Pengendara sepeda selama ini identik dengan kelas ekonomi menengah-ke bawah, sedangkan mereka yang memiliki status sosio-ekonomi yang lebih tinggi disandingkan dengan kendaraan bermotor yang mewah. Namun, kini orang-orang yang terbilang lebih “berpunya” mulai menggemari olahraga bersepeda.
Munculnya sepeda-sepeda balap (roadbike) mewah kini memenuhi jalanan, dan jalur sepeda tidak lagi dipenuhi oleh hanya sepeda para pedagang saja. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran sepeda yang sebelumnya merupakan simbol dari kesederhanaan kini menjadi bentuk kemewahan, terbukti dari sepeda-sepeda balap dengan harga ratusan juta kini mulai memadati jalan, terutama di Ibukota.
Sepeda sebagai simbol “wong cilik”
Sepeda merupakan moda transportasi yang terbilang hemat dan tidak memakan biaya besar untuk perawatan dan suku cadangnya sangat mudah diperoleh di pasaran dengan harga yang terjangkau. Sepeda kayuh bahan bakarnya berasal dari tenaga manusia sehingga tidak memerlukan pengeluaran untuk membeli bensin. Rendahnya biaya dan ongkos perawatan tersebut yang membuat sepeda dipilih sebagai moda transportasi utama oleh masyarakat dengan kondisi sosio-ekonomi menengah ke bawah.
Sepeda telah digunakan selama bertahun-tahun sebagai transportasi oleh manusia. Bahkan di zaman modern seperti sekarang kita dapat melihat sepeda dipakai sebagai moda transportasi di jalanan di desa hingga di kota. Sepeda juga digunakan untuk membawa berbagai macam barang seperti dagangan, sehingga mereka yang berprofesi sebagai pedagang keliling menggunakan sepeda untuk mengangkut barang dagangan mereka ke berbagai penjuru kota untuk mencari calon pembeli.
Sepanjang sejarah, sepeda selain menjadi sekadar moda transportasi juga sekaligus menjadi sebuah simbol status sosial. Perjalanan sejarah sepeda sebagai simbol status sosial terekam dalam buku yang ditulis apik oleh Ahmad Arif (2010) yang berjudul “Melihat Indonesia Dari Sepeda.” Buku ini mencatat awal kedatangan sepeda di Nusantara adalah sebagai sebuah kendaraan dari para priyayi (bangsawan).
Sepeda-sepeda dengan motif antik menjadi sebuah bentuk kemewahan dan sebagai objek mewah untuk dipamerkan kepada khalayak publik karena nilai estetika yang terkandung di dalam sebuah sepeda. Sepeda merupakan sebuah unsur budaya Eropa yang merupakan bangsa kolonialis yang memposisikan dirinya sebagai kaum elit di daerah jajahannya.
Belanda, sebagai bangsa yang mengkolonisasi Indonesia membawa sepeda sebagai bentuk dari modernisasi untuk mengganti kendaraan pribadi yang dikendalikan oleh tenaga kuda. Kini, para bangsawan tidak perlu menggunakan repot-repot menggunakan kereta kuda saat ingin bepergian seorang diri menuju tempat yang jaraknya relatif dekat.
Pergeseran simbolisme elit menjadi simbol kesederhanaan dan kemiskinan juga dicatat dalam buku yang sama, bahwa akibat modernisasi dan industrialisasi, muncul kendaraan yang ditenagai oleh mesin.
Kereta bermotor muncul dalam masyarakat, dan kini para kaum elit beralih ke kendaraan bermesin sekaligus meninggalkan sepeda, dan akhirnya harga untuk membeli sebuah sepeda menjadi turun di pasaran, sehingga para kaum “kecil” mampu mengaksesnya dan menjadikannya sebagai moda transportasi utama sehari-hari, baik untuk bepergian sekaligus untuk mengangkut logistik.
Sepeda dan kelas sosial dalam konteks zaman modern.
Ahmad Arif dalam buku yang sama juga mencatat fenomena bersepeda dalam konteks zaman modern. Kini, berbagai model dan jenis sepeda muncul di pasaran dengan berbagai rentang harga. Berkat fenomena seperti car-free day, bersepeda kini menjadi populer di berbagai kalangan masyarakat, dan menjangkau ke masyarakat menengah-ke atas. Kini, sepeda menjadi sebuah wahana rekreasi yang diminati oleh masyarakat kelas atas, yang sebelumnya merupakan sekadar metode transportasi.
Popularitas bersepeda menjadi melejit semenjak pandemi. Semenjak awal pandemi COVID-19, masyarakat berusaha mencari sebuah cara untuk menghibur diri dengan berbagai macam aktivitas, salah satunya adalah bersepeda. Bersepeda merupakan salah satu cara masyarakat dalam berekreasi, dan berkat media sosial, masyarakat mulai tertarik untuk mengikuti tren ini dan mulai berbondong-bondong membeli sepeda.
Berkat permintaan yang tinggi terhadap sepeda, harga sepeda mengalami kenaikan. Yoursay.id melansir pada Jumat (24/7/2020), harga sepeda mengalami kenaikan yang pesat, yakni tercatat mencapai angka 50%. Sepeda dengan merk terkemuka yang semula harga pasarannya adalah 1,2 juta Rupiah menjadi 3 juta Rupiah per unitnya. Tidak hanya itu, biaya perawatan dan jasa bengkel sepeda juga mengalami peningkatan.
Meningkatnya harga sepeda dan biaya ongkos bengkel sepeda tentu akan menutup aksesibilitas dari masyarakat dengan kelas ekonomi menengah-ke bawah, sekaligus menjadi penanda bahwa adanya pergeseran identitas sosial para pengguna sepeda.
Sepeda kini menjadi suatu bentuk kemewahan yang dinikmati oleh para kaum elit untuk menunjukkan status sosial mereka sekaligus sebagai sebuah penunjang kebutuhan rekreasi. Tidak lagi sepeda menjadi sekadar sebuah moda transportasi murah yang identik dengan rakyat “kecil.”
Penutup
Sepeda merupakan sebuah simbol yang mengalami pergeseran dan dinamika yang beragam sepanjang sejarah. Melalui sepeda, kita dapat melihat bagaimana dinamisnya perubahan masyarakat yang dialami oleh manusia. Kedepannya, kita tidak tahu pasti sepeda berada di posisi seperti apa. Namun, kita tahu pasti bahwa sepeda merupakan sebuah objek yang eksistensinya selalu memiliki posisi dalam masyarakat, terlepas dari kelas sosial yang melekat pada penggunanya.
Referensi
- Arif, A. (2010). Jelajah Sepeda Kompas: Melihat Indonesia Dari Sepeda. Jakarta : Penerbit Buku Kompas.
- Ikhasan, M. (2020, Juli 24). Tren Bersepeda Membuat Harga Sepeda Meroket. Yoursay.Suara.Com. https://yoursay.suara.com/news/2020/07/24/175027/tren-bersepeda-membuat-harga-sepeda-meroket