Bulan ini merupakan bulan perayaan Hari Guru Nasional yang tepat jatuh setiap 25 November. Sejarah lahirnya Hari Guru Nasional menjadi momen mengapresiasi para pendidik yang telah mencurahkan waktu, pikiran, dan tenaga demi bakti mencerdaskan generasi bangsa. Namun demikian, beberapa tahun belakangan ini, perayaan Hari Guru Nasional identik dengan perayaan seremoni dan tradisi memberi hadiah. Sifatnya yang seremonial itu bahkan seolah menjadi bagian penting. Jika ingat perayaan Hari Guru tahun lalu, di salah satu sekolah di Kota Bekasi, Jawa Barat yang berujung tragedi. Saat upacara perayaan, ada acara pelepasan balon gas. Nahasnya, balon tersebut meledak saat saat hendak dilepas hingga mengakibatkan 10 guru orang mengalami luka bakar.
Kalau sering melihat laman media sosial seperti Tik Tok atau Instagram, misalnya, menjelang atau di Hari Guru tak jarang akan menemukan momen menarik. Misalnya, ada siswa-siswa satu kelas kompak membukakan pintu dan memberikan kejutan meriah saat guru yang diberi hadiah tiba. Atau, tampak sekelompok siswa perempuan membawakan buket bunga kepada guru. Sang guru, tampak terharu dan memeluk bersama-sama siswa tersebut. Tak ada salahnya memang, merayakan hari guru sebagai bentuk apresiasi, ketulusan dan rasa terimakasih siswa dan guru.
Kebetulan, jejaring pertemanan dan kerabat saya juga ada yang bekerja di bidang pendidikan baik guru atau dosen. Tak sedikit pula mereka lantas mengunggah video perayaan atau foto benda-benda pemberian para anak didiknya. Ada coklat, bunga atau bahkan hampers yang bahkan harganya jika diterka cukup mahal. Namun demikian, sejak kapankah tradisi berbagi hadiah ini seolah melekat dalam perayaan Hari Guru? Mengapa yang tampak justru hadiah-hadiah berupa benda atau barang? Sejak kapan dan siapa yang menumbuhkan rasa keharusan membawa hadiah barang kepada guru? Opini kecil ini bukan untuk menyalahkan dan menganggap salah & buruk tradisi tersebut. Akan tetapi, ingin memberikan refleksi dan upaya agar semua pihak ”merayakan” Hari Guru lebih bijak.
Hadiah dan Kesenjangan Antara sesama Guru, Siswa dan Orang tua
Seingat saya yang tumbuh sebagai generasi 90an, pemberian hadiah untuk guru dilakukan saat momen-momen tertentu, seperti kenaikan kelas atau perpisahan sekolah. Hal itu dimaksudkan sebagai memberi kenang-kenangan atau cinderamata pada guru atas jasa dan dedikasinya selama mengajar. Hal itupun bersifat kolektif, yakni kado diserahkan oleh perwakilan orang tua/wali siswa.
Akan tetapi, jaman sudah berubah. Begitu juga tradisi dan kebiasaan. Tak perlu menunggu momen perpisahan atau pergantian wali kelas, Hari Guru pun identik dengan pemberian hadiah dari siswa. Pembaca bisa membayangkan, di sebuah ruang kelas, siswa membawa kado besar untuk diserahkan pada guru wali kelasnya. Sementara itu, guru mata pelajaran yang setiap hari juga berjuang mendidik di kelas, ternyata tak menerima hadiah pula. Atau misalnya, guru yang sudah mendidik siswa di jenjang sebelumnya—kelas 1, 2, atau 3 terlupakan karena fokusnya hanya kepada guru yang sekarang. Tidakkah ini menciptakan kecemburuan sosial di antara sesama guru?
Tak ada salahnya memang, bagi guru yang menerima hadiah. Hal yang menjadi ironi lagi, kemudian para guru yang menerima hadiah tadi menyampaikan rasa terimakasih melalui media sosial. Namun demikian, alangkah baiknya cukup diucapkan secara langsung saat menerima. Karena di media sosial, bisa jadi guru berteman media sosial dengan guru lainnya, siswa hingga para orang tua. Bagaimana jika siswa atau orang tua yang kebetulan belum bisa berbagi hadiah untuk merayakan Hari Guru? Karena alasan satu dan lain hal? Sehingga perlu bijak untuk memikirkan perasaan mereka. sepatutnya guru menyampaikan ucapan terimakasih pada orang tua siswa tersebut lantaran untuk membeli hadiah besar kemungkinan siswa mendapatkan uang dari orang tua.
