"Indonesia Emas" 2045, cita-cita mulia yang menjanjikan masa depan gemilang bagi bangsa kita. Kualitas pendidikan menjadi kunci untuk mewujudkannya, bukan sekadar transfer ilmu, tapi juga pembentukan karakter, literasi digital, dan integrasi budaya, demi melahirkan generasi yang tangguh dan berintegritas.
Melalui esai ini, kita akan menyelami pemikiran Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, yang visioner mengajak kita untuk membangun manusia seutuhnya. Filosofi pendidikannya, "Tut Wuri Handayani", mengutamakan pengembangan karakter dan otonomi pembelajar, sejalan dengan visi "Indonesia Emas" dan konsep "Merdeka Belajar".
Dewantara menggabungkan nilai-nilai luhur budaya lokal dengan pemikiran progresif Barat, menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan berlandaskan kemanusiaan. Namun, tantangan pendidikan modern menuntut adaptasi dan inovasi. Integrasi teknologi dalam pendidikan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan aksesibilitas, namun harus diimbangi dengan pelestarian nilai-nilai luhur (Dahlia, 2024).
Pembelajaran berdasarkan pengalaman dan pengembangan moral tetap menjadi prioritas, membentuk generasi muda yang memiliki kepribadian terpuji dan mampu menjadi agen perubahan positif (Wawan Eko Mujito, 2014).
Tantangan di Era Modern
Filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara terus berkembang dan diadaptasi dalam kurikulum pendidikan Indonesia modern. Kurikulum 2013, yang menekankan pengembangan holistik aspek fisik, intelektual, sosial, dan spiritual, merupakan bukti konsistensi pengaruh filosofi Dewantara (Wulandari, 2021 ; Nurhalita & Hudaidah, 2021).
Pendidikan karakter yang menjadi inti dari filosofinya, sejalan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 yang menekankan nilai-nilai agama, disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab (Nurhalita & Hudaidah, 2021).
Namun, kita dihadapkan pada tantangan yang serius. Kenakalan remaja yang meningkat dan kualitas pendidikan yang rendah menjadi momok. Penelitian terkini menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang fokus pada aspek kognitif tanpa menekankan moralitas berkontribusi terhadap kenakalan remaja (Fitriyah, 2018).
Lembaga pengendalian sosial tampaknya kehilangan daya tarik dalam meredam masalah ini. Penelitian oleh Kurniawan dkk. (2024) menemukan bahwa kompetensi pembentukan karakter di sekolah berpengaruh signifikan terhadap perilaku kenakalan, namun pengaruh teman sebaya dapat mengurangi efektivitas program ini.
Kurangnya pendidikan juga berpengaruh signifikan terhadap tingkat kejahatan di Indonesia (Trisnawati & Khoirunurrofik, 2019). Kualitas pendidikan di Indonesia memang tergolong rendah. Indonesia menduduki peringkat ke-12 dari 12 negara Asia dalam mutu pendidikan (Agustang et al., 2021).
Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi pengembangan profesional yang tidak memadai bagi para pendidik dan kurangnya perawatan pedagogis (Nurfatimah et al., 2022).
Membangun Generasi Emas: Reformasi dan Kolaborasi
Pendidikan karakter merupakan kunci untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas (Yuyarti, 2018; M. Wahono, 2018). Untuk menjawab tantangan zaman kita perlu menerapkan pendekatan pendidikan karakter yang sistematis dan terukur (Kalfaris Lalo, 2018).
Reformasi pendidikan harus dilakukan dengan fokus utama pada pengembangan karakter siswa, kecerdasan komprehensif, dan keterampilan yang dibutuhkan di era global, sejalan dengan visi pembangunan nasional Indonesia (Nurhaidah & M. Musa, 2015; Yuyarti, 2018).
Peran aktif pemerintah sangat penting dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan pendidikan yang tepat (Miftah, 2022). Pemerintah berkewajiban menyelenggarakan sistem pendidikan nasional yang menjamin pendidikan yang merata dan berkeadilan (Suhaeny, 2020).
Pendidikan kewarganegaraan memegang peran penting dalam pembentukan karakter di tengah arus globalisasi (Tuhuteru, 2017).
Ide-ide inovatif dari berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk melawan kemerosotan jati diri dan ideologi bangsa (Tuhuteru, 2017). Kebijakan pemerintah harus mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi dan perubahan zaman untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Strategi yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral dan mendukung perkembangan anak melibatkan kolaborasi antara lembaga pendidikan dan orang tua. Program pendidikan orang tua dapat meningkatkan kesadaran dan komitmen orang tua (Anjarani et al., 2025).
Di sekolah, metode mendongeng seperti BERLIAN (Bercerita-ExpeRiential-LearnIng-ANak) telah menunjukkan janji dalam mengajarkan nilai-nilai moral (Iswinarti et al., 2020).
Pendidikan agama dan moral dalam lingkungan anak usia dini dapat ditingkatkan melalui pemberian pengetahuan tentang Tuhan, mencontohkan perilaku yang baik, dan menumbuhkan kebiasaan positif (Anwar & Nur Cholimah, 2023).
Dalam keluarga, pendidikan karakter memainkan peran penting dalam meletakkan dasar bagi perkembangan moral, dengan orang tua perlu menyesuaikan metode mereka dengan karakter unik setiap anak (Susan, 2021).
Pendekatan multi-aspek yang melibatkan sekolah, lembaga keagamaan, dan keluarga tampaknya paling efektif dalam memelihara nilai-nilai moral dan mendukung pertumbuhan anak-anak.
Penutup
Ki Hajar Dewantara, melalui filosofi "ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani," memberikan panduan tak lekang waktu untuk membangun bangsa.
Semangatnya relevan di era "Indonesia Emas" 2045 - mewujudkan generasi penerus yang berakhlak mulia, berdaya saing, dan memiliki kemampuan membangun masa depan yang adil dan sejahtera.
Untuk mewujudkannya, perlu dilakukan reformasi pendidikan menyeluruh, meliputi peningkatan kualitas, pembentukan karakter, akses yang merata, dan sistem yang adil. Dengan langkah-langkah konkret dan semangat Ki Hajar Dewantara, kita optimis bahwa Indonesia akan mencapai cita-cita mulia tersebut.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS