Belajar Komunikasi Sosial: Pengalaman Lapangan Mahasiswa Fikom Selama Satu Semester

M. Reza Sulaiman | Vanessa rosalina
Belajar Komunikasi Sosial: Pengalaman Lapangan Mahasiswa Fikom Selama Satu Semester
Mahasiswa FIKOM Universitas Ciputra. (Dokumentasi Pribadi)

Pada awal masuk Fikom, pembelajaran kuliah ini mengajarkan banyak teori komunikasi yang kerap diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak dari kita belum tahu bahwa beberapa tindakan dan opini kita bisa jadi merupakan salah satu bentuk teori komunikasi.

Teori yang paling berkesan bagi saya pribadi adalah teori agenda setting. Mengapa? Karena teori ini jika diterapkan di mana pun akan sangat berdampak (impactful).

Teori agenda setting menjelaskan bagaimana media bisa memengaruhi massa; bagaimana media yang sekarang sudah menjadi bagian dari keseharian manusia mampu menggiring opini dan tindakan khalayak. Sudah banyak contoh yang kita tahu mengenai cara media menggiring opini dari hal positif menjadi negatif, dan sebaliknya. Contoh yang belum lama ini terjadi adalah bencana di Sumatra.

Media mampu menggiring topik yang awalnya sekadar “bencana alam” menjadi “salah satu strategi yang berhubungan dengan mafia sawit” karena munculnya berita pembakaran gedung Terra Drone yang menyimpan “rahasia”. Hal ini pada akhirnya membuka kecurigaan khalayak bahwa bencana banjir tersebut disebabkan oleh maraknya penebangan pohon di hutan. Berdasarkan teori ini, menurut saya, media berperan besar dalam kehidupan sosial.

Dalam beberapa minggu pertama di Fikom, kami dibawa mengunjungi Kota Lama Surabaya dan berkeliling di sana sembari mewawancarai beberapa orang di lokasi. Pengalaman yang paling berkesan adalah saat kelompok saya berkunjung ke Pasar Pabean, salah satu pasar tradisional di kawasan Kota Lama. Fokus wawancara kami adalah untuk mengetahui apakah teknologi digital memengaruhi kinerja mereka. Hal ini berkesan karena mulai dari penjual, pembeli, hingga distributor di pasar tersebut mayoritas adalah orang tua, bukan Gen Z yang biasanya lebih melek teknologi. Namun, jawaban yang mereka berikan justru membuat kami, para Gen Z, kaget. Ternyata lingkungan yang kami kira sangat tradisional tersebut sudah mampu menggunakan teknologi digital, seperti QRIS. Penghasilan mereka sekarang kebanyakan berasal dari QRIS.

Padahal, menurut saya pribadi, membuat akun QRIS dan pembayaran e-money terbilang cukup sulit untuk usia orang-orang di Pasar Pabean, mengingat saya sebagai Gen Z saja masih sedikit kebingungan saat membuat QRIS pribadi. Ini adalah bentuk komunikasi sosial yang nyata karena melalui kunjungan ini saya menyadari bahwa selain Gen Z, generasi sebelum kami pun sudah mampu mengadopsi teknologi digital.

Kunjungan ke Kota Lama juga mengingatkan saya pada teori diffusion of innovation. Teori ini menjelaskan tentang adanya penemuan baru yang lama-kelamaan menjadi rutinitas masyarakat karena proses penyebaran. Sebagai contoh, QRIS yang merupakan penemuan baru sekarang kerap digunakan oleh hampir seluruh masyarakat karena penyebaran informasi, baik melalui media, komunikasi dari mulut ke mulut, maupun tren. Kini, QRIS dan pembayaran daring melalui ponsel pintar menjadi keseharian masyarakat yang dulunya terbiasa menggunakan uang tunai (cash), namun kini beralih menjadi nontunai (cashless).

Di akhir semester, kami diminta membuat kampanye (campaign) secara berkelompok. Kami memilih tema “Stop Bullying and Cyberbullying” karena pada era sekarang banyak berita tentang remaja yang mengalami depresi bahkan bunuh diri akibat perundungan.

Seiring perubahan zaman, perundungan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga di media sosial yang memungkinkan orang asing ikut merundung korban. Kami membuat video drama mengenai tipe-tipe pelaku perundungan, baik secara fisik maupun siber. Tidak sedikit orang yang tidak menyadari perbuatan mereka dan berlindung di balik kata “Ah, cuma bercanda kok,” atau “Dia baperan banget,” untuk menyangkal (denial) perbuatan mereka. Kami tidak ingin menormalisasi hal tersebut! Oleh karena itu, kampanye ini dibuat sebagai peringatan sosial kepada mereka dan lingkungan sekitar agar lebih sadar mengenai dampak perundungan.

Sebagai penutup, pengaruh pembelajaran semester ini dalam kehidupan sosial saya cukup signifikan. Satu hal yang membekas adalah saat proyek kampanye berlangsung. Awalnya, beberapa anggota kelompok saya memberikan julukan “unik” kepada salah satu anggota lainnya tanpa menyadari bahwa hal itu bisa menyinggung perasaan. Kami semua menganggapnya sebagai candaan.

Namun, setelah melakukan riset untuk kampanye perundungan, kami baru sadar bahwa memberikan julukan yang tidak diinginkan kepada seseorang termasuk tindakan perundungan. Sejak hari itu, julukan tersebut tidak pernah terdengar lagi.

Vanessa Rosalina, FIKOM Universitas Ciputra

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak