Hobi
Piala Dunia 2026 dan Keberadaan Spanyol yang Kembali Menjadi Cryptonite bagi Superpowernya Prancis
Langkah Prancis untuk menebus kegagalan mereka di final Piala Dunia 2022 akhirnya pupus sudah. Meskipun Ousmane Dembele dan kolega tampil dengan sangat luar biasa semenjak fase awal turnamen dimulai, namun pada akhirnya Les Bleus harus menemukan keapesan di fase semifinal. Berjumpa dengan Spanyol di fase empat besar, kedigdayaan Prancis sama sekali tak tersisa. Mereka dibuat tak berdaya, layaknya Superman yang harus berhadapan dengan batu Cryptonite yang menjadi antitesanya.
Melihat perjalanan Timnas Prancis di gelaran Piala Dunia 2026 ini, tentunya kita akan sepakat bahwa tim ini akan menjadi salah satu kontestan dengan langkah terjauh. Dengan permainan yang mereka tunjukkan, sangat mustahil bagi Prancis untuk sekadar berhenti di awal-awal babak gugur. Bahkan tak sedikit di antara kita yang memprediksi, tim ini akan melaju ke final, menjadi juara, dan menebus kegagalan di edisi sebelumnya.
Bahkan bagi saya pribadi, terhentinya langkah Prancis di fase semifinal turnamen ini sendiri terbilang terlalu cepat. Karena saya melihat, Kylian Mbappe dan kolega sangat pantas untuk kembali tampil di final turnamen, mekipun harus melawan tim sekuat Spanyol sekalipun dalam perjalanan mereka menuju ke sana.
Perjalanan Prancis yang Bikin Pendukung Selalu Optimis
Berdasarkan match history Timnas Prancis yang dicatat oleh laman FIFA, perjalanan Les Bleus sendiri memang sudah sangat meyakinkan semenjak melakoni pertandingan pertama lalu. Prancis --yang tergabung di Grup I--, sudah harus berjibaku dengan tim-tim liat di perhelatan, bahkan di fase-fase awal turnamen.
Dari tiga negara yang mereka hadapi di fase penyisihan grup, dapat dikatakan hanya Irak saja yang masuk dalam kategori tim receh. Selebihnya dua pesaing lainnya, yakni Senegal dan Norwegia, sama sekali tak bisa dipandang remeh. Ketika datang ke turnamen, Senegal sendiri secara de facto berstatus sebagai juara benua Afrika, sementara Norwegia datang dengan amunisi baru yang siap mengacak-acak hegemoni tim mana pun.
Meskipun secara de jure gelar Senegal tersebut dicabut oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika, namun fakta di lapangan menegaskan bahwa Senegallah yang keluar sebagai kampiun kejuaraan. Sementara Norwegia, belakangan ini tengah menanjak kekuatan sepak bolanya, sehingga jika dibedah dari peta kekuatan antar kontestan yang ada di Grup I, Prancis cenderung sudah mendapatkan tantangan berat sedari awal turnamen digulirkan.
Namun kita lihat, meskipun harus bertarung melawan tim sekelas Senegal dan Norwegia, Prancis sama sekali tak pernah kehilangan poin. Setelah di laga pertama mereka membekap Senegal dengan skor 3-1, di pertarungan pamungkas Ousname Dembele dan rekan juga membantai Norwegia dengan skor mencolok, 4-1. Yah, meskipun saat itu negara asal kawasan Skandinavia tersebut tidak menurunkan kekuatan terbaiknya, namun tetap saja hal itu mengisyaratkan kekuatan Prancis yang mengerikan dan tak salah untuk difavoritkan menjadi juara.
Lantas, bagaimana dengan fase gugur? Sama saja! Prancis juga tak bisa dikatakan bertemu dengan lawan-lawan mudah seperti yang ada di bracket-nya Argentina. Di babak 32 besar, mereka sudah harus bertarung melawan Swedia, di fase 16 besar harus bersinggungan dengan permainan kotor berhiaskan kungfu dari Paraguay, hingga di fase delapan besar, mereka harus bertarung dengan tim setangguh Maroko yang berstatus sebagai tim semifinalis di gelaran sebelumnya.
Bertemu dengan Cryptonite dalam Diri Skuat Spanyol
Perjalanan penuh kejayaan Prancis di Piala Dunia 2026 pada akhirnya runtuh di fase semifinal saat bertemu dengan Spanyol, lawan yang sejatinya tak asing bagi mereka. Dalam statistik yang tertulis di laman 11v11, kedua negara ini sudah saling bertemu sebanyak 39 kali. Sebuah jumlah yang tentu tak bisa dianggap sedikit dan sudah cukup untuk mengenal satu sama lain.
Secara keseluruhan, Prancis mencatatkan 13 kemenangan dari sang lawan, sementara 19 laga lainnya berakhir dengan kekalahan. Namun yang menjadi pokok permasalahan bagi Prancis adalah, mereka kerap kali harus tunduk dari Spanyol saat mereka menjalani laga-laga penting. Tak peduli seberapa kuatnya Prancis, mereka tetap saja terguling di momen-momen krusial saat berhadapan dengan La Furia Roja.
Saya contohkan, selain harus tunduk dari Spanyol di fase semifinal Piala Dunia 2026 ini, Prancis juga tercatat kandas dari Spanyol di UEFA Nations League di tanggal 5 Juni 2025 lalu. Satu tahun sebelumnya, tepatnya pada tanggal 9 Juli 2024, Prancis juga kalah 1-2 dari Spanyol di fase semifinal Piala Eropa 2024 yang berlangsung di Allianz Arena Munich.
Kekalahan yang mereka dapatkan selalu saja terasa lebih menyakitkan ketimbang kekalahan yang dirasakan oleh Spanyol. Karena dalam pengamatan saya, kekalahan yang diderita oleh Spanyol atas Prancis, lebih sering terjadi di laga-laga persahabatan saja, sehingga tak memiliki pengaruh signifikan dalam perburuan titel kejuaraan.
Kekalahan Prancis kali ini tentu semakin membuat kubu Timnas Prancis harus semakin waspada jika ke depannya mereka kembali berjumpa dengan Spanyol. Pasalnya, tak peduli sekuat apa pun komposisi pemain yang mereka bawa di gelaran, mereka masih saja sering kandas saat harus bertarung melawan Spanyol.
Seperti yang saya singgung di atas, Prancis bisa saja menjadi tim yang tak terkalahkan dan sekuat Superman saat bertarung melawan tim-tim lain, namun ketika mereka berjumpa dengan Spanyol, kekuatan itu seperti hilang seketika. Yah, ibarat Superman mendapati ada batu Cryptonite di dekatnya.