Kolom

Desa Sejahtera Astra Les dan Iklim Pendidikan Mandiri yang Tak Melulu Bertumpu Pemerintah

Desa Sejahtera Astra Les dan Iklim Pendidikan Mandiri yang Tak Melulu Bertumpu Pemerintah
Salah satu kegiatan bidang pendidikan Desa Les yang dipusatkan di Don Cofee (Facebook/Nyoman Nadiana)

Tak bisa dipungkiri, pendidikan adalah tiang utama peradaban sebuah bangsa. Maka sudah seyogianya, bangsa mana pun yang ingin berkembang, harus memfokuskan perhatiannya kepada kualitas pendidikan yang dimiliki. Pemerintah tentu saja menjadi pihak yang harusnya paling bertanggung jawab dalam bidang ini. Namun demikian, sebuah pelajaran berharga datang dari Desa Les, Buleleng Bali, yang mana mereka sukses mewujudkan ekosistem pendidikan dengan sangat baik meskipun tak melulu bertumpu kepada pemerintah.

Tak tanggung-tanggung, berkat usaha dan kerja keras yang mereka lakukan itu, berdiri beragam sentra pendidikan. Keberadaan sentra-sentra pendidikan itu dengan nyata memfasilitasi berbagai lapisan dan elemen masyarakat luas untuk memperoleh ilmu pengetahuan, baik itu yang tekstual maupun kontekstual.

Pada tulisan kali ini, saya akan mengajak teman-teman pembaca Yoursay untuk mengenal tiga sentra ilmu pengetahuan, baik itu informal maupun nonformal yang berada di Desa Les, Buleleng, Bali. Tentunya yang di luar inisiasi pemerintah ya!

Sekadar menginformasikan, tulisan ini sendiri saya sarikan dari hasil wawancara yang saya lakukan dengan Nyoman Nadiana, tokoh penggerak utama di Desa Sejahtera Astra Desa Les, pada Rabu (5/7/2026) lalu.

1. Pratama Widyalaya Hita Kumara

Lembaga pendidikan pertama yang diinisiasi oleh Bli Nyoman dan kolega di Desa Les adalah Pratama Widyalaya Hita Kumara. Bagi yang belum mengetahui, "Pratama Widyalaya" sendiri merupakan jenjang pendidikan setingkat PAUD dan berbasis agama Hindu.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari akun Instagram mereka (@pw.hita_kumara), lembaga pendidikan ini berdiri dan beroperasi sekira dua tahun lalu dengan nomor pendirian 278 Tahun 2024.

Bukan hanya bertumpu pada kurikulum dari Kemenag yang menjadi acuan utama pendidikan di jenjang Pratama Widyalaya, sekolah yang berstatus swasta ini juga memasukkan nilai-nilai adiluhung kearifan lokal setempat seperti unsur seni dan adat istiadat agama Hindu.

"Di (sekolah) Pratama Widyalaya Hita Kumara—biasa disingkat PW Hita Kumara yang menjadi sekolah binaan mereka-, karena berbasis agama Hindu, secara kurikulum kita masih menganut yang dari Kemenag. Namun kami juga menyisipkan unsur-unsur seni dan adat istiadat agama Hindu," terang Bli Nyoman dalam wawancara virtual yang kami jalani.

Apa yang dinyatakan oleh Bli Nyoman ini tentunya bukan tanpa bukti nyata. Pasalnya, dalam dokumentasi kegiatan yang dirilis oleh akun resmi sekolah, saya menemukan banyak kegiatan yang memang menjunjung tinggi dan menggambarkan kegiatan berbasis kearifan lokal mereka.

Ada beragam kegiatan yang bisa dijadikan sampel. Contohnya saja seni tari yang menjadi ciri khas dan daya tarik utama daerah Bali, hingga seni bela diri silat yang sudah diajarkan untuk bekal para murid dalam menghadapi tantangan fisik nyata di masa depan.

2. Sekolah Alam Bhuana Lestari

Selain "menghidupkan" Pratama Widyalaya Hita Kumara yang memadukan kurikulum dari negara dengan kearifan lokal setempat dalam ekosistem pendidikan nasional, salah satu Desa Sejahtera Astra yang terletak di pesisir utara Pulau Dewata tersebut juga memiliki terobosan besar di bidang pendidikan dengan mendirikan Sekolah Alam Bhuana Lestari.

Kondisi Desa Les yang di beberapa wilayahnya berkontur perbukitan, membuat pengadaan "Kelas Alam"—demikian Bli Nyoman menyebutnya—menjadi sebuah hal yang cukup memiliki alasan kuat karena bisa membawa suasana yang lebih dekat dengan lingkungan. Bukan hanya mendirikan, sosok yang dikenal sebagai penggerak wisata Desa Les itu juga benar-benar "merawat" perjalanan dari kelas alam ini.

"Kami juga ada 'Kelas Alam' yang tersebar di beberapa wilayah. Pesertanya dari berbagai jenjang. Para siswanya ada yang dari SMP, SMA, SMK," ujar Bli Nyoman menjelaskan peserta kelas alam yang diinisiasi pihaknya.

Selain peserta yang berdiferensiasi, materi-materi yang diajarkan pun sangat variatif dan berbasis modal hidup. Bedasarkan sumber dari laman resmi Desa Les, kelas yang diselenggarakan setiap hari Minggu mulai pukul 10.00 WITA ini mengajarkan materi matematika dasar seperti pengenalan angka, konsep pecahan, mengurutkan bilangan dan kemampuan lain dalam bermatematika untuk tingkatan peserta yang duduk di bangku sekolah dasar.

Sementara bagi peserta yang sudah duduk di jenjang SMP, SMA maupun SMK, Kelas Alam Bhuana Lestari memfokuskan pengajaran mereka di bidang Bahasa Inggris dan life skill seperti tata bahasa dan praktik berbasis kontekstual. Selain itu, pada kelas lanjut, para peserta kelas alam ini juga dibekali dengan ilmu pariwisata, yang mana linier dengan tujuan utamanya untuk mencetak tour guide andal bagi Desa Les khususnya.

3. Don Coffee

Tak hanya menyentuh pendidikan informal maupun nonformal seperti yang telah saya tuliskan di atas, Bli Nyoman juga menginisiasi sentra ilmu pengetahuan di Desa Sejahtera Astra Desa Les dalam kemasan yang "lebih santai" namun merakyat. 

Bukan berbentuk gedung, bukan pula berkonsep sekolah di alam terbuka seperti PW Hita Kumara maupun Kelas Alam Bhuana Lestari, sentra pendidikan jenis ketiga ini dipusatkan di sebuah warung kecil bernama Don Coffee.

Bli Nyoman menyampaikan harapan besarnya kepada saya, Don Coffee-warung yang terletak di hamparan kebun kelapa yang terletak di pesisir utara Desa Les-, diharapkan menjadi tempat untuk menuntut ilmu bagi seluruh lapisan masyarakat, terlepas dari status sosial yang dimiliki.

"Warung kami, Don Coffee, selain sering dipakai untuk berdiskusi dan pertemuan-pertemuan komunitas, juga kami upayakan menjadi tempat yang menyediakan buku-buku. Nantinya bisa dibaca oleh siapa pun, termasuk para proletar,"  harap Bli Nyoman dalam perbincangan hangat jarak jauh kami kala itu.

Dari perbincangan singkat namun hangat yang saya lakukan dengan Bli Nyoman pada siang itu, saya pada akhirnya menyadari bahwa ternyata, untuk bisa menyelenggarakan pendidikan yang merata dan berdiferensiasi, kita tak melulu harus bertumpu kepada pemerintah.

Desa Les Buleleng, yang merupakan salah satu Desa Sejahtera Astra membuktikan, untuk memberikan akses pendidikan yang seluas-luasnya kepada seluruh lapisan masyarakat, yang dibutuhkan hanyalah tekad kuat, inisiatif berbasis kekuatan wilayah setempat dan keberanian untuk menggandeng stakeholder terkait, termasuk yang berasal dari luar pemerintahan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda