Fenomena Second Account: Solusi Gen Z Hadapi Tekanan Media Sosial

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Fenomena Second Account: Solusi Gen Z Hadapi Tekanan Media Sosial
Ilustrasi lelah berpura-pura di media sosial (Freepik/freepik)

Instagram kini sudah berubah menjadi sebuah panggung sandiwara yang melelahkan. Kita dipaksa untuk menjadi kurator bagi diri sendiri, menjaga citra diri, hingga harus mengeluarkan effort yang besar untuk menghias tampilan feeds agar terlihat estetik dan rapi.

Namun, di balik itu, ada jutaan Gen Z yang sedang berjuang melawan kelelahan mental karena standar kesempurnaan digital.

Dari sini, muncullah gerakan perlawanan diam-diam yang bukan sekadar menjadi tren, melainkan sebagai salah satu cara agar Gen Z tetap waras, yaitu second account. Menjadi "berantakan" di second account bukan lagi sebuah aib, melainkan sebuah bentuk stress release yang paling menyenangkan.

Standar Semu Media Sosial Instagram

Banyak yang berpikir bahwa main account saat ini telah bertransformasi menjadi CV visual. Jadi, di sana kita dituntut untuk selalu tampil bahagia, sukses, dan menampilkan hal-hal yang selalu baik setiap saat.

Dikutip dari Kompas.id, Guru Besar Psikologi Universitas Diponegoro, Dian R. Sawitri, menjelaskan bahwa media sosial dapat menciptakan ilusi tentang kehidupan yang sempurna karena penggunanya sering kali hanya menampilkan sisi positif. Perasaan tidak puas, kecemasan, depresi, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan masalah kesehatan mental bisa saja muncul jika pengguna merasa hidupnya tidak bisa mencapai "standar" di media sosial.

Inilah yang akhirnya membuat kita terjebak dalam perlombaan tanpa garis finish, tempat kita selalu mengejar validasi dari orang-orang yang bahkan mungkin tidak benar-benar kita kenal.

Gen Z Berada di Titik Depresi

Beban untuk tampil sempurna di media sosial ini mempunyai korelasi yang kuat dengan angka kesehatan mental di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi depresi orang Indonesia mencapai 1,4 persen, yang berarti sekitar 1 dari 100 orang mengalami depresi secara nasional. Prevalensi depresi ini paling banyak justru dirasakan oleh kelompok usia 15-24 tahun atau Generasi Z yang mencapai 2 persen.

Angka ini menjadi sinyal merah bahwa Gen Z sebagai digital native telah terpapar pada perbandingan sosial setiap detiknya. Dari sini, berantakannya realitas hidup yang menabrak standar estetik di media sosial bisa menjadi ancaman depresi yang nyata.

Second Account Menjadi Ruang Bernapas

Inilah mengapa menjadi "berantakan" di second account adalah hal yang wajar. Di akun dengan segelintir followers berwujud teman dekat ini, kita tidak perlu filter. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi untuk menjaga image diri karena kita dengan bebas bisa mengunggah foto mata sembap setelah menangis, kamar yang tidak rapi, kaus lusuh, atau keluhan tentang hari yang berat tanpa takut dihakimi.

Second account memberikan autentisitas yang tentunya tidak dapat dibagi di main account. Di sini bukan keahlian akting yang diperlukan, melainkan kejujuran yang bisa kita bagikan kepada orang-orang yang dipercaya.

Kesehatan mental di era digital adalah tentang seberapa kita peduli pada batasan. Kita juga perlu ruang untuk melepaskan topeng estetika dengan membiarkan diri kita tampil apa adanya.

Second account jadi ruang untuk bernapas di tengah kesesakan ekspektasi dan jadi pertolongan pertama kewarasan diri di tengah dunia yang serba terkurasi. Karena pada dasarnya, mengaku menjadi manusia yang tidak sempurna itu mahal harganya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak