facebook

Jalan Panjang Meneruskan Kebangkitan Nasional Melalui Pendidikan

Rully Raki
Jalan Panjang Meneruskan Kebangkitan Nasional Melalui Pendidikan
Peserta membentangkan Bendera Merah Putih saat peringatan Hari Kesaktian Pancasila di kompleks Candi Arjuna dataran tinggi Dieng, Batur, Banjarnegara, Jateng, Jumat (1/10/2021). [ANTARA FOTO/Anis Efizudin]

Setiap tanggal 20 Mei bangsa Indonesia memperingati Hari kebangkitan Nasional. Alkisahnya, peringatan ini muncul tatkala tumbuh generasi baru dengan kemunculan organisasi Budi Utomo tahun 1908, dengan gaya yang berbeda dalam memperjuangan kemerdekaan. Sebuah moment ketika anak-anak bangsa ini sebagai generasi terpelajar menjadi poiner gerakan politik dan diplomasi melawan penjajah.

Berbeda dari para pejuang sebelumnya, yang mengangkat senjata untuk melawan musuh, generasi baru yang kemudian mengikrarkan Sumpah Pemuda di tahun 1928 itu, menempuh jalur yang berbeda. Mereka belajar dan mendalami pengatahuan penjajah, untuk pada gilirannya mengalahkanya.

Sebuah langkah baru yang agaknya lebih baik karena orang memang harus benar-benar mengetahui dan belajar tentang musuh, apabila ia hendak mengalahkannya. Seni mengalahkan musuh seperti ini memang sudah lama muncul di China oleh Sun Tzu, seorang jendral masyhur, “Kenali dirimu, kenali musuhmu. Seribu pertempuran, seribu kemenangan, katanya. 

Proses mengenal diri dan mengenal musuh inilah turut membentuk kesadaran sebagai bangsa terjajah dan memantik semangat untuk bangkit. Namun, proses penyadaran ini, tentunya bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Proses penyadaran ini, berangkat dari ketercerahan budi dan batin, bahwa bangsa Indonesia tidak bisa terus hidup dalam penindasan. Ketercerahan budi dan batin inilah yang paling pertama muncul dari kaum terpelajar yang memperoleh pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan sudah pasti menjadi salah satu tonggak dalam kembangkitan bangsa, kebangkitan nasional sebuah negara. 

Maju atau tidaknya sebuah bangsa, atau sebuah negara, pun sangat ditentukan dari kebudayaan, sikap dan mental sebuah bangsa. Dalam posisi ini, peran pendidikan sebagai salah satu katalisator pembentuk mental dan budaya, tidak terelakan. Hal ini juga menjadi alasan mengapa sektor pendidikan tidak pernah ditaruh jauh dengan kebudayaan pada tata administrasi sebuah negara.  Maju atau tidaknya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya dan skill anak bangsa. Tentunya, skill dan sumber daya manusia sebagai faktor majunya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang diperoleh dan dimilii anak bangsa. 

Di negara-negara maju Asia seperti Jepang, Korea Selatan misalnya, pemerintah bukan hanya menggelontorkan dana yang banyak  untuk pendidikan, tetapi diberengi dengan program pendidikan karekter yang kuat bagi para pelajarnya untuk memajukan pendidikan (Widisuseno, 2018). Terbukti di negara-negara yang demikian, pembentukan karakter dan budaya bangsa yang kuat akan sangat mempengaruhi etos kerja, daya juang serta pengasahan skill sebuah bangsa. Hal ini yang kemudian menentukan kemajuan bangsa atau negara itu. 

Meskipun uraian tadi cukup menunjukan bagaimana peran sental pendidikan dalam memajukan sebuah bangsa, tetapi pada kenyataannya sudah hampir 75 tahun merdeka, sektor pendidikan di Indonesia tetap mengalami permasalahan. Adanya pergantian kurukilum seiring pergantian menteri pendidikan terus menjadi tantangan yang mesti disesuaikan oleh para pendidik.

Pada masa ini misalnya, kurikulum merdeka belajar sendiri tidak tanpa tantangan bagi para pendidik dan mahasiswa, baik di level pendidikan tinggi maupun pendidikan level bawah. Hal ini bisa dilihat, pada level pendidikan tinggi misalnya, mulai dari proses administrasi mahasiswa yang pindah lintas program studi,  kuliah pengantar jika ada yang mau mengambil matakuliah lintas jurusan, sistem penghitungan nilai dengan standar peniliaia dan standar akreditas yang berberda antara perguruan tinggi maupun di institusi dan dunia kerja (Setyowati, 2020).

