakui bahwa hasil ini sangat sulit diterima oleh seluruh anggota tim.

Ia pun mengungkapkan bahwa atmosfer di dalam ruang ganti sungguh menyesakkan karena perjuangan mereka harus terhenti dengan cara yang dramatis.

""Kami terlalu lama memaksa lawan untuk mengejar permainan. Kami seharusnya bisa lebih sering mengirim bola ke dalam kotak penalti. Kami harus menyelesaikan pertandingan sebelum harus ditentukan lewat adu penalti. Proses pembangunan serangan kami terlalu lambat," kata Nagelsmann sebagaimana dikutip Antara News dari laman resmi FIFA.

Pertandingan sendiri berjalan cukup alot. Paraguay berhasil unggul lebih dulu lewat gol Julio Enciso pada menit ke-42. Jerman sempat memberikan respons positif dengan menyamakan kedudukan melalui aksi Kai Havertz pada menit ke-54. Namun, upaya tersebut belum cukup untuk mengunci kemenangan dalam waktu normal.

Saat laga harus ditentukan melalui adu penalti, keberuntungan tidak berpihak pada Jerman. Kai Havertz, yang menjadi harapan di lini depan, gagal menjalankan tugasnya setelah tendangannya ditebak dengan sempurna oleh kiper lawan, Orlando Gill. Kesalahan tersebut kemudian diikuti oleh kegagalan Nick Woltemade.

Drama semakin memuncak saat memasuki fase sudden death. Jonathan Tah melepaskan tendangan yang melambung tinggi di atas mistar gawang. Sebaliknya, Jose Canale sukses menjalankan eksekusinya dan memastikan langkah Paraguay menuju babak 16 besar, sementara Jerman harus merelakan tiket tersebut lepas dari genggaman.

Nagelsmann menyoroti beberapa aspek teknis yang dianggap sebagai penyebab kegagalan timnya. Ia merasa skuadnya terlalu lama menekan lawan tanpa hasil yang maksimal di kotak penalti. Menurutnya, Jerman seharusnya bisa menyelesaikan pertandingan sebelum harus sampai pada babak adu penalti yang sangat bergantung pada faktor keberuntungan.

Pelatih asal Jerman ini juga mengkritik ritme permainan anak asuhnya yang dirasa terlalu lambat dalam membangun serangan. Hal ini membuat Paraguay dengan mudah membaca alur permainan dan membatasi ruang gerak penyerang-penyerang Jerman sepanjang laga berlangsung.

Mengapa Struktur Permainan Jerman Sering Berantakan?

Tak sedikit yang menilai bahwa masalah utama Jerman bukan terletak pada minimnya talenta pemain. Meski memiliki materi pemain yang mewah dan sarat pengalaman, struktur permainan tim sering kali kehilangan bentuk yang konsisten. Kelemahan ini terlihat nyata terutama saat mereka telah unggul, di mana fokus pemain cenderung menurun.

Salah satu kendala terbesar adalah kecenderungan pemain yang terlalu bebas keluar dari posisinya, sehingga menciptakan celah antar lini yang mudah dimanfaatkan lawan. Selain itu, Jerman sering kali terlihat lemah dalam menghadapi tekanan tinggi, yang mengakibatkan distribusi bola dari lini belakang menjadi kacau.

Kesalahan individu saat kehilangan bola di area berbahaya menjadi pemandangan yang cukup menyakitkan bagi pendukungnya. Belum lagi masalah pertahanan yang belum solid terhadap serangan balik cepat dan situasi bola mati yang kerap menjadi momok bagi lini belakang Jerman.

Secara keseluruhan, terlihat bahwa kualitas individu yang dimiliki Jerman belum mampu bertransformasi menjadi sebuah sistem permainan yang stabil dan matang. Di laga krusial seperti melawan Paraguay, ketenangan dan efisiensi di depan gawang menjadi pembeda yang sangat terasa.

Jika menilik perjalanan mereka di Piala Dunia 2026, sebenarnya Jerman sempat menunjukkan performa yang menjanjikan. Mereka tampil dominan di fase grup, termasuk kemenangan telak atas Curacao dan kemenangan atas Pantai Gading. Namun, rapor tersebut merosot drastis ketika memasuki fase gugur yang menuntut mentalitas lebih tangguh.

Hasil ini tentu menjadi catatan kelam bagi sejarah sepak bola Jerman di Piala Dunia. Sejak menjadi juara pada edisi 2014 di Brasil, performa mereka terus mengalami pasang surut yang mengkhawatirkan, dengan dua kali gagal di fase grup, dan kini terhenti di babak 32 besar.

Publik tentu berharap ada perubahan sistematis agar raksasa Eropa ini bisa kembali mendominasi di masa depan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda