Menjaga Harmoni di Bulan Suci: Trik Elegan Menolak Bukber Tanpa Baper

M. Reza Sulaiman | Vicka Rumanti
Menjaga Harmoni di Bulan Suci: Trik Elegan Menolak Bukber Tanpa Baper
Ilustrasi buka bersama (Freepik/freepik)

Bulan Ramadan sering kali menjadi momen "perlombaan" undangan buka puasa bersama (bukber), mulai dari teman sekolah, kuliah, hingga rekan kerja lintas divisi. Baru hari pertama puasa, kalender sudah penuh dengan jadwal buka puasa di luar. Momen ini menjadi ruang nostalgia yang hangat untuk bertemu teman lama, menceritakan memori yang masih ada, hingga kesibukan yang sedang dijalani saat ini.

Dilema Batasan Diri di Tengah Undangan Bukber

Namun, di balik keriuhan undangan tersebut, muncul sebuah tantangan yang kadang sungkan untuk dibicarakan. Ada kalanya energi, finansial, dan kebutuhan waktu lainnya mulai berbenturan dengan daftar undangan yang menumpuk.

Di sinilah muncul dilema bagaimana caranya menarik batasan dan berkata "tidak" secara elegan tanpa harus menyakiti perasaan orang lain dan tidak dicap sebagai pribadi yang sombong.

Mengutamakan Kualitas daripada Kuantitas

Sebenarnya, menolak ajakan bukber bukanlah sesuatu yang salah, melainkan sebuah keputusan dewasa untuk menentukan prioritas energi dan waktu yang harus kita jaga. Kuncinya terletak pada perubahan pola pikir dari fear of missing out (FOMO) menjadi quality over quantity, di mana kita perlu menyadari bahwa waktu juga adalah sesuatu yang berharga.

Jadi, sebetulnya Anda tidak perlu takut untuk menolak. Memilih tidak hadir di sebuah acara bukan berarti memutus tali silaturahmi, melainkan sebagai upaya untuk menghargai prioritas pribadi. Waktu tersebut bisa digunakan untuk berkumpul bersama keluarga inti, beristirahat untuk menjaga kesehatan, atau fokus pada ibadah personal.

Strategi Menolak Elegan dengan Sandwich Method

Anda bisa menggunakan teknik sandwich ini untuk merespons ajakan atau undangan buka puasa secara elegan ketika tidak ingin datang. Teknik ini berisi penolakan, tetapi diawali dengan pesan positif berupa apresiasi dan harapan:

1. Apresiasi (The Top Bun)

Mulailah dengan menunjukkan rasa terima kasih karena teman Anda sudah mengundang ke acara tersebut. Contohnya: "Terima kasih banyak atas undangannya, saya sangat menghargai inisiatif teman-teman untuk berkumpul." Hal ini akan memberikan kesan bahwa Anda menghormati mereka yang mengundang dan masih mengingat Anda.

2. Penolakan Disertai Alasan Singkat (The Filling)

Sampaikan penolakan dengan lugas, tetapi tetap halus. Anda tidak perlu memberikan alasan yang terlalu detail atau malah berbohong. Cukup katakan: "Mohon maaf, ya, saat ini jadwal saya sedang padat dan saya ingin berkumpul bersama keluarga di rumah." Kejujuran yang Anda sampaikan akan lebih diterima daripada membuat alasan yang mengarah pada kebohongan.

3. Harapan dan Alternatif (The Bottom Bun)

Tutuplah pesan Anda dengan doa atau janji untuk bertemu suatu hari nanti. Misalnya: "Semoga acaranya lancar dan seru, ya. Insyaallah kita masih bisa mencari waktu lain untuk bertemu dan bersilaturahmi setelah hari raya nanti."

Dengan pendekatan sandwich ini, Anda tetap bisa menjaga batas pribadi, tetapi juga menyampaikan penolakan dengan cara yang lebih dewasa dan beretika. Dari sini, pertemanan Anda tidak akan terputus hanya karena ketidakhadiran; justru cara Anda merespons menunjukkan bahwa Anda menghargai mereka.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak