Semenjak dilantiknya presiden baru yaitu Prabowo Subianto pada tanggal 20 Oktober 2024, kita selalu mendapatkan kabar yang mengejutkan seperti terungkapnya tujuh menteri melakukan korupsi, target harga tiket pesawat turun, kado checkup yang diberlakukan mulai tahun 2025, serta sejak digantinya menteri pendidikan baru yaitu pak Prof. Dr. Abdul Mu'ti, beliau berencana akan merenovasi dua puluh dua ribu sekolah yang tak terurus (kelas yang rusak, atap bocor, lantai tanpa keramik, serta sekolah yang tidak memiliki toilet).
Selain berita itu, ternyata Prabowo juga mengusulkan kepada pak Mu'ti agar pembelajaran matematika dikenalkan dari TK. Pak Mu'ti menegaskan bahwa matematika untuk anak TK ini tidak memuat materi hitungan yang rumit karena akan menekankan prinsip bermain sambil belajar.
Beliau menjelaskan bahwa pelajaran matematika untuk anak TK akan disampaikan dengan cara yang menyenangkan tanpa ada target yang tinggi. Pak Mu'ti pun menilai wajar matematika diajarkan sejak TK dan PAUD karena numerasi dan literasi dasar memang selama ini memang menjadi materi untuk anak-anak TK. Berdasarkan penelitian, anak- anak TK yang memiliki pendidikan literasi dan numerasi yang baik berpotensi berhasil dalam pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.
Pak Mu'ti juga mengakui, matematika kerap menjadi pembelajaran yang tidak disukai bagi sebagian kalangan pelajar. Padahal, ilmu itu sangat penting bagi kehidupan sehari-hari. Banyak hal yang membutuhkan ilmu matematika untuk pemecahannya. Beliau menambahkan, penting agar mata pelajaran tersebut dapat diajarkan secara mudah dan menyenangkan.
Tidak hanya terpaut pada buku dan cara-cara kaku. Untuk itu, pihaknya pun tengah menyiapkan program pelatihan bagi guru matematika. Program ini bisa mulai berjalan awal tahun depan. "Terutama untuk matematika dari TK ya," katanya.
Setelah mengusulkan hal ini, terjadi perdebatan di mana-mana, seperti di media sosial dan juga kehidupan langsung. Perdebatan semacam ini sebenarnya mencerminkan bagaimana pandangan orang terhadap pembelajaran matematika pada TK berbeda-beda, tergantung dalam pengalaman, nilai-nilai, dan prioritas masing-masing individu atau kelompok.
Dalam konteks tersebut, baik pendapat yang menentang juga yang mendukung pembelajaran matematika mempunyai argumen yang valid, tergantung dalam bagaimana matematika itu diajarkan dan tujuan berdasarkan pembelajaran tersebut.
Kelompok yang menentang pembelajaran matematika diajarkan sedari TK beropini bahwa usia dini merupakan masa sulit bagi anak-anak buat berbagi keterampilan dasar misalnya berkomunikasi, bersosialisasi, dan berempati. Anak-anak dalam usia ini usahakan diajarkan cara berbicara yang baik, mendengarkan menggunakan penuh perhatian, dan membicarakan perasaan mereka menggunakan tepat.
Selain itu, keterampilan membaca, menulis, dan bertutur istilah dipercaya lebih relevan lantaran pribadi berdampak dalam kemampuan berinteraksi sehari-hari. Pendukung pandangan ini beranggapan bahwa mengenalkan matematika terlalu dini bisa menciptakan anak merasa stres dan kehilangan minat belajar lantaran dipercaya menjadi sesuatu yang sulit atau kurang relevan.
Namun di sisi lain, mereka yang mendukung pembelajaran matematika pada Taman Kanak-kanak beropini bahwa sosialisasi konsep-konsep dasar matematika, misalnya sosialisasi angka, bentuk, pola, dan konsep perhitungan sederhana, sebenarnya bisa membantu mengasah kemampuan kognitif anak. Matematika dipercaya menjadi fondasi krusial buat melatih logika, pemecahan masalah, dan berpikir kritis. Dengan pendekatan yang tepat, matematika bisa diajarkan menggunakan cara yang menyenangkan melalui permainan, lagu, atau kegiatan kreatif yang tidak hanya menghibur namun pula mendidik.
Jadi apakah matematika itu penting untuk diajarkan sejak TK? Mungkin jawabannya kembali kepada pendapat orang masing-masing. Jika Matematika jadi diajarkan sedari TK ada baiknya jika kita menerapkan metode belajar sambil bermain contohnya perkenalkan anak pada bentuk seperti lingkaran, persegi, dan segitiga melalui benda yang berada di dalam kelas (jam dinding berbentuk lingkaran, meja berbentuk persegi), berhitung menggunakan sempoa warna-warni agar anak semakin tertarik untuk belajar dan belajar berhitung melalui lagu anak-anak yang yang menyenangkan.
Namun ada baiknya jika pemerintah lebih mementingkan hal yang lain terlebih dahulu, seperti kinerja guru ditingkatkan, kurikulum yang harus dibenahi karena semenjak kurikulum merdeka diadakan terdapat aturan 'siswa wajib naik kelas', hal ini menyebabkan banyak anak-anak yang sulit mengikuti kegiatan pembelajaran, beranggapan remeh dan semakin malas-malasan karena mereka yakin mau sejelek apa pun nilai mereka pasti mereka akan tetap lulus tepat waktu.
Selain itu, ada baiknya juga sistem zonasi ditiadakan karena sangat disayangkan jika anak-anak yang rajin dan pintar tidak bisa masuk ke sekolah yang mereka impikan karena terhalang dengan adanya sistem zonasi yang lebih mementingkan anak-anak yang tinggal dekat dengan sekolah tersebut.
Mau bagaimana pun keputusannya, kita doakan saja agar pilihan ini menjadi pilihan yang terbaik dan pendidikan Indonesia semakin maju serta sesuai dengan kebutuhan zaman. Semua pihak seperti pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat luas, berperan penting dalam mendukung kebijakan yang dikembangkan. Melalui kerja sama dan upaya bersama, kita dapat membangun sistem pendidikan yang inklusif, berkualitas tinggi, dan berkelanjutan.