Di pihak lain, permasalahan finansial dan infrastruktur pendidikan masih menjadi rantai yang sudah terputus. Hal ini bisa terlihat dari rendahnya gaji guru di pelosok terutama bagi guru honor, selain minimnya ketersediaan fasilitas pendidikan seperti tersedianya sekolah-sekolah yang mudah dijangkau dengan kelengkapannya di desa-desa pedalaman yang masih bermasalah.  

Di negeri ini masih terus saja kita mendengar cerita anak-anak yang yang mesti berjalan kaki jauh, atau menempuh jalan atau jembatan rusak atau bahkan naik ember bak untuk bisa pergi ke sekolah. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai salah satu daerah dengan topografi yang sulit, masih ada masih terus terbelit dengan masalah infrastruktur dan kesejahteraan guru.

Di tengah permasalahan ini, kemudian muncul pertanyaan, apakah bangsa ini sudah kehabisan tantangan-tantangan dengan perginya penjajah sehingga tidak perlu terus bangkit untuk meghadapi permasalahn multidimensi, termasuk permasalahan-permasalahan di bidang pendidikan? 

Tantangan yang dihadapai oleh bangsa ini, entah itu dari sektor politik, ekonomi, kebudayaan dan sektor yang lain tentunya sangat banyak. Oleh karena itu, moment kebangkitan nasional mestinya selalu menjadi momen untuk melalukan flashback sekaligus memperbaharui semangat tentang berbagai tantangan dan musuh-musuh yang masih saja dihadapi bangsa ini. Salah satunya ialah bagaimana membuat tindak lanjut dalam bidang pendidikan.

Proses pembenahan kurikulum yang lebih baik dan berkelanjutan penting untuk dibuat di sini. Ini berarti kurikulum yang ada harusnya bukan kurikulum bongkar-pasang. Ia bukan kurikulum yang berganti seiring dengan pergantian rezim. Perlu ada sebuah inti atau model pendidikan yang menjadi tujuan atau mengandung visi komunal bangsa. Ia adalah sebuah kurikulum yang merangkum cerita kemajuan bangsa kita yang bisa diterjemahkan dalam program yang berkelanjutan. Dengan begitu, siapa pun pemimpin di bidang pendidikan nanti akan terus melanjutkan pengerjaan 

Selain itu, perlu terus ada upaya memenuhi persoalan kesejahteraan pendidik secara transparan dan proporsional. Namun persoalan kesejahteraan ini, bukan terutama bagi guru-guru dan sekolah-sekolah negeri yang bertugas di pelosok-pelosok tanah air, tetapi juga bagi guru-guru dan sekolah-sekolah swasta yang ada di pelosok. 

Hal ini penting, karena jika mau dihitung, jumlah sekolah swasta yang berada di pelosok dan menjangkau daerah sulit jauh lebih banyak daripada sekolah negeri, baiknya pemerintah memberikan bantuan atau tunjangan khusus bagi guru-guru honorer yang mengabdi di tempat-tempat sulit. Meskipun demikian, perlu tetap ada pengetatan dalam seleksi dan pengkajian yang seksama atas soal ini, sehingga tidak terjadi salah kaprah dalam mekanisme pemberian bantuan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah perlu terus ada penggalakan pembangunan infrastruktur terutama di lokasi dengan minimnya sarana-sarana pendidikan seperti pada daerah-daerah pelosok. Hal ini penting karena sarana-sarana ini sangat penting untuk kegiatan pendidikan. Di sini tentunya dibutuhkan pengawalan proyek pembangunan atau pengadaan fasilitas sekolah, sehingga semuanya bisa tersampaikan pada mereka yang membutuhkan.

Tidak ada cara singkat untuk meneruskan kebangkitan nasional atau kebangkitan bangsa. Sebagaimana para pendahulu, jalan kebangkitan bangsa merupakan jalan yang panjang. Perlu puluhan tahun untuk memperjuangkan Indonesia. Maka, perlu puluhan tahun juga untuk membangun sistem maupun infrastruktur dan sistem pendidikan pendidikan sehingga merdeka dan bebas dari berbagai ketertinggalan serta menjadi bangsa yang maju.   

Hal itu pun hanya bisa terwujud jika kita sebagai bangsa, sudah mulai berpikir bahwa bahwa Kebangkitan Nasional bukanlah sebuah perayaan yang hanya dirayakan sehari dalam setahun dan akan diulang tahun depan jika ada. Perlu terus ada sikap memperbaharui semangat dan melakukan tindak lanjut yang tidak terputus di setiap masanya. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak