Kolom
Viral! Pendaki Rinjani Bawa Sapi Hidup untuk Logistik, Publik Sebut Tindakan Ini Sudah Keterlaluan
Terus terang, meskipun saya mencintai dunia kepramukaan, saya bukanlah orang yang gemar mendaki gunung. Namun, ketika saya melihat dunia maya saat ini dihebohkan dengan adanya kelompok pendaki gunung yang membawa sapi untuk dijadikan bahan logistik, saya yang orang awam di dunia pendakian mengatakan dengan tegas hal itu berlebihan dan sangat keterlaluan.
Belakangan ini, timeline dan beranda media sosial yang saya miliki tengah diramaikan dengan kelakuan yang tak biasa dari sekumpulan pendaki gunung Rinjani. Dalam informasi yang beredar dinyatakan, sekira sepuluh pendaki dan 14 porter tengah melakukan pendakian ke puncak gunung melalui jalur Torean.
Tentu saja kegiatan pendakian gunung seperti itu bukanlah sebuah hal yang aneh. Karena jika dilihat dari segi mana pun, kegiatan mendaki gunung seperti itu merupakan salah satu bukti nyata untuk mensyukuri dan menikmati keindahan alam yang diciptakan oleh Tuhan.
Namun yang menjadi permasalahan dan memantik beragam komentar bernada hujatan dari para warganet adalah, dalam ekspedisi itu--jika saya boleh menyebutnya demikian--, mereka membawa seekor sapi sebagai persediaan logistik. Sebuah hal yang tentunya sangat patut disayangkan karena selain meruntuhkan marwah kelompok pencinta alam, juga dipastikan menimbulkan dampak negatif yang cukup signifikan.
Sama-sama Menjadi Santapan, Tapi Apa yang Mereka Lakukan Sungguh Keterlaluan
Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, pada awalnya kelompok pendaki dan para porter tersebut berencana untuk membawa sapi ke puncak gunung Rinjani. Tujuannya tentu saja untuk mereka santap sembari menikmati indahnya pemandangan dari titik yang letaknya berada ribuan meter di atas permukaan laut.
Sebuah rencana yang tentunya sangat syahdu dan estetik bukan? Karena sudah pasti hal itu akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan dan penuh dengan kenangan. Karena tidak semua orang bisa makan-makan--bahkan berpesta-- di puncak salah satu gunung tertinggi di Indonesia tersebut.
Namun sayangnya, niatan itu pada akhirnya gagal di tengah jalan. Imbas sulitnya medan yang harus dilalui, "perjalanan" sapi itu harus berakhir di daerah Cikararat atau Goa Susu. Titik ini sendiri menurut sumber yang saya coba saya cari, berada di ketinggian 1.879 mdpl.
Jika titik puncak Rinjani berada di ketinggian 3.726 mdpl, maka titik terakhir "sapi logistik" tersebut masih memiliki selisih elevasi sepanjang 1.847 meter jalur pendakian menuju puncak. Dengan kata lain, alih-alih menjadi santapan estetik para pendaki di puncak Rinjani, akhir perjalanan sapi logistik itu justru hanya berada di titik tengah perjalanan saja.
“Dalam pendakian ini, tim berusaha membawa seekor sapi lewat jalur Torean untuk dijadikan makanan. Namun, karena jalannya berbatu, curam, dan cukup sulit, perjalanan sapi itu harus berhenti di daerah Cikararat atau Goa Susu," terang akun Instagram @explorependaki (27/7) yang juga turut mengkritisi kelakuan oknum pendaki Rinjani itu.
Memang, jika kita berbicara garis takdir, kita akan sepakat bahwa akhir hidup dari si sapi logistik ini adalah menjadi santapan si pendaki. Entah itu sang sapi diakhiri di bawah dan dijadikan bahan logistik dalam bentuk daging, atau disantap di puncak Rinjani sesuai dengan rencana awal. Namun yang menjadikan saya menilai ini sangat keterlaluan adalah, keputusan membawanya ke puncak gunung membuat sapi ini harus mengalami penyiksaan berat sebelum kematian datang kepadanya.
Tentu maksud saya bukanlah penyiksaan seperti digelonggong atau sejenisnya, namun lebih ke penyiksaan fisik karena harus menanggung lelah semasa dirinya menjalankan pendakian. Jalan-jalan terjal berbatu nan menanjak yang mencapai ribuan meter, sudah tentu membuat sang sapi mengalami kepayahan yang amat-sangat sebelum dieksekusi.
Bahkan, saking kasihannya si sapi, ketika saya menyaksikan cuplikan video yang menampilkan kepayahan sang sapi dalam mendaki tebing-tebing yang curam, saya malah teringat dengan para romusha atau pekerja rodi yang dituntut untuk bekerja keras sebelum kematian mendatanginya. Atau bahkan malah bisa diilustrasikan dengan para tawanan di film-film perang--mungkin juga di dunia nyata--,yang dipaksa untuk menggali lubang kuburnya sendiri, sebelum kemudian dihabisi. Mungkin seperti itu gambaran sederhananya.
Pada intinya, saya sangat yakin sapi logistik yang dibawa oleh rombongan pendaki di gunung Rinjani tersebut, benar-benar harus merasakan siksaan fisik yang sedemikian berat terlebih dahulu. Hal itu terus terjadi sampai dia menyerah dan tak sanggup melanjutkan perjalanan sebelum kemudian dieksekusi menjadi bahan konsumsi. Kejam? Tentu saja kejam karena bisa dipastikan perlakuan oknum pendaki itu membuat si sapi harus merasakan setidaknya dua kali siksaan berat: dipaksa untuk terus menjadi kuat dan kemudian dieksekusi untuk pengakhiran hayat.
Hal ini sendiri juga sangat bertentangan dengan beragam norma yang berlaku di masyarakat, termasuk norma agama. Sekadar menginformasikan, dalam agama Islam sendiri, ada etika yang harus dipenuhi ketika hendak menyembelih hewan, seperti dilarang untuk disakiti, disiksa, apalagi sampai dianiaya. Sementara apa yang dilakukan oleh kumpulan pendaki ini, sudah sangat keluar dari norma-norma agama Islam dalam hal penyembelihan hewan karena didahului dengan penyiksaan dan penganiayaan fisik sampai si sapi tak kuat seperti itu.
Saya yakin, jika diminta untuk memilih, si sapi logistik itu sudah pasti akan memilih untuk dieksekusi ketika masih berada di bawah, dan dibawa ke puncak Rinjadi dalam bentuk daging saja. Dengan akhir yang sama-sama menjadi bahan konsumsi bagi rombongan pendaki tersebut, sapi logistik itu sudah pasti akan memilih "jalur kematian" yang relatif lebih berperikehewanan dan menanggung kesakitan hanya sekali saja ketimbang harus menanggung sakit dan lelah berkepanjangan imbas dibawa ke pendakian.
Terlebih lagi, satu hal lagi yang membuat saya semakin tak setuju dengan praktik seperti yang dilakukan oleh para oknum ini adalah, membawa sapi atau binatang hidup apa pun sebagai logistik pendakian pada akhirnya hanya akan mencemari alam itu sendiri. Secara logika, hewan-hewan yang disembelih di area pendakian, sudah pasti akan meninggalkan residu yang membuat alam ternodai.
Mungkin saja para pendaki itu bisa membawa pulang sisa-sisa daging yang tak habis mereka konsumsi, namun bagaimana dengan sisa tulang yang tak bisa mereka makan? Atau mungkin darah yang tercecer ketika penyembelihan dilakukan? Belum lagi dalam proses pembersihan memasak daging di gunung atau alam terbuka yang menggunakan air, bisa membuat sumber-sumber air tercemar dan berpotensi menimbulkan penyakit berbahaya.
Bukankah kegiatan seperti itu pada akhirnya justru membuat marwah kegiatan pendakian gunung yang seharusnya menjadi cerminan kecintaan manusia kepada alam liar menjadi berbalik 180 derajat? Pernah berpikir sampai ke sana atau tidak, sih orang-orang yang ada dalam rombongan itu? Kok sampai-sampainya mereka berbuat demikian?
Sekali lagi, meskipun saya bukanlah orang yang gemar mendaki gunung dan masuk dalam barisan para pencinta alam, namun saya sangat menyayangkan dengan kejadian sekelompok pendaki di gunung Rinjadi yang membawa logistik hidup-hidup. Karena bagaimanapun pencinta alam sejati sangat meminimalisir sampah yang mereka tinggalkan, bukan justru membawa sampah ke titik-titik pendakian.