Begitu juga dengan orang tua, tidak perlu gembar-gembor menunjukkan di media sosial kado-kado yang diserahkan pada guru. Jika memang ingin memberi hadiah, cukup diserahkan langsung pada guru. Tak perlu harus barang-barang mahal dan berlebihan. Hadiah atau kado pun juga bisa tak mahal namun tetap bernilai penting seperti membuat karya sendiri. Misalnya, siswa bisa membuat kartu ucapan desain sendiri menggunakan aplikasi yang pernah diajarkan di sekolah, menulis surat dengan tulisan tangan untuk guru, hingga menulis puisi yang menyentuh hati. Dengan demikian, diharapkan ihwal “kado-kado” di Hari Guru Nasional ini tidak memunculkan kesenjangan antara siswa yang memberi dengan siswa yang tidak memberi hingga guru yang menerima atau tidak.
Hadiah Terbaik untuk Guru: Menghormati hingga Meraih Prestasi Terbaik
Sejatinya kita bisa melihat bahwa upaya kita memberikan hadiah terbaik pada guru bisa kita lakukan setiap waktu tanpa menunggu momen tertentu. Apresiasi, penghargaan tidak melulu diukur atau berpatok pada seberapa besar atau mahal benda. Akan tetapi, kita bisa melihat kondisi dunia pendidikan saat ini. Berita di luaran sana memprihatinkan, lantaran sikap siswa terhadap guru saat ini jauh dari etika dan kesopanan. Padahal, sejatinya kita harus menghormati guru layaknya orangtua yang berada di rumah. Bahkan, karena memprihatinkannya, sikap-sikap tersebut bahkan bermuara pada kasus pidana. Seolah-olah polisi dan aparat jalan terakhir penyelesaian. Padahal, ada pilihan keadilan restoratif (restorative justice) yang memungkinkan untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, bukan pembalasan.
Untuk itu, menurut saya, alangkah baiknya kita sebagai siswa, atau saran saya pada para siswa atau anak didik untuk bersama-sama memahami lagi arti menghormati dan menghargai guru. Guru sebagai pengganti orang tua kita selama berada di sekolah. Mereka berjasa dalam berkewajiban mendidik kita untuk mendapatkan pengetahuan hingga pembentukan karakter. Kita menghormati dan menghargai guru kita semua baik di jenjang kelas 1-3. Atau guru dengan mata pelajaran apapun karena mereka semua berjasa pada kita.
Pada sisi lainnya, bisa jadi guru akan merasa senang serta bangga jika siswanya bisa berprestasi sesuai bidang yang diminati. Misalnya, berhasil meraih mimpi dan kesuksesan lantaran belajar dan usahanya selama di sekolah. Rasanya, bukankah itu hadiah sesungguhnya yang bisa diberikan pada guru-guru kita? Hal-hal itulah yang justru tidak bisa digantikan dan ditukar dengan benda.
Refleksi Hari Guru Nasional: Makna dan Nilai Penting Lebih sekedar Hadiah Fisik dan Seremoni
Sebagai guru, orang tua dan murid, kita perlu merefleksikan kembali makna perayaan Hari Guru Nasional. Tradisi berbagi hadiah kepada guru oleh siswa dan orang tua tampaknya menjadi tradisi meluas yang tidak selalu membawa dampak positif. Hal ini lantaran bisa jadi muncul kesenjangan antara siswa yang memberi dengan siswa yang tidak memberi kado.
Untuk itu, tulisan ini ingin mengingatkan dan mengajak bersama agar merenungkan kembali makna perayaan Hari Guru Nasional. Terlebih di tengah kondisi pendidikan Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja. Seorang guru bukannya tidak butuh benda atau harta, atau apresiasi serupa dari materi. Akan tetapi, hadiah terbaik bagi seorang guru manakala siswa mampu apresiasi guru dengan menghormati, menghargai dan memberikan prestasi terbaik yang bisa dilakukan. Jika tidak bisa memberikan hadiah prestasi, maka seperti pernyataan sebelumnya, yang terpenting adalah kita menghormati, menghargai dan mengingat jasa besar mereka. Dengan demikian, perayaan Hari Guru sepatutnya dapat dijadikan sebagai momen menciptakan hubungan yang harmonis antara siswa, guru dan orang tua. Pemberian hadiah di hari guru barangkali hanyalah simbol, namun yang paling berarti dan penting adalah nilai dan makna hari guru itu sendiri.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.