facebook

Kesetaraan Kehidupan di Kapal

wahyu prihartanto
Kesetaraan Kehidupan di Kapal
Ilustrasi kapal (pexels)

Saat singgah di Pelabuhan, salah satu yang Anda bisa temui adalah kapal. Di atas kapal tampak berbagai kegiatan, mulai dari bongkar-muat barang, naik-turun kran kapal, hitung muatan hingga mengikat muatan, dan seterusnya. Dari seluruh kegiatan, sebagian besar dilakukan oleh pria-pria berbadan kekar, dan sisi lain ada yang mengetok dan mengecat lambung kapal menggunakan peranca dari satu lokasi ke lokasi lainnya hingga sekeliling lambung tampak bersih dan rapi. Kapal dikepalai seorang nahkoda yang telah berumur dengan rambut beruban.

Dari ujung depan atau belakang jika kita perhatikan dari sisi dermaga akan tampak seperti ornamen melengkung ke bawah dan menyembung ke atas. Kalau kita membayangkan dari atas, Anda dapat melihat tumpukan muatan dalam palka yang siap dikeluarkan ke dermaga. Dan, struktur keseluruhan badan kapal membentuk kotak persegi panjang di buritan tapi meruncing bagian haluannya. Apabila, muatan kapal penuh lambung bawah kapal akan terendam air laut, tetapi lambung atasnya tetap terbuka. Dan, selama di Pelabuhan tali kapal terikat pada pelampung.

Kapal menjadi pusat aktivitas sekaligus pusat perkumpulan kaum pria. Karenanya, kapal harus bersih dan rapi. Kapal juga memerlukan figur pengendali dari seorang laki-laki yang matang dan berpengalaman. Bentuk linggi kapal menggambarkan pinggang wanita yang ramping, palka kapal dapat diibaratkan perut yang siap melahirkan saat muatan akan dibongkar di suatu Pelabuhan. Selama di Pelabuhan, kapal akan menyembunyikan daerah sensitifnya dan dalam kondisi tertentu akan membiarkan bagian atas terbuka.

Memperhatikan karakter penampilan di atas, maka sangat masuk akal kalau kapal diibaratkan seorang wanita. Bahkan, simbol ini dalam perkembangannya juga disematkan ke mobil atau alat transportasi lainnya. Meskipun masih menjadi misteri di masyarakat, tetapi sejarah bahasa dan kebaharian kapal menjawab semua keraguan ini. Bangsa Latin menyebut kapal dengan istilah navis yang berarti peduli dan menghormati harkat serta martabat feminisme.

Dalam tradisi para pemilik kapal yang mayoritas laki-laki saat itu, sampai-sampai mereka mencantumkan nama-nama kapalnya dengan romantis. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan terhadap wanita-wanita penting dalam sejarah kehidupannya. Tradisi berbeda, kapal sering didedikasikan sebagai dewi yang dikorelasikan mitos yang bisa membawa keberuntungan. Hal ini, ditujukan untuk menghormati alam semesta agar kapal selalu dijauhkan dari mara bahaya.

Bentuk haluan kapal menyerupai wanita merupakan penghormatan terhadap dewi laut. Pada abad ke-18 sebuah kejadian mistis terjadi melalui kehadiran seorang wanita di atas kapal layar yang diyakini pertanda buruk akan menimpa kapal. Sebagai pengingat sampai saat ini, penamaan perahu atau kapal dengan nama wanita selalu digunakan meskipun tidak seekslusif sebelum-sebelumnya.

Seperti halnya kapal, negara-negara di dunia secara historis menggunakan simbolik wanita untuk kontek sejarah maupun kesusastraan. Para pemimpin dunia mempersonifikasikan negara untuk kepentingan retoris atau agiatis dalam strategi perang melawan musuh. Hal ini pernah dilakukan oleh negara blok timur untuk membakar semangat pasukan saat menghadapi Perang Dunia 1 dan 2.

Personifikasi negara-negara dalam bentuk perempuan sangat populer selama bertahun-tahun, terutama untuk kepentingan patriotisme dan perang. Pengecualian bagi Inggris dan Amerika, mereka menggunakan simbol laki-laki, john bull dan paman sam. Personifikasi negara dalam bentuk perempuan secara linguistik maupun simbolik saat ini telah menjadi anakronis, seperti nama penyakit, angin topan, badai, dan fenomena alam lainnya.

Kapal yang baru dicat atau dipercantik akan menjadi daya tarik bagi kapal-kapal di sekitarnya. Dalam sebuah perayaan hari kebesaran kapal-kapal sengaja menghias diri agar menarik perhatian kapal lainnya. Tidak jarang tradisi menghias kapal sengaja difestivalkan untuk merebutkan tropi kejuaraan.

Sebuah kapal selam akan menunjukkan bagian atasnya setiap memasuki suatu Pelabuhan. Ia akan segera mengikatkan diri pada pelampung atau sandar secara bow out alias haluan menghadap keluar untuk mempercepat tindakan setiap bahaya mengancam. Saat satu kapal akan meninggalkan pelabuhan, tidak ada satupun kapal yang tidak memberikan ungkapan never say goodbye dengan berbagai ekspresi.

Perbaikan dan perawatan diidentikkan sebagai biaya pakaian kapal, ada kalanya memperpanjang durasi pakai dan pada kondisi tertentu wajib ganti pakaian. Beberapa kapal memiliki ekor berbentuk kipas tunggal maupun gAnda diburitan yang menarik perhatian. Dua kapal berpapasan, yang melihat duluan wajib membunyikan suling, dan ketika kapal lainnya tidak merespons maka harus dianggap akan terjadi masalah. Dan, dalam kondisi demikian, salah satu mengalah untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Saat kapal berlayar tidak stabil, pastikan kapal tetap berjalan hingga menunggu waktu tepat bertindak. Reaksi kemudi kapal dapat dirasakan dalam bertahan atau berbelok untuk menghindari risiko yang lebih besar. Namun, jika kemudi berputar melampaui batas dan mesin kapal berdesing keras, artinya kapal berada pada setengah lingkaran berbahaya. Dan, dalam kondisi seperti itu seluruh kru diwajibkan segera mengambil langkah penyelamatan.

Ketika kapal kehilangan figur nahkoda sebagai pengendali, kapal akan kehilangan keseimbangan dalam petualangannya. Jika mualim menemui keraguan dalam mengendalikannya, jaga agar kapal tetap stabil untuk meminimalkan risiko yang lebih besar. Ibarat wanita, menjaga kelanggengan hubungan dengan wanita kesayangan kita jauh lebih murah dibanding mencari kapal pengganti.

Terima kasih kepada kapal dan seluruh kru di mana kita pernah senasib sepenanggungan. Pelihara kapal kalian sebagaimana kapal merawat kita selama ini. Rawat alam semesta karena kapal dan alam merupakan dua unsur saling membutuhkan, tetapi juga dapat saling meniadakan. Setiap kapal yang baik memiliki hati sama seperti milik Anda. Olah gerak dibelakang kemudi akan disambut baik seperti saat saya bekerja di atas kapal 20 tahun lalu.

*Wahyu Agung Prihartanto, Master Marine dari PIP Semarang

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak