Hobi

Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?

Bongkar Tuntas Final Piala Dunia 2026: Kenapa Tudingan Konspirasi Argentina Mengalah Itu Konyol?
Para pemain Timnas Spanyol berpose bersama trofi Piala Dunia 2026 yang mereka raih setelah mengalahkan Argentina di laga final edisi 2026 (dok. FIFA)

Final Piala Dunia 2026 sudah hampir sepekan rampung ditandingkan. Spanyol pun sudah menahbiskan diri menjadi juara turnamen melalui gol tunggal dari Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Namun demikian, bara laga final itu masih terasa hingga saat ini. Bahkan belakangan muncul teori konspirasi di berbagai media sosial yang menyatakan bahwa Argentina diminta untuk mengalah di partai final untuk alasan tertentu. Sebuah teori yang menurut saya pribadi terkesan aneh dan terlalu mengada-ada.

Bagi penikmat sepak bola seperti saya, laga final Piala Dunia kemarin menjadi salah satu laga yang cukup menghibur. Bahkan di tulisan saya sebelumnya, saya menyebut pertemuan antara Spanyol dan Argentina di partai puncak guliran ini sebagai sebuah final yang ideal. Sebuah pendapat pribadi yang pada akhirnya terbukti di lapangan, karena pertandingan tersebut benar-benar menyajikan kualitas tinggi dari kedua kesebelasan.

Namun sayangnya, kenikmatan saya akan laga final itu belakangan ini sedikit terusik dengan tudingan final Piala Dunia yang menarasikan bahwa Argentina harus mengalah. Bahkan beberapa hari terakhir, muncul petisi untuk pengulangan laga final tersebut—terutama dari para pendukung La Albiceleste. Tentu saja saya merasa aneh. Karena meskipun Argentina kalah, dalam pandangan saya pribadi hal itu cenderung wajar, kok.

Patut untuk teman-teman pendukung Timnas Argentina sadari, kekalahan Tim Tango di laga final Piala Dunia 2026 kemarin terbilang sangat wajar di mata saya. Apalagi jika kita komparasikan dengan penampilan kedua kesebelasan pada laga-laga sebelumnya.

Bagi saya pribadi, penampilan Argentina di gelaran Piala Dunia 2026 ini cenderung biasa-biasa saja dan tak terlalu "wah". Bahkan jika saya bisa menggunakan kalimat yang lebih spesifik, perjalanan mereka menuju ke partai final banyak terbantu dengan kepemimpinan wasit dan posisi mereka di bracket yang jauh lebih mudah ketimbang tim-tim besar lainnya.

Patut digarisbawahi, di sini saya tak akan menyoroti kepemimpinan para wasit yang memimpin jalannya pertandingan Argentina di Piala Dunia kali ini. Saya justru akan menyoroti keberadaan Argentina di "jalur mulus" menuju partai final yang banyak membantu mereka dan hal-hal lain yang membuat mereka kalah.

Dibandingkan dengan bracket sebelah, Argentina memang menempati bagan yang jauh lebih mudah untuk dilalui. Dalam catatan saya, Lionel Messi dan kolega bahkan baru bertemu dengan tim berperingkat di bawah sepuluh besar dunia ketika mereka masuk ke partai semifinal. Sebelum itu, mereka hanya menghadapi tim-tim dengan peringkat FIFA di angka belasan bahkan puluhan.

Sekarang coba kita ingat-ingat, sebelum laga semifinal melawan Inggris, Argentina "hanya" berhadapan dengan tim sekelas Tanjung Verde di babak 32 besar, kemudian Mesir di babak 16 besar dan Swiss di babak delapan besar. Dari tiga pertandingan itu, harus diakui Argentina sudah nyaris pulang dari gelaran. Bahkan, laga melawan Mesir dan Swiss, diwarnai banyak kejanggalan terkait keputusan wasit, yang mana memberikan banyak keuntungan kepada mereka.

Sehingga, ketika di partai final Argentina pada akhirnya harus menelan kekalahan, maka hal itu bagi saya terbilang wajar. Karena di pertarungan-pertarungan sebelumnya melawan tim yang kelasnya berada di bawah Spanyol--yang mereka hadapi di partai puncak--, Argentina sudah sangat kewalahan dan nyaris tergelincir, apalagi jika harus berhadapan dengan Spanyol yang tengah on-fire?

Bahkan mungkin di kubu Argentina sendiri ada semacam kekagetan ketika berjumpa dengan Spanyol. Mereka yang terbiasa berhadapan dengan tim-tim tier dua dalam perjalanannya menuju final Piala Dunia, tiba-tiba saja harus menghadapi Spanyol yang penampilannya mulai menanjak kembali di Piala Eropa edisi 2024 kemarin. 

Sementara di sisi lain, Spanyol sendiri menunjukkan konsistensinya di pentas tertinggi persepakbolaan dunia. Setelah sukses merajai benua Biru, El Matador kembali menjadikan pesta sepak bola terbesar di dunia itu sebagai ajang pamer kualitas selanjutnya. Hasilnya pun sangat positif. Di tantangan next level yang mereka jalani, Spanyol tetap tampil apik bahkan hanya kebobolan satu gol saja hingga partai final gelaran.

Fakta ini yang harusnya juga menjadi pertimbangan mengapa Argentina sama sekali tak mampu melepaskan tembakan on target. Pada data match report yang dirilis oleh FIFA, pada laga final kemarin Argentina sama sekali tak mampu melepaskan satu pun tembakan yang mengarah tepat ke gawang. Hanya ada dua attempt yang melebar. Apakah ini sebuah fakta yang cukup wajar?

Menurut saya pribadi, catatan Argentina itu sangat wajar. Karena saya melihat, sebelum pertandingan dijalankan, Spanyol sudah pasti memetakan pemain Argentina yang berpotensi untuk mengancam pertahanan mereka. Dan saya yakin, nama seorang Lionel Messi berada di daftar paling atas untuk mereka matikan. 

Sehingga ketika pertandingan berjalan, para pemain Spanyol benar-benar membuat Messi terkurung, mati kutu dan tak bisa menjadi katalisator permainan Tim Tango seperti di tujuh laga sebelumnya. Saya melihat, ini adalah murni kecerdikan Spanyol dalam mematikan permainan Argentina yang selama ini sangat bergantung pada pergerakan Messi.

Sehingga, ketika pada akhirnya La Albiceleste sama sekali tak mampu melepaskan tembakan ke arah gawang, hal itu pun terbilang normal. Karena selain Spanyol sudah sangat siap, pada faktanya pertahanan mereka sangat sulit untuk ditembus oleh tim mana pun.

Selain alasan-alasan di atas, sebenarnya saya juga melihat dari sisi kesiapan kedua kesebelasan di laga final ini. Jika dibandingkan dengan Argentina, saya merasa Spanyol jauh lebih siap menghadapi laga berat di partai final ini karena memang mereka sudah "terbiasa". Jika jalan Argentina ke partai final lebih banyak didominasi dengan pertarungan melawan tim-tim semenjana dan membuat mereka seperti kaget di partai final, tidak demikian halnya dengan Spanyol.

Di bracket yang mereka tempuh, La Furia Roja harus berhadapan dengan raksasa sepak bola dunia seperti Portugal, Belgia, bahkan Prancis yang selain menjadi favorit juara juga bertabur pemain bintang dunia. Sehingga, ketika bermain di laga final melawan Argentina kemarin, hal itu bukanlah sebuah hal yang baru bagi Spanyol yang memang sudah mendapatkan ujian dari tim-tim besar dunia di fase sebelumnya.

Lantas, bagaimana dengan video Messi yang memberikan motivasi kepada rekan-rekannya serta meminta mereka untuk melupakan "hal-hal lain" di ruang ganti dan lorong stadion? Hal itu juga wajar. Dalam pandangan saya, Messi meminta rekan-rekannya untuk tetap fokus di pertandingan dan melupakan kejadian di luar, karena memang para pemain Argentina yang mengibarkan spanduk berbau politik, terancam mendapatkan sanksi.

Sehingga sebagai kapten, dirinya meminta untuk rekan-rekannya berfokus pada pertandingan, dan memikirkan hal-hal lain setelahnya. Entah mau dibanned, entah mau dihukum atau apa pun, yang penting mereka fokus dulu di laga final ini. Sesimple itu bukan? Apalagi kita juga tak mendapati rekaman itu secara utuh dan esensi sebenarnya dari apa yang diucapkan oleh Messi.

Jadi, dengan beragam sudut pandang di atas, menurut saya pribadi konspirasi yang meminta Argentina untuk mengalah di laga final melawan Spanyol, sama sekali tak masuk akal. Lagian juga saya kasihan dengan Emiliano Martinez. Sudah berjuang mati-matian menghalau tembakan para pemain Spanyol, eh, malah dituding sengaja mengalah karena faktor-faktor tertentu. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda