Hobi

Piala Dunia 2026 dan Tak Selarasnya Casing Timnas Maroko dengan Dapur Pacu Mereka

Piala Dunia 2026 dan Tak Selarasnya Casing Timnas Maroko dengan Dapur Pacu Mereka
Para pemain Timnas Maroko merayakan kemenangan mereka atas Belanda di babak 32 besar Piala Dunia 2026 (dok. FIFA)

Keberhasilan Timnas Maroko memulangkan Belanda dari gelaran Piala Dunia 2026 sedikit-banyak menegaskan bahwa capaian mereka di edisi sebelumnya bukanlah sebuah kebetulan semata. Tahukah kalian, keberhasilan Maroko membuat kejutan dalam dua edisi Piala Dunia berturut-turut, ternyata diwarnai ketidakselarasan antara casing tim dengan dapur pacu permainan yang mereka miliki?

Jika kebanyakan orang selalu memandang casing atau wadah adalah representasi dari isi yang dimiliki, maka tidak demikian halnya dengan Timnas Maroko ini. Karena dalam pandangan saya pribadi, Timnas Maroko ini merupakan skuat yang unik, yang mana wadah tim yang mereka miliki sangat berbeda dan sama sekali tidak mencerminkan isian yang ada di dalamnya.

Masih bingung dengan statemen saya? Baiklah, mari kita ulas perlahan-lahan agar maksud saya dalam tulisan ini bisa tersampaikan dengan lebih baik kepada teman-teman Sobat Bola Yoursay.

Timnas Maroko: Hanya Wadahnya Saja yang Afrika, Isi di Dalamnya Berkualitas Eropa

Kita tentunya sepakat, ketika kita melihat sesuatu, pasti sudah bisa membayangkan apa saja isi yang ada di dalamnya berdasarkan pandangan pertama yang kita lihat itu. Semisal begini, ketika kita membeli mobil pabrikan Jepang, sudah pasti yang ada dalam benak kita, komponen-komponen yang ada di dalamnya berasal dari pabrikan yang sama, bukan? Pun demikian halnya saat kita membeli mobil pabrikan Korea Selatan, kita pasti juga memiliki pemikiran yang sama. 

Sejalan dengan ilustrasi saya di atas, pada guliran Piala Dunia 2026 ini, ketika kita menyebut sebuah negara yang menjadi peserta, kita bakal langsung membayangkan para pemain yang berada dalam skuatnya pasti berasal dari negara tersebut. Kalaupun ada yang bermain di luar negeri atau berdiaspora, tentu saja hal itu menjadi sebuah hal yang wajar.

Semisal kita menyebutkan Timnas Argentina ataupun Timnas Portugal. Meskipun kebanyakan pemain yang masuk dalam skuat itu bermain di luar negaranya, namun secara mayoritas, pemain-pemain itu lahir dan memulai karier sepak bolanya di negara yang bersangkutan.

Negara lainnya pun demikian. Meskipun mereka membawa para pemain abroad yang mungkin saja hijrah ke negara lain untuk belajar sepak bola di usia tertentu. Namun pada intinya, pemain-pemain itu terlahir dan menghabiskan masa kecil mereka --walau hanya beberapa tahun-- di negara yang bersangkutan.

Tapi untuk kasus Maroko ini sangat berbeda. Dari data yang coba saya rangkum, dari 26 pemain Tim Singa Atlas di pentas Piala Dunia 2026 ini, hanya tujuh pemain saja yang lahir di Maroko. Sementara sisanya yang sejumlah 19 pemain itu, lahir di luar Maroko dengan rincian 18 pemain lahir di benua Eropa dan satu pemain lainnya, Yassine Bounou lahir di Kanada. Uniknya, sebagian besar para pemain ini bukan hanya "numpang" lahir saja, namun juga mulai mengenal dan belajar sepak bola di negara-negara tempat mereka lahir.

Seperti contohnya, Achraf Hakimi dan Brahim Diaz yang lahir di Spanyol. Sedari usia dini mereka sudah mengenyam ilmu-ilmu sepak bola bergaya Eropa, yang mana pada akhirnya membuat mereka menjadi pemain yang memiliki kualitas tak kalah dengan talenta sepak bola Benua Biru lainnya. Hakimi yang lahir di Madrid pada 1998, langsung menjadi bagian dari Ciudad de Getafe, CD Colonia Ofigevi di tahun 2005-2006 yang mana membuatnya belajar banyak tentang dasar-dasar permainan sepak bola khas Eropa.

Sementara Diaz yang lahir di Malaga pada tahun 1999, sejak usia yang masih sangat belia, sudah mendapatkan ilmu persepakbolaan bergaya Eropa bersama UD Mortadelo, CD Tiro Pichon dan digaet akademi Malaga CF di tahun 2007 hingga 2013. Tentunya ilmu sepak bola yang berhasil didapatkan oleh para pemain ini tak bisa dianggap biasa-biasa saja. Karena sedari usia dini mereka sudah mengenyam ilmu sepak bola di benua Eropa, segala atribut permainan yang mereka miliki pun berkembang sesuai dengan standar persepakbolaan Eropa yang tak bisa dipungkiri menjadi barometer kualitas sepak bola dunia.

Dan patut untuk dicatat, di tubuh Timnas Maroko sendiri bukan hanya Hakimi dan Brahim Diaz saja yang mengalami fase tersebut. Seperti yang telah saya kemukakan di atas, secara total, ada belasan pemain yang menjalani tahapan menimba ilmu sepak bola seperti yang dilakoni oleh Hakimi maupun Diaz. 

Keseriusan Federasi Turut Sumbang Tingginya Prestasi

Dalam data rincian yang saya dapatkan, di skuat Maroko saat ini ada enam pemain yang lahir di Spanyol, kemudian enam pemain lahir di Prancis, tiga pemain lahir di Belanda dan tiga pemain lahir di Belgia. Sementara Yassine Bounou yang lahir di Kanada pada 1991, namun sudah melanglangbuana ke berbagai klub Eropa semenjak tahun 2012 lalu. Dan saya melihat, tak ada pembiaran talenta yang dilakukan oleh federasi sepak bola Maroko terkait dengan keberadaan bibit-bibit pemain keturunan yang mereka miliki.

Berbeda dengan PSSI yang baru-baru ini saja serius untuk memulangkan para pemain berdarah Indonesia ke tanah air, Federasi Sepak Bola Maroko yang mengetahui ada banyak pemain berkualitas berdarah negaranya di seberang lautan, terus melakukan pemantauan yang intensif. Bukan hanya itu, mereka juga berupaya sekuat tenaga untuk memulangkan para pemain itu ke tanah air. Hasilnya pun tak bertepuk sebelah tangan. Banyak talenta berkelas Eropa yang sejatinya juga berpotensi untuk membela negara lain, berhasil diyakinkan serta dibujuk untuk membela tanah leluhur mereka di pentas internasional.

Dampak yang ditimbulkan imbas kepulangan pemain sekelas Hakimi dan kolega ini pun tak kaleng-kaleng. Maroko yang sebelum Piala Dunia 2022 di Qatar prestasi terbaiknya hanyalah mencapai babak 16 besar di edisi 1986, bertransformasi menjadi tim yang menakutkan. Tim yang dalam tiga kali penyelenggaraan Piala Dunia pasca 1986 selalu terhenti langkahnya di fase penyisihan grup, tiba-tiba saja menjadi tim paling mengejutkan di dunia setelah berhasil menjadi semifinalis gelaran di Qatar lalu.

Dalam pandangan saya pribadi, hal ini tak lepas dari materi pemain yang mereka miliki. Mereka cenderung sangat berbeda dengan tim-tim Afrika lainnya, yang mana permainannya lebih mudah untuk ditundukkan oleh tim dari Eropa maupun Amerika Latin.

Meskipun Timnas Maroko secara geografis menjadi perwakilan dan representasi kekuatan sepak bola benua Afrika, namun apa yang mereka tunjukkan di Piala Dunia 2026 ini sama sekali tak memiliki ciri khas persepakbolaan Benua Hitam. Alih-alih bermain dengan mengandalkan kekuatan fisik dan kecepatan seperti Ghana, Senegal, Pantai Gading dan tim-tim Afrika lainnya, Maroko justru bermain dengan mengedepankan teknik, skill, ketenangan dan mental bertarung khas Eropa yang cenderung tak terburu-buru untuk menyelesaikan peluang dan menyengat di waktu yang tepat.

Dibandingkan permainan bergaya Afrika kebanyakan, permainan yang ditunjukkan oleh Maroko seperti ini, harus kita akui jauh lebih sulit untuk diantisipasi oleh tim-tim lawan. Buktinya pun sudah terpampang hingga sejauh ini. Setelah di fase grup kemarin mereka berhasil menghantam Skotlandia dan Haiti serta menahan imbang Brasil, selanjutnya di fase gugur Hakimi dan kolega kembali membuat kejutan besar dengan memulangkan Belanda yang digadang-gadang banyak kalangan bakal menjadi juara di turnamen sepak bola paling besar sejagat raya ini.

Jadi, bagi tim-tim lain yang nantinya bakal berhadapan dengan Maroko, jangan sampai terkecoh ya. Maroko ini casingnya saja yang Afrika, tapi di dalamnya, semuanya berintikan Eropa. 

Daftar Tempat Kelahiran Pemain Timnas Maroko

Lahir di Maroko

Ahmed Reda Tagnaouti
Marwane Saâdane
Youssef Belammari
Azzedine Ounahi
Soufiane Rahimi
Amine Sbaï
Ayoub El Kaabi

Lahir di Spanyol

Achraf Hakimi
Brahim Díaz
Chadi Riad
Munir El Kajoui
Ismael Saibari
Ayoube Amaimouni-Echghouyab

Lahir di Prancis

Issa Diop
Ayyoub Bouaddi
Gessime Yassine
Redouane Halhal
Samir El Mourabet
Neil El Aynaoui

Lahir di Belanda

Sofyan Amrabat
Noussair Mazraoui
Anass Salah-Eddine

Lahir di Belgia

Bilal El Khannouss
Chemsdine Talbi
Zakaria El Ouahdi

Lahir di Kanada

Yassine Bounou

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda