facebook

Industri Film Hollywood di Indonesia dalam Perspektif Orientalisme

Nabila Anindya Bazline
Industri Film Hollywood di Indonesia dalam Perspektif Orientalisme
Ilustrasi Hollywood [ANTARA]

Kerap kali image mengenai Bangsa Barat yang dianggap sebagai negara yang membawa kemajuan peradaban manusia dan ditandai dengan adanya industri yang pertama kali terjadi di Inggris telah terbentuk. Salah satunya adalah industri film Amerika atau biasa disebut dengan Hollywood sejak tahun 1920-an yang telah menghasilkan banyak produk film dan menjadi pilar utama dunia perfilman yang berkualitas dan beragam.

Oleh karena itu, film merupakan produk budaya kontemporer yang dinikmati oleh sebagian besar masyarakat modern. Alasan besarnya konsumsi terhadap film dikarenakan film-film tersebut populer, dapat diterima oleh masyarakat luas, juga merefleksikan kegelisahan serta keinginan para penontonnya.

Akan tetapi, film-film Hollywood masih memiliki pengaruh yang kuat secara kultural di negara-negara lain dengan adanya maksud untuk menyebarkan nilai-nilai Amerika. Namun demikian, hegemoni kebudayaan tersebut bukanlah sesuatu yang sifatnya tetap, akan tetapi mengalami pergeseran dan juga perubahan. 

Kondisi inilah seringkali berkaitan dengan fenomena imperialisme budaya seperti yang dikatakan Edward Said bahwasanya akan bangkit kekuatan yang berusaha untuk menjelaskan, atau membatasi narasi-narasi lain terhadap negara melalui budaya. Imperialisme juga diartikan oleh Edward Said sebagai upaya untuk memikirkan, menetap, dan mengontrol wilayah yang tidak dimiliki, jauh, dan dimiliki oleh orang lain namun tetap ada relasi kuasa dan pengaruh yang jelas.

Dalam bukunya yang berjudul Orientalism (1978), Said mengatakan bahwa orientalisme pada intinya adalah pembenaran imperialisme, yaitu melukis budaya Timur yang belum berkembang atau kurang dari budaya Barat. Dengan demikian, hal tersebut menjadi tugas Barat yang maju secara budaya untuk mempertahankan koloni mereka di negara lain serta menjadi pembenaran dalam pendudukan dan dominasi mereka atas negara-negara lain.

Indonesia merupakan salah satu negara pengkonsumsi film, sebab film sudah ada dan masuk sejak era penjajahan Belanda yang diputar di layar bioskop. Hal ini membuat penonton Indonesia sudah terbiasa dengan tontonan dari Amerika dan menjadikan film-film Amerika sebagai favorit. Selain menjadi sasaran pasar, Indonesia juga menjadi sasaran bagi film-film Hollywood sebagai lokasi pengambilan gambar. Salah satunya dalam film Eat, Pray, Love (2010), yang dibintangi oleh aktor dan aktris terkenal Hollywood yaitu Julia Roberts dan Javier Bardem juga aktris terkenal Indonesia yaitu Christine Hakim. Film Eat, Pray, Love melakukan pengambilan gambar di lokasi Ubud dan Gunung Kawi, Tampaksiring, Bali.

Selain itu, di film Jumanji (1995) yang dibintangi oleh Robin Williams dan Kirsten Dunst menceritakan tentang permainan berbahaya yang berasal dari Pulau Kalimantan. Bahkan, Kirsten Dunst sempat berkata kalau Jumanji “sounds like Indonesian name” dan juga menjelaskan bahwa Robin Williams adalah pamannya yang berasal dari Indonesia pada salah satu adegan yang diceritakan bahwa ia kembali ke dunia nyata dengan berpakaian compang-camping dan bertingkah seperti orang sakit jiwa yang membahayakan lingkungannya ketika sedang berbicara dengan polisi agar polisi tidak jadi menangkapnya.

Dari contoh film tersebut dapat dilihat dan digambarkan bahwa baik Indonesia maupun orang Indonesia dipandang sebagai sesuatu yang aneh, asing, dan penuh kekacauan. Hal ini menunjukkan sebuah pandangan dari para pembuat film yang menggunakan Indonesia baik sebagai bagian dari cerita maupun menjadikan orang Indonesia sebagai pemain dari cerita film tersebut.

Orientalisme dapat dilihat dalam kapasitasnya sebagai hal yang mengurusi dunia Timur dengan membuat berbagai pernyataan, melegitimasi berbagai asumsi, dan mendeskripsikan tentang Timur. Singkatnya, orientalisme dianggap sebagai gaya Barat untuk mendominasi, menata ulang, dan menetapkan kekuasaan mereka terhadap dunia Timur.

Hegemoni Barat memang sudah dilakukan sehingga sosialisasi nilai-nilai Barat tidak dapat dihindari di negara-negara Timur. Edward Said (1979) adalah yang pertama kali mengelaborasi konsep the other, yaitu bahwa orang mendefinisikan diri mereka dengan terlebih dahulu melihat siapa yang lain dan kemudian fokus pada perbedaan di antara keduanya. Menurut Said, Barat atau the occident menganggap dirinya sebagai lawan dari Timur atau the orient, yang dianggap sebagai sesuatu yang rendah, sementara dunia Barat digambarkan sebagai masyarakat yang beradab, aman, dan sebagainya.

Hollywood dalam memproduksi film pun banyak mengangkat film yang berlatar Timur (the orient). Sayangnya, tidak semua film yang berlatar Timur dihasilkan oleh Hollywood terlepas dari stereotip Barat yang memandang Timur sebagai sesuatu yang rendah. Oleh karena itu, Indonesia harus mampu berdikari dalam hal industri kreatif agar budaya yang dihasilkan pun murni berasal dari Indonesia tanpa ada intervensi dari globalisasi, westernisasi, dan imperialisme budaya dengan melakukan sosialisasi nilai dan kebudayaan lokal. 

Referensi

Buku/Jurnal:

Felani, H. (2017). Citra Indonesia dalam Film dan Serial Televisi Hollywood. Jurnal Komunikasi, 11(2), 103-116.

Said, Edward W. (1994). Culture and imperialism. New York: Knopf.

Said, Edward W. (2003). Orientalism. London: Penguin.

Artikel Internet:

Cyntara, R. (2020). Sinopsis Eat Pray Love, Perjalanan Julia Roberts Menemukan Kedamaian. Kompas.com. Diakses melalui https://www.kompas.com/hype/read/2020/10/30/113657466/sinopsis-eat-pray-love-perjalanan-julia-roberts-menemukan-kedamaian?page=all.

Djendri, D. V. (2020). Sinopsis Jumanji: Welcome to the Jungle, Petualangan di Rimba Mainan. Kompas.com. Diakses melalui https://www.kompas.com/hype/read/2020/10/05/081724866/sinopsis-jumanji-welcome-to-the-jungle-petualangan-di-rimba-mainan?page=all.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak