Anatomy of Curiosity: Saat Kemalangan Orang Lain Menjadi Kepuasan Otak Kita

M. Reza Sulaiman | Shochichuz Za'iim
Anatomy of Curiosity: Saat Kemalangan Orang Lain Menjadi Kepuasan Otak Kita
Ilustrasi rasa penasaran, kepo, ingin tahu. (Envato)

Secara biologis, otak manusia adalah mesin prediksi yang fanatik. Ia membenci ambiguitas dan merana dalam ketidakpastian.

Dalam neurosains, kita mengenal istilah Information Gap Theory dari George Loewenstein. Teori ini menjelaskan bahwa ketika ada celah antara "apa yang kita tahu" dan "apa yang ingin kita tahu", otak bereaksi seolah-olah sedang gatal. Rasa gatal kognitif ini menyiksa, memicu kecemasan, dan menuntut untuk segera digaruk. Inilah akar dari perilaku yang kita sebut "kepo".

Saat sebuah tragedi menimpa orang lain—skandal terkuak atau musibah terjadi—orang-orang berlarian mendekat bukan semata karena peduli. Mereka mendekat karena otak purba mereka berteriak: “Isi celah kosong itu! Tutup ketidakpastian itu agar dunia kembali masuk akal!” Saat informasi didapat, otak melepaskan dopamin yang memberikan rasa puas sesaat.

Namun, di sinilah letak ironi yang menyedihkan. Desakan biologis untuk menutup celah informasi itu sering kali tidak dibarengi dengan aktivasi sistem limbik, tempat empati bermuara. Yang terjadi justru sebaliknya: sebuah fenomena gelap bernama schadenfreude.

Schadenfreude (dari bahasa Jerman: Schaden 'kerusakan' + Freude 'sukacita') adalah rasa kepuasan tersembunyi yang muncul saat melihat kemalangan orang lain. Ini adalah mekanisme pertahanan ego yang primitif. Saat kita mendengar kabar buruk, otak melakukan downward social comparison (perbandingan sosial ke bawah). Ada rasa lega yang berbisik lirih: "Untung bukan aku. Aku lebih aman. Aku lebih baik."

Maka, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan—seperti "Kenapa bisa kejadian?" atau "Kronologinya gimana?"—sejatinya sering kali bukan bentuk kasih sayang. Itu adalah cara untuk memvalidasi rasa aman diri sendiri dengan menjadikan penderitaan orang lain sebagai objek studi, tontonan, atau sekadar data. Desakan dopamin telah membunuh empati.

Refleksi dan Pendewasaan Diri: Otak Berpikir Sesuai Kebutuhan Hati

Sebagai manusia yang dianugerahi korteks prefrontal (bagian otak untuk kebijaksanaan dan moral), kita seharusnya termenung: Apakah kita hanya sekumpulan sel saraf yang diperbudak oleh dopamin, rela menukar rasa kemanusiaan hanya demi memuaskan rasa ingin tahu sesaat?

Perenungan lebih dalam membawa pada pemahaman baru tentang relasi manusia: Perbedaan cara orang merespons sebuah masalah adalah hal yang tak terhindarkan karena tidak semua orang memiliki "wadah batin" yang sama. Dari situ, manusia terbagi menjadi dua jenis wadah batin:

  1. Berwadah Luas: Tipe seseorang yang mampu menyikapi badai dengan tenang; mereka tidak butuh detail. Wadah mereka luas, mampu menampung ketidakpastian tanpa rasa cemas. Mereka hadir membawa doa dan ruang sunyi.
  2. Berwadah Kecil: Seseorang yang wadahnya lebih kecil. Mereka mencecar dengan pertanyaan dan spekulasi bukan semata untuk menyudutkan, melainkan karena kapasitas batin mereka belum cukup lapang untuk menoleransi ketidaktahuan. Mereka butuh data agar tidak merasa terancam.

Lalu, marah pada mereka yang "kepo" (di sini berarti mereka yang berwadah kecil) ibarat marah pada gelas kecil yang tumpah saat diisi air satu ember. Itu hanya soal kapasitas, bukan melulu soal kejahatan. Pemahaman ini mengubah pandangan dari ingin menghakimi menjadi memaklumi.

Di tengah hiruk-pikuk manusia yang sibuk menjadi detektif atas aib orang lain, memilih untuk tidak tahu bukanlah sebuah pemberontakan. Menahan diri untuk tidak bertanya tentang sesuatu yang belum pantas menjadi konsumsi publik adalah bentuk empati tertinggi.

Terkadang, cara terbaik untuk menolong mereka yang sedang jatuh bukanlah dengan membedah lukanya, melainkan dengan memberinya ruang sunyi untuk sembuh tanpa dihakimi oleh tatapan mata yang lapar.

Tugas kita hanyalah menjaga integritas diri sendiri. Biarlah mereka sibuk memuaskan dopamin mereka, sementara kita memilih untuk merawat sisa kemanusiaan, meyakini bahwa dukungan paling nyaring justru terdengar dari doa yang paling sunyi.

Pada akhirnya, kedewasaan bukan hanya soal seberapa banyak yang kita tahu, melainkan seberapa bijak kita memaklumi mereka yang tidak tahu. Tuhan menutup aib saudara kita bukan tanpa alasan. Maka, janganlah kita memaksa membukanya hanya karena nafsu ingin tahu yang berkedok peduli.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak