facebook

Wanita Masih Punya Hak sebagai Manusia

Fatkhur Rokhman
Wanita Masih Punya Hak sebagai Manusia
Ilustrasi korban kekerasan atau pelecehan seksual - (Pixabay/Anemone123)

Saya bukan seorang wanita sehingga saya tidak tahu mengenai apa yang akan saya bahas untuk kali ini akan dapat mewakili setiap perasaan wanita atau tidak, namun saya akan berusaha mewakili para wanita di luar sana. Tentunya saya bukanlah tipe seorang yang hanya bersimpati kepada kaum wanita saja sehingga mengharuskan saya mengutuk semua tradisi patriarki di luar sana atau yang sering disebut feminisme. Karena saya hanyalah segelintir lelaki biasa yang kebetulan memiliki simpati lebih terhadap para perempuan yang sering tersudutkan oleh banyak hal di dunia ini, sebagai salah satunya adalah pelecehan seksual.

Pelecehan seksual sampai detik ini masih sangat banyak terjadi, namun saya rasa hanya sedikit dari mereka yang dapat muncul ke permukaan publik sebagai berita. Perlu diketahui hal ini haruslah menjadi fokus kita bersama bukan hanya seorang wanita saja yang harus bisa menjaga dan menyikapi kejadian tersebut. Pada dasarnya kejadian pelecehan seksual ini tidak bisa terus kita salahkan kepada satu pihak saja, yaitu wanita. Seperti yang kita ketahui pasti ada banyak laki-laki, meskipun tidak semua bahkan ada segelintir wanita yang sangat protektif dan selalu menyalahkan kaum wanita korban pelecehan seksual karena pakaian yang mereka pakai. Memang hal tersebut benar, namun tidak sepenuhnya benar karena satu pihak laki-laki juga harus disalahkan karena secara sadar melakukan pelecehan seksual tersebut. Baiklah, jika ada orang yang bilang "Tidak ada asap jika tidak ada api" dan hal tersebut dimulai dari pakaian si wanita kata mereka, sekarang bagaimana peristiwanya ketika seorang yang berpakaian tertutup pun tak luput dari pelecehan seksual. Tentu yang menjadi problem disini adalah laki-laki juga bukan hanya si wanita saja. 

Namun bagaimana pun pihak yang mendapat dampak yang paling besar adalah wanita, bahkan jika tindakan tersebut sampai ke tindak pemerkosaan. Dampak yang didapat korban pasti tidak main-main fisik serta psikisnya pasti mengalami guncangan hebat dan saya rasa akan sulit untuk menyembuhkan trauma akan hal tersebut. Atau malah bisa jadi hal tersebut akan tetap membekas dalam alam bawah sadarnya sebagai hal yang sangat menakutkan yang mungkin akan berpengaruh pada kehidupannya setelah menikah.

1. Bungkam

Seperti yang telah sedikit saya bahas diatas bahwasannya masih sangat sedikit dari hal-hal tersebut yang dapat terangkat ke permukaan dengan kata lain masih sangat sulit dideteksi. Hal pertama yang menyebabkan itu terjadi adalah bungkamnya para wanita korban pelecehan seksual. Karena bagaimana pun terkadang mencari bukti untuk mereka melakukan pelaporan terhadap  perlakuan pelecehan seksual tanpa saksi itu sulit, apalagi dengan segala ancaman yang ada. Contoh gampangnya seperti cat calling yang sering dilakukan oleh laki-laki yang sering nongkrong di pinggir jalan kepada wanita-wanita yang lewat. Sebenarnya ada salah satu solusi karena sekarang kita punya teknologi, yang bisa dipergunakan untuk membuat efek jera kepada pelaku yaitu dengan sekadar merekam atau membuat siaran langsung di media sosial dengan meminta pertanggung jawaban atas apa yang mereka lakukan. Minimal tindakan tersebut memberi mereka efek jera dari rasa malu karena wajah mereka tersorot kamera dan kalau pun berlanjut dengan tindak kekerasan, peristiwa tersebut sudah terekam sebagai bukti pelaporan. Saya mengutip sedikit perkataan tersebut dari hasil pembicaraan antara Deddy Corbuzier dengan Cinta Laura dalam salah satu Podcastnya om Deddy bahwasannya hal tersebut haruslah menjadi reflek para wanita ketika mengalami pelecehan seksual.

2. Ancaman

Yang kedua adalah ancaman yang mengikut sertai peristiwa tersebut. Kalau dipikir logis juga, siapa yang mau tindak kejahatan mereka diketahui. Yang pasti setiap bentuk ancaman entah itu ditujukan kepada wanita atau laki-laki sekalipun pasti berpikir dua kali mengenai ancaman yang dilayangkan kepadanya. Namun untuk kali ini saya rasa kebiasaan speak up itu perlu, bagaimana pun itu adalah bentuk perlindungan diri paling manjur ketika kita tidak bisa melawan secara fisik. Paling tidak kepada keluarga atau teman dekat, minimal mereka bisa membantu kita menyelesaikan permasalahan. 

3. Persepsi negatif

Yang ketiga adalah yang paling ditakuti para korban pemerkosaan, apalagi kalau bukan omongan tetangga atau persepsi negatif seorang wanita yang telah ternoda. Sebenarnya hal ini perlu dihilangkan dalam diri masyarakat, karena pada akhirnya para korban butuh bantuan secara mental untuk sembuh dari trauma atas kejadian yang menimpanya. Jika masyarakat saja tidak menerimanya padahal dia adalah korban, mau kemana lagi dia. Dengan adanya hal tersebut bisa jadi ada potensi korban akan tetap bungkam karena secara tidak langsung akan mencoreng nama keluarga juga. Jelas akan sangat disayangkan jika hal tersebut terus ada sampai sekarang, karena mau bagaimana pun korban tetap membutuhkan bantuan mental untuk sembuh.

Sekarang adalah pekerjaan rumah (PR) kita bersama khususnya pihak laki-laki, karena laki-laki cenderung mempunyai nafsu yang lebih besar terhadap lawan jenis. PR-nya adalah kita harus dapat menyikapi dengan tepat kejadian pelecehan seksual serta tindak pemerkosaan dengan benar juga bersikap sebaik mungkin terhadap korban karena bagaimana pun korban tetaplah korban yang membutuhkan uluran tangan kita, jangan malah mengasingkan dia dengan serentetan label yang tidak seharusnya ada padanya.

Lagi, sebagai orang dewasa atau pun orang tua yang sudah memiliki anak alangkah lebih baiknya diajarkan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan hal ini, bisa seperti contoh tentang pergaulan bebas, pentingnya rasa empati dan simpati, norma dan etika, serta perlindungan diri. Bagi yang memiliki anak perempuan mungkin perlu dibekali keahlian membela diri demi melindungi hak-haknya di masa depan. Dan untuk kita kaum laki-laki, alangkah lebih baiknya menghargai seorang wanita karena mau bagaimana pun ketika kita menghargai mereka, kita juga pada akhirnya ikut dihormati. Dan siapa juga yang mau berurusan dengan hukum hanya karena dorongan nafsu belaka.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak