facebook

Karakter Kita Jangan Tertukar, Robot Humanis vs Manusia Robotik

Ade Sudaryat
Karakter Kita Jangan Tertukar, Robot Humanis vs Manusia Robotik
Ilustrasi robot mengantikan profesi manusia. (unsplash/Andy Kelly)

Kemajuan kehidupan kita pada saat ini sangat jauh berbeda dengan beberapa abad silam. Pada saat ini, siapapun tak bisa menolak, mau tidak mau harus mengikuti arus kehidupan yang serba cepat dengan kehadiran berbagai teknologi yang semakin canggih. Nyaris semua lini kehidupan tak bisa lepas dari penggunaan teknologi.  

Seperti dikatakan Bill Gates, “Jika kita menengok ke tahun 1800-an, semua orang pada masa itu sangat miskin. Revolusi industri datang mendobrak keadaan tersebut, dan banyak negara mendapatkan keuntungan, tetapi tidak berarti semua orang diuntungkan.”

Sejak digaungkannya revolusi industri, yang sampai pada saat ini sudah memasuki revolusi industri ke-4 atau lebih dikenal dengan revolusi industri 4.0, kehidupan kita nyaris dikendalikan dengan berbagai alat berteknologi. Mulai dari teknologi yang sederhana sampai teknologi canggih. 

Dunia transportasi merupakan teknologi pertama yang mempercepat laju gerak manusia. Kini jarak antar pulau, bahkan antar negara nyaris bukan kendala bagi setiap orang untuk melakukan berbagai aktivitas. Berbagai alat transportasi dapat mengantarkan orang ke tempat yang ingin dituju.  

Sama halnya dengan dunia transportasi, komunikasi juga memudahkan hampir setiap orang untuk berkomunikasi satu sama lainnya. Kini tampak bukan sudah zamannya lagi mendapatkan informasi berhari-hari melalui surat. Informasi dan komunikasi bisa diperoleh via memainkan jari di atas keyboard gadget.

Kehadiran internet yang kini semakin memasyarakat telah menjadikan setiap orang mudah dalam memperoleh segala hal. Kini orang mudah mengakses ilmu pengetahuan, informasi. Bahkan jika kita mengetahui trik dan tata caranya, maka kita pun bisa memperoleh uang via internet. Jualan online, marketing online, merupakan salah satu sumber uang yang bisa diperoleh via jaringan internet.

Kini hampir semua orang tidak asing lagi dengan google, email, download, upload, dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi internet telah menghapus batas perbedaan kehidupan, bahkan menghapus batas-batas negara di dunia maya. Kini nyaris tak ada lagi  pembatas antara gaya kehidupan kota dan desa, dan bahkan tak ada batas antar negara. Di dunia  maya, siapapun boleh masuk ke negara manapun tanpa harus menggunakan pasport dan visa.

Kehadiran teknlogi internet telah memudahkan hampir setiap orang untuk memperoleh ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama. Terlepas dari berbagai kekurangan seperti kurangnya pendalaman terhadap ilmu, kini siapapun akan dapat memperoleh berbagai ilmu, tanpa harus membuka-buka buku berhalaman tebal dan hadir di bangku sekolah, pondok pesantren, maupun kuliah. 

Secara kognitif, siapapun akan memerolehnya. Bahkan pengetahuannya akan bisa melebihi mereka yang pernah duduk di bangku sekolah, pondok pesantren, atau kuliah. Semuanya tinggal klik saja di suatu browser, ribuan  bahkan jutaan data dari berbagai keilmuan segera keluar.

Demikian pula halnya dalam menterjemahkan suatu bahasa. Dulu jika seseorang yang akan menterjemahkan suatu teks atau buku ke bahasa lain, ia harus membuka berbagai kamus, sekarang tidak lagi. Tinggal klik google translate misalnya, malahan jika memakai aplikasi penerjemah tertentu tinggal dibacakan saja, dalam waktu singkat keluar hasil terjemahannya.

Namun demikian, dalam setiap hal yang kita hadapi selalu ada plus-minusnya, termasuk kehadiran teknologi canggih pada saat ini. Kehadiran teknologi canggih di sekitar kita telah menjadikan sikap sebagian dari kita ingin serba cepat dalam segala hal. Ingin cepat pintar, ingin cepat kaya, dan lain sebagainya. Peribahasa biar lambat asal selamat nyaris tal berlaku pada saat ini.

Tidaklah mengherankan jika Yuah Noval Harari (2018 : 423) dalam karyanya Homo Deus, A Brief History of Tomorrow memberikan istilah kemudahan mengambil data, informasi, ilmu maupun data lainnya dari internet dengan sebutan agama data (data religion). 

Disebut agama, sebab orang begitu percaya terhadap data yang ada di internet, layaknya percaya terhadap aturan yang ditetapkan dalam suatu agama.  Kini hampir setiap orang mendapat kemudahan memperoleh data apapun dan gampang mempercayainya.

Sayangnya, karena data yang  serba ada dan mudah didapat, kebanyakan orang pada saat ini menjadi kebingungan dan kewalahan dalam menyaring data. Kebanyakan orang gampang melakukan sharing tanpa melakukan saring. Mereka hampir tidak bisa lagi menangani data, kemudian menyaringnya menjadi informasi dan ilmu pengetahuan yang mengantarkan dirinya menjadi lebih bijak dalam bertutur serta bertindak.

Banyak orang yang tiba-tiba pintar karena memperoleh data dari internet. Namun, ia tak memiliki pertimbangan mendalam dari data yang telah ia peroleh. Karakternya laksana robot yang pintar bergerak sesuai dengan program mesin atau komputer yang ada di dalam tubuhnya. 

Apapun ia lakukan tanpa lagi mempertimbangkan sisi kemanusiaan. Misalnya perasaan orang ketika mendengar tutur ucap dan melihat tindakannya. Ia pun sudah tidak mempertimbangkan lagi terhadap akibat yang akan timbul dari tutur ucap dan tindakannya. 

Ketika berkomentar atau berpendapat asal bunyi saja sesuai dengan data yang ia peroleh tanpa lagi melakukan penelitian akan kebenarannya. Berbagai kegaduhan yang terjadi dalam kehidupan beragama dan kehidupan sosial-politik sering diakibatkan karena keinstanan dalam mengambil data seraya tidak dilanjutkan dengan penelitian mendalam dan tabayyun.

Seperti telah disebutkan pada awal tulisan, meskipun ada dampak negatifnya, kita tak akan bisa menolak akan kehadiran dunia internet dan berbagai teknologi yang menyertainya. Satu hal yang harus kita lakukan adalah melakukan pemahaman terhadap penggunaan internet dan berbagai teknologi lainnya. Dengan kata lain, kita harus mengupayakan adanya gerakan literasi baru, yakni literasi teknologi, literasi data, dan literasi humanis.

Joseph  E. Aoun (2017 : 54) dalam karyanya Robot-Proof, Higher Education in the Age of Artificial Intelligence menyebutkan, untuk bisa bertahan dan menguasai kehidupan pada masa mendatang yang serba robot, termasuk serba internet, seseorang perlu dikenalkan dengan kemampuan menguasai tiga macam literasi baru, yakni literasi teknologi; literasi data; dan literasi humanis. Pada masa depan dan sudah dimulai sejak awal abad ke-21, literasi tidak lagi dipahami sebagai kemampuan calistung (membaca, menulis, dan berhitung), tetapi lebih dipahami sebagai kemelekkan dan kemampuan menguasai suatu bidang tertentu. 

Karenanya literasi teknologi dan literasi data memiliki makna kemampuan menguasai teknologi dan data yang ada untuk dapat digunakan dalam menghadapi kehidupan. Memiliki literasi teknologi dan literasi data akan lebih bermakna bagi kehidupan manakala disertai dengan literasi humanis. 

Literasi humanis merupakan kemampuan menyadari dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan kata lain, penguasaan terhadap teknologi digunakan sepenuhnya untuk mengangkat derajat kehidupan manusia yang saling asah, saling asih, dan saling asuh.

Sejak ditemukannya internet, kita mulai hidup pada era robotisasi dalam hampir semua bidang kehidupan. Kata robot jangan selalu dibayangkan benda seperti manusia, bermesin,  dan  bisa berjalan sendiri. Namun, secara sederhana setiap teknologi yang mempermudah menyelesaikan pekerjaan kita tergolong kepada robot.  Berbagai browser dan aplikasi penerjemah misalnya sebenarnya tergolong kepada robot.

Sepintar apapun sebuah robot, dia hanyalah seonggok mesin, makhluk mati yang tak berperasaan, karenanya ia tak mengenal etika dan kata lelah. Lebih dari itu, ia tak akan memiliki kebijakan dan pertimbangan selain dari apa yang telah diprogram dalam seonggok mesin yang dilengkapi program komputer. Di sinilah pentingnya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan (literasi humanis). 

Kita dan generasi penerus kita pada masa mendatang akan bertahan dan bisa mengimbangi kehidupan modern, manakala mereka dibekali ilmu pengetahuan dan teknologi yang sebelumnya didasari dengan karakater dan keilmuan keagamaan yang kuat. 

Dengan memiliki karakter dan keimanan yang kuat, nilai-nilai humanis akan tetap tertanam dalam setiap jiwa kita dan generasi penerus kita. Sehingga, sehebat apapun teknologi yang dikuasai tidak akan membunuh sisi humanisnya sebagai manusia, dan membanggakan robot yang dapat bertindak lebih pintar dan lebih gesit daripada manusia.

Kemajuan teknologi yang kita kuasai jangan sampai menjadikan manusia bersifat robot yang tak berperasaan (manusia robotic) yang karakternya tertukar dengan robot buatan manusia yang berjiwa humanis (robot humanic, humanoid), yang karakternya diprogram lebih humanis daripada pembuatnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak