Urbanisasi Pasca Lebaran, Masih Relevankah?

Hikmawan Firdaus | Naufal Mamduh
Urbanisasi Pasca Lebaran, Masih Relevankah?
Ilustrasi mudik (Freepik)

Fenomena urbanisasi pasca Lebaran selalu menjadi cerita lama yang terulang setiap tahunnya. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya kembali diserbu oleh pendatang yang ingin mengadu nasib setelah mudik ke kampung halaman.

Pemerintah daerah biasanya merespons dengan operasi yustisi untuk mendata penduduk baru dan memastikan mereka memiliki pekerjaan serta tempat tinggal yang jelas. Namun, tahun ini, tidak ada aturan khusus untuk membatasi urbanisasi pasca Lebaran. Pemerintah hanya mengimbau masyarakat agar lebih bijaksana dalam mengambil keputusan untuk pindah ke kota besar. Mereka yang ingin mencoba peruntungan di kota diharapkan memiliki keterampilan, sumber daya, serta kesiapan mental agar tidak menjadi beban bagi kota tujuan.

Namun, di tengah perkembangan teknologi dan ekonomi yang semakin inklusif, masih relevankah urbanisasi sebagai satu-satunya jalan untuk meraih kesejahteraan ekonomi? Lantas apakah urbanisasi sudah usang?

Dulu, urbanisasi dianggap sebagai solusi bagi mereka yang ingin memperbaiki taraf hidup. Kota-kota besar menawarkan peluang kerja yang lebih banyak dibandingkan desa. Namun, seiring perkembangan zaman, konsep ini mulai terasa usang. Kemajuan teknologi, digitalisasi, dan akses internet yang semakin luas telah membuka peluang ekonomi yang tidak lagi terbatas pada kota besar.

Saat ini, seseorang bisa membangun bisnis dari desa dengan jangkauan yang bahkan lebih luas daripada mereka yang bekerja di kota besar. Banyak UMKM yang sukses hanya dengan berjualan melalui media sosial dan e-commerce tanpa harus berpindah ke kota. Produk-produk khas daerah seperti kerajinan tangan, makanan tradisional, dan hasil pertanian kini dapat dijual ke seluruh Indonesia—bahkan ke luar negeri—melalui platform digital. Hal ini membuktikan bahwa mencari rezeki tidak lagi harus dengan urbanisasi.

Selain itu, beberapa desa telah berhasil mengembangkan potensi lokalnya sehingga warganya tidak perlu meninggalkan kampung halaman untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Contoh menarik adalah Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Desa ini mampu memberikan tunjangan hari raya kepada warganya berkat keberhasilannya mengembangkan sektor wisata desa. Dengan memanfaatkan potensi alam, budaya, serta dukungan pemerintah desa yang inovatif, mereka menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal. Saya yakin banyak desa lain yang memiliki kisah serupa dan ini menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak harus selalu dicari di kota besar, tetapi bisa diciptakan di tempat asal dengan strategi yang tepat.

Selain sektor wisata, sektor pertanian juga mengalami perkembangan signifikan dengan adanya inovasi teknologi. Digitalisasi dalam pertanian memungkinkan para petani menjual hasil panennya langsung kepada konsumen tanpa melalui perantara. Model bisnis seperti ini membantu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ekonomi desa. Dengan adanya akses pasar yang lebih luas melalui e-commerce dan marketplace khusus produk pertanian, masyarakat desa kini memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan taraf hidup tanpa harus hijrah ke kota.

Mari bijak dalam memilih masa depan. Urbanisasi memang tidak bisa dihindari sepenuhnya, karena kota besar tetap menjadi pusat ekonomi dan industri. Namun, dalam era digital saat ini, masyarakat harus berpikir lebih kritis: apakah pindah ke kota benar-benar solusi terbaik? Jika hanya bermodal nekat tanpa keahlian dan rencana yang matang, urbanisasi justru bisa menjadi beban, baik bagi individu maupun kota yang dituju.

Sebaliknya, dengan memanfaatkan teknologi, menggali potensi lokal, dan berinovasi, seseorang bisa meraih kesejahteraan tanpa harus pergi jauh dari rumah. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, juga harus terus mendukung pembangunan ekonomi di desa-desa dan kota sekunder agar distribusi kesejahteraan lebih merata. Jika hal ini bisa dilakukan secara konsisten, maka urbanisasi dalam bentuk tradisionalnya bukan hanya usang, tetapi juga tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan bagi masyarakat dalam mengejar mimpi dan kesejahteraan.

Kesadaran akan pentingnya membangun daerah asal juga harus diperkuat dengan edukasi dan pelatihan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar. Program pemberdayaan ekonomi berbasis desa perlu terus dikembangkan agar masyarakat tidak lagi merasa bahwa satu-satunya cara untuk sukses adalah dengan berpindah ke kota besar. Dengan adanya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan sektor swasta, pembangunan ekonomi desa dapat terus berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja baru, dan mengurangi tekanan urbanisasi yang berlebihan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak