Kolom

Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului

Desa Les, Astra dan Pendidikan: Ngupapira Kearifan Lokal hingga Aksi Nyata yang Selangkah Mendahului
Salah satu sudut Desa Les ketika matahari terbit (dok. Nyoman Nadiana)

Jika berbicara tentang dunia pariwisata, tentu kita akan sepakat jika Provinsi Bali masih menjadi yang terdepan di negeri ini. Namun ternyata, di Bali bukan hanya pesona wisatanya saja yang membuat saya terkagum-kagum. Saya mendapati di sebuah desa bernama Les yang terletak di Kabupaten Buleleng, Bali—yang menjadi salah satu Desa Sejahtera binaan Astra—ternyata memiliki iklim pendidikan yang selangkah lebih maju, bahkan mendahului umumnya dunia pendidikan di Indonesia saat ini.

Kenyataan tersebut saya peroleh ketika saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara dengan Nyoman Nadiana, inisiator sekaligus penggerak utama program Desa Sejahtera Astra Desa Les, pada Rabu (5/8) siang kemarin. Sebuah kesempatan yang langka sekaligus mewah bagi saya pribadi, karena tak mudah untuk bisa mendapatkan waktu luang dari beliau. Bahkan, saya menghitung untuk bisa mendapatkan jadwal wawancara itu, saya harus melakukan perubahan waktu hingga tiga kali banyaknya.

Beruntungnya, di tengah kesibukan Bli Nyoman—demikian saya memanggil beliau—, yang setiap harinya harus mobile dan super sesak dengan beragam jadwal pun agenda, beliau berkenan untuk saya wawancarai. Dan karena saya adalah seorang guru, maka pada kesempatan wawancara itu saya lebih banyak mengulik tentang dunia pendidikan yang menjadi salah satu bidang program Desa Sejahtera Astra Desa Les, yang mana hal itu sangat linier dengan keseharian saya.

Sekadar menginformasikan, program Desa Sejahtera Astra sendiri tidak hanya terfokus pada satu bidang saja. Selain menyentuh dunia pendidikan, program Desa Sejahtera Astra di Desa Les ini juga menyinggung sektor kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. 

Hasilnya? Seperti yang telah sedikit saya singgung di atas, apa yang dijabarkan oleh Bli Nyoman dalam wawancara hangat yang cukup singkat di siang itu, membuat saya sebagai seorang pendidik terkagum-kagum, karena ternyata program pendidikan di Desa Les ini—dalam pandangan saya—sudah setapak lebih maju daripada tempat lain, bahkan bisa saya katakan selangkah lebih maju dari dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya.

ADWI 2024 Bukanlah Akhir, tapi Sebuah Pijakan dan Lecutan Tajam

Perwakilan Desa Les saat memenangkan Kategori Desa Wisata Terbaik 2024 di ADWI 2024 (dok. Don Rare)
Perwakilan Desa Les saat memenangkan Kategori Desa Wisata Terbaik 2024 di ADWI 2024 (dok. Don Rare)

Pada tanggal 17 November 2024, Desa Les dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata. Layaknya penghargaan Piala Citra untuk dunia perfilman Indonesia atau Piala Oscar untuk perfilman dunia, gelar ADWI sendiri merupakan titel tertinggi yang bisa didapatkan oleh sebuah daerah dalam dunia pariwisata. Sebuah label yang tentunya sangat prestisius.

Namun, bagi Bli Nyoman dan Desa Les, label bergengsi itu bukanlah akhir dari perjuangan yang mereka inisiasi. Alih-alih berpuas diri, gelar ADWI justru mereka jadikan sebagai sebuah lecutan untuk terus bekerja keras dan menggapai penghargaan-penghargaan bergengsi lainnya. 

Hasilnya, di tahun berikutnya (2025), desa yang terletak di pesisir utara Pulau Dewata ini meraup berbagai penghargaan. Saya rangkum dari berbagai sumber, pada tahun 2025 kemarin, desa Les tercatat menjadi Juara I Trisakti Tourism Award (Kategori Wisata Kuliner), Penghargaan Kepala Desa Penggerak UMKM Naik Kelas–Fokus pada penguatan ekonomi lokal, Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan–Standar nasional untuk kelestarian desa, dan Juara VII Lomba Desa Tingkat Kabupaten Buleleng.

Modernisasi Pendidikan dan Visi Progresif di Lembaga Binaan

Pratama Widyalaya Hita Kumara (dok. Instagram @pw.hita_kumara)
Pratama Widyalaya Hita Kumara (dok. Instagram @pw.hita_kumara)

Meskipun gelar-gelar prestisius Desa Les sebagian besar didapatkan di bidang lingkungan dan pariwisata, hal itu tak lantas membuat mereka mengesampingkan program-program bidang lain. Bidang pendidikan yang menjadi tonggak utama peradaban suatu bangsa, juga mendapatkan porsi dan perhatian yang besar di desa yang terletak di Kabupaten Buleleng, Bali tersebut.

Bahkan, dalam pandangan saya pribadi, program yang digerakkan oleh Bli Nyoman di bidang pendidikan, ibarat mengolaborasikan dua hal yang saling bertolak belakang, namun saling menopang erat satu sama lain. Bagaimana tidak, berdasarkan penjelasan yang beliau sampaikan, dalam proses pembelajaran di sekolah yang menjadi binaannya, meskipun mereka masih menggunakan kurikulum dari pemerintah, dalam hal ini Kemenag, namun mereka juga menyisipkan kearifan lokal-kearifan lokal yang selama ini menjadi ciri khas daerah setempat.

"Di (sekolah) Pratama Widyalaya Hita Kumara—biasa disingkat PW Hita Kumara yang menjadi sekolah binaan mereka-, karena berbasis agama Hindu, secara kurikulum kita masih menganut yang dari Kemenag. Namun kami juga menyisipkan unsur-unsur seni dan adat istiadat agama Hindu," terang Bli Nyoman dalam wawancara virtual yang kami jalani.

Uniknya, dalam proses pendidikan di Desa Les, Bli Nyoman juga menyematkan visi bersaing yang jauh ke depan. Selain menyiapkan generasi muda yang "ngupapira" (merawat/melestarikan) kearifan-kearifan lokal yang menjadi jati diri dan ciri khas kehidupan masyarakat di Bali, beliau juga menyiapkan generasi yang melek akan tantangan bertaraf global. Salah satunya adalah dengan memfasilitasi kelas bahasa Inggris dan keterampilan yang berkaitan dengan dunia pariwisata dalam program pendidikan lain yang diinisiasi.

Sekarang, coba kita bayangkan, bagaimana unggulnya generasi yang saat ini tengah berusaha dicetak oleh Bli Nyoman dan para penggerak pendidikan di Desa Les ini. Dalam satu tubuh, mereka memiliki wawasan dan skill yang berlevel global, namun di tubuh yang sama, mereka juga memiliki jiwa yang menjunjung tinggi kearifan lokal yang dalam hal ini diwakili dengan dimasukkannya unsur seni dan adat-istiadat lokal serta kepariwisataan yang selama ini menjadi ciri khas kepribadian luhur Desa Les khususnya dan Provinsi Bali pada umumnya. Bukankah karakter seperti ini juga menjadi cita-cita dari pendidikan nasional yang belakangan ini tengah digembar-gemborkan oleh pemerintah?

Bukan hanya proses pembelajarannya saja yang progresif-visioner dengan mengolaborasikan kearifan lokal dan skill berorientasi kontekstual, Bli Nyoman juga sangat memperhatikan kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan di Desa Les. Berkolaborasi dengan Astra, pihak Desa Les melakukan pengadaan alat pemroyeksi yang tentu saja membuat proses pembelajaran menjadi semakin efektif, menyenangkan dan modern.

Saya di sini tak ingin berfokus pada jenis alat pemroyeksi pembelajaran yang kini dimiliki oleh PW Hita Kumara. Karena bagi saya, untuk lembaga pendidikan setingkat PAUD yang hingga kini masih dianggap sebagai tingkatan pendidikan level kesekian dalam pandangan umum masyarakat Indonesia, hal itu sudah menjadi sebuah breakthrough tersendiri.

Bagi saya pribadi yang sudah belasan tahun berkecimpung di dunia pendidikan, langkah Bli Nyoman ini terbilang sangat progresif-visioner dan melampaui pergerakan dinamika dunia pendidikan yang dimotori oleh pemerintah saat ini.

Bagaimana tidak, pendidikan level PAUD yang oleh sebagian besar orang umum dipandang "tak penting-penting amat", di Desa Les ini justru mendapatkan perhatian yang tak kalah serius. Ketika di sebagian wilayah Indonesia lainnya lembaga pendidikan PAUD masih saja berkutat dengan kebingungan mereka untuk sekadar mendapatkan tempat untuk berkegiatan, di Desa Les justru mereka sudah mendapatkan peralatan penunjang pembelajaran yang terbilang cukup modern. 

Sehingga ketika saya mendapatkan penjelasan dari Bli Nyoman bahwa PW Hita Kumara sudah memiliki alat pemroyeksi sebagai penunjang pembelajaran, bagi saya hal itu adalah sebuah akselerasi besar. Jika boleh saya katakan, dalam hal ini PW Hita Kumara sukses meninggalkan "rombongan PAUD" lain yang sampai sekarang masih belum bisa memastikan kapan bisa memiliki peralatan yang sama dengan mereka itu. 

Harus diakui, pengadaan alat pemroyeksi pembelajaran yang diinisiasi oleh Bli Nyoman dan Astra untuk PW Hita Kumara, menjadikan lembaga pendidikan yang satu ini selangkah lebih maju daripada mayoritas sekolah-sekolah sejenis di seluruh Indonesia. Terlebih lagi, ada sebuah fakta yang cukup menarik untuk diketahui. Berdasarkan informasi dari laman referensi.data.kemendikdasmen dan akun Instagram @pw.hita_kumara, PW Hita Kumara ini statusnya adalah sekolah swasta yang baru mendapatkan izin pendirian dan operasional pada tahun 2024 lalu.

Meskipun masih berusia relatif muda, dalam tempo tak lebih dari dua tahun, mereka sudah mampu memiliki perangkat pembelajaran yang sedemikian baik, mengalahkan sekolah-sekolah milik pemerintah yang harus menunggu bahkan hingga bertahun-tahun lamanya untuk bisa mendapatkan peralatan serupa.

Mungkin, kalau diibaratkan dengan perjalanan manusia, PW Hita Kumara ini seperti bayi Superman yang tumbuh kembang dan lesatannya jauh lebih pesat ketimbang kebanyakan bayi manusia lainnya.

Perwujudan Nyata Jargon 'Pemerataan Pendidikan' dan 'Belajar di Mana Saja'

Suasana belajar di Kelas Alam Desa Les (dok. les-buleleng.desa.id)
Suasana belajar di Kelas Alam Desa Les (dok. les-buleleng.desa.id)

Perbincangan hangat kami pun berlanjut. Sebelumnya, saya mengira pembentukan karakter anak yang ngupapira kearifan lokal sedari dini, fasilitasi kelas bahasa Inggris ataupun penyediaan kelas dengan fasilitas mengajar yang modern adalah puncak dari kepedulian program Desa Sejahtera Astra Desa Les di bidang pendidikan, namun ternyata saya salah.

Gong dan kulminasi kekaguman saya terhadap visi pendidikan di Desa Les ini justru baru dimulai pada penjelasan beliau selanjutnya. Sebuah penjelasan yang membuat saya semakin terpana, karena ternyata Desa Les sudah mendahului pemerintah dalam melaksanakan jargon "Pendidikan yang Merata" dan "Belajar di Mana Saja" dengan mendirikan sekolah di alam terbuka.

Di tengah mindset mainstream pemerintah yang menitikberatkan pembangunan gedung-gedung sekolah megah untuk memancing peningkatan kualitas pendidikan, Desa Sejahtera Astra Les justru menginisiasi kegiatan belajar tanpa sekat di alam terbuka. "Kelas Alam" demikian Bli Nyoman menyebut Kelas Alam Bhuana Lestari yang dikelolanya, menekankan sebuah proses pembelajaran yang menitikberatkan pada keselarasan dan harmoni antarmakhluk, serta memposisikan manusia sebagai bagian dari ekosistem, bukan penguasa yang merusak.

Uniknya, program ini tak hanya menyasar peserta dari jenjang tertentu saja. "Kelas Alam" yang diprakarsai oleh pria yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Les itu diikuti oleh anak-anak lintas jenjang, yang mana fokus dan tujuan utamanya adalah melatih skill anak-anak setempat di bidang bahasa Inggris, dasar pariwisata, serta materi akademis guna mencetak pemandu wisata lokal yang andal.

"Kami juga ada 'Kelas Alam' yang tersebar di beberapa wilayah. Pesertanya dari berbagai jenjang. Para siswanya ada yang dari SMP, SMA, SMK," ujar Bli Nyoman. Dalam penjelasan lebih lanjut, beliau juga menyampaikan bahwa pengadaan Kelas Alam yang diprakarsainya itu tak lepas dari kontur Desa Les yang selain landai, juga memiliki beberapa wilayah berbukit.

"Beberapa tempat di Desa Les, memiliki ketinggian 400-500 meter dari permukaan laut. Jadi, sangat cocok untuk dijadikan tempat Kelas Alam," lanjutnya membeberkan alasan.

Dan yang membuat saya selaku pendidik semakin terkesima lagi adalah, program pendidikan yang diinisiasi oleh Bli Nyoman di Desa Les ini sangat terstruktur, terarah, dan yang terpenting, memiliki jadwal yang jelas. Berbeda dengan kelas-kelas nonformal lainnya yang kebanyakan jadwalnya tak spesifik dan berjangka waktu yang cukup lama, jadwal kelas alam Desa Les ini dijalankan secara berkala tiap pekan.

Bahkan, meskipun kini disibukkan dengan berbagai kegiatan komunitas yang menuntut mobilitas tinggi, Bli Nyoman menyampaikan bahwa kegiatan kelas alamnya tetap berjalan setidaknya dua kali dalam sebulan, dengan waktu penyelenggaraan yang lebih fleksibel.

Tak Pernah Merasa Cukup: Niatan Mulia Wujudkan Masyarakat Melek Literasi

Salah satu kegiatan bidang pendidikan Desa Les yang dipusatkan di Don Cofee (dok. FB Nyoman Nadiana)
Salah satu kegiatan bidang pendidikan Desa Les yang dipusatkan di Don Cofee (dok. FB Nyoman Nadiana)

Lantas, apakah program di bidang pendidikan di Desa Les yang sudah sedemikian visioner itu sudah cukup? Ternyata tidak! Seperti yang saya tuliskan, Desa Les sendiri—dalam pandangan saya—, selain berusaha untuk benar-benar mewujudkan jargon "pendidikan yang merata" dan "belajar di mana saja", mereka juga berusaha untuk memberikan akses belajar selebar-lebarnya bagi siapa pun yang menginginkannya.

"Kalau dibilang cukup, tentu saja tak ada yang pernah merasa cukup, ya!" jawab Bli Nyoman diplomatis saat saya bertanya apakah program dan capaiannya sejauh ini sudah cukup dan sesuai harapan. Lebih lanjut, pria yang melabeli dirinya "anak dari pelosok utara Bali" itu menjelaskan, pihaknya akan terus dan selalu menggandeng stakeholder serta pihak-pihak terkait untuk memajukan Desa Les, termasuk dunia pendidikan di sana.

Selain program-program berdampak nyata yang telah dijelaskan di atas, Bli Nyoman masih memiliki keinginan besar agar Don Coffee-warung yang digagas oleh Bli Nyoman sekira lima tahun lalu, menjadi ruang yang penuh dengan intelektualitas. Don Coffee, sebuah warung kecil yang terletak di hamparan kebun kelapa pesisir utara Bali, diharapkan bisa menjadi tempat untuk berkontemplasi, berdiskusi, dan tentu saja ruang belajar bagi siapa saja tanpa ada sekat. Bukan hanya tempat untuk menikmati makanan ataupun minuman yang disajikan.

Dengan memanfaatkan keberadaan Don Coffee, salah satu niatan besar Bli Nyoman ke depannya adalah menghidupkan gerakan literasi di Desa Les. Bukan hanya bagi kaum terpelajar, akademisi atau kaum tertentu saja, beliau bahkan ingin menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga kalangan terbawah sekalipun. 

"Warung kami, Don Coffee, selain sering dipakai untuk berdiskusi dan pertemuan-pertemuan komunitas, juga kami upayakan menjadi tempat yang menyediakan buku-buku. Nantinya bisa dibaca oleh siapa pun, termasuk para proletar," lanjut Bli Nyoman menyisipkan harapannya pada jawaban pertanyaan pamungkas saya siang itu. 

Saking keponya saya dengan penjelasan dari Bli Nyoman, iseng-iseng saya mencoba untuk mengunjungi akun instagram Don Coffee (@don_coffee_dimel). Hasilnya? Saya menemukan banyak kegiatan bernilai pendidikan kerakyatan seperti yang disampaikan oleh Bli Nyoman. Selain kegiatan diskusi terbuka, saya juga menemukan beragam kegiatan lain yang berkaitan dengan dunia pendidikan seperti diskusi buku, dan tentu saja kegiatan melek literasi yang dikemas oleh Bli Nyoman dengan nama "Proletarasi".

Sebuah wawancara singkat, berbuah runtuhnya pandangan kolot saya tentang dunia pendidikan di negeri ini. Jika sebelumnya saya berpendapat bahwa pemerintahlah yang menjadi tiang pokok bagi kemajuan dunia pendidikan, hal itu tanpa ampun terbantahkan hanya dengan beberapa ucapan.

Melalui wawancara singkat saya dengan Bli Nyoman di siang itu, saya menjadi sadar bahwa jika dunia pendidikan digarap dengan serius melalui aksi nyata seperti yang terjadi di Desa Les, bangsa ini memiliki peluang besar untuk mewujudkan prinsip pendidikan yang merata, berkarakter kuat berlandaskan kearifan lokal setempat, dan mampu berdaya saing di tataran dunia. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda