Broken Strings, Menyelami Luka Lama dan Keberpihakan Pada Korban

Lintang Siltya Utami | Yayang Nanda Budiman
Broken Strings, Menyelami Luka Lama dan Keberpihakan Pada Korban
Cover buku karya Aurelie Moeremans yang berjudul 'Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth' (Foto: dokumentasi buku Aurelie Moeremans)

Aktris Aurelie Moeremans kembali menjadi perbincangan publik setelah merilis memoir berjudul Broken Strings. Buku ini menjadi trending di media sosial dan ramai dibicarakan karena keberanian Aurelie mengungkap bagian kehidupan masa lalunya yang selama ini jarang dibagikan secara terbuka.

Broken Strings bukan sekadar buku tentang karier atau kisah selebriti, itu adalah memoar pribadi yang menceritakan pengalaman sangat pribadi dan traumatis yang dialami Aurelie sejak usia belia. Dalam memoir ini, ia berbagi tentang hubungan toksik dan manipulatif yang dimulai ketika ia masih remaja, serta bagaimana pengalaman tersebut membentuk perjalanan hidupnya.

Salah satu bagian paling menonjol dari buku ini adalah pengakuan Aurelie tentang pengalaman menjadi korban child grooming yakni sebuah bentuk manipulasi psikologis di mana seorang orang dewasa menjalin hubungan dengan anak di bawah umur untuk eksploitasi emosional, seksual, dan kekuasaan. Aurelie menyebut dirinya "digrooming" saat berusia sekitar 15 tahun oleh seorang pria dewasa yang usianya hampir dua kali lipat darinya.

Dalam narasinya, Aurelie menggambarkan bagaimana hubungan yang awalnya tampak perhatian dan “melindungi” itu bertransformasi menjadi kendali, tekanan emosional, dan manipulasi yang melelahkan. Ia menulis pengalaman itu secara jujur dan kronologis, termasuk tekanan psikologis serta bentuk-bentuk kekerasan yang dialaminya dalam fase paling rapuh hidupnya. Judul Broken Strings sendiri menjadi simbol kuat dari kisah hidup Aurelie atau senar yang putus menggambarkan keretakan mental, rasa percaya diri yang hancur, serta bekas luka emosional yang tak mudah disatukan kembali

Luka yang Tumbuh Diam-Diam

Kisah yang diungkap Aurelie Moeremans lewat Broken Strings memukul kesadaran publik tentang betapa sunyinya ruang tempat praktik grooming beroperasi. Grooming tidak datang dengan wajah kekerasan yang kasar sejak awal. Itu justru hadir dalam bentuk perhatian, pengakuan, dan rasa aman semu yang membuat seorang anak atau remaja merasa dipilih dan dimengerti. Di situlah bahaya bermula. Ketika relasi dibangun di atas ketimpangan usia dan kuasa, setiap gestur yang terlihat romantis atau protektif sesungguhnya bisa menjadi pintu masuk bagi kontrol yang lebih dalam.

Dalam banyak kasus, korban tidak pernah sadar bahwa dirinya sedang dijerat. Ia merasa sedang menjalin hubungan yang istimewa. Ia merasa dewasa lebih cepat dari seharusnya. Ia merasa bertanggung jawab menjaga rahasia. Padahal semua itu adalah hasil dari manipulasi yang sistematis. Groomer menanamkan rasa ketergantungan emosional lalu perlahan menarik korban menjauh dari dunia yang bisa melindunginya. Orang tua, teman, dan institusi yang seharusnya menjadi pagar justru tampak sebagai penghalang yang harus disingkirkan.

Pengalaman Aurelie menunjukkan bahwa luka itu tidak berhenti ketika relasi tersebut berakhir. Itu menempel dalam cara seseorang memandang diri sendiri, tubuhnya, dan nilai dirinya. Banyak korban tumbuh dengan rasa bersalah yang tidak pernah semestinya mereka tanggung. Mereka mempertanyakan keputusan sendiri padahal yang terjadi adalah eksploitasi. Di sinilah masyarakat sering gagal. Alih-alih memusatkan perhatian pada pelaku, publik justru kerap menguliti korban dengan pertanyaan tentang pilihan dan moralitas.

Kita juga harus jujur mengakui bahwa media sosial memperluas medan bagi praktik grooming. Akses langsung, anonimitas, dan ilusi kedekatan membuat anak dan remaja semakin rentan. Banyak pelaku memulai dengan percakapan biasa, lalu beralih ke pujian, lalu ke rahasia, dan akhirnya ke tuntutan. Proses ini begitu halus sehingga korban baru menyadari ketika sudah terjebak jauh.

Masyarakat yang melek isu ini tidak cukup hanya dengan marah setelah sebuah kisah viral. Perlu perubahan cara pandang. Perlu kesediaan untuk mempercayai suara korban tanpa menghakimi. Perlu pendidikan yang mengajarkan batasan, persetujuan, dan dinamika kuasa sejak dini. Tanpa itu, kita hanya akan mengulang siklus yang sama dengan korban yang terus berganti.

Memulihkan dan Mencegah

Keberanian Aurelie membuka kisahnya bukan sekadar pengakuan personal. Dengan bersuara, ia merebut kembali kendali atas narasi yang dulu dicuri darinya. Ini penting karena banyak korban merasa diam adalah satu satunya cara bertahan. Padahal diam justru melanggengkan kekuasaan pelaku. Pemulihan korban grooming membutuhkan ruang yang aman dan dukungan yang konsisten. Terapi, komunitas, dan pengakuan publik bahwa yang terjadi adalah kekerasan merupakan fondasi awal. Tidak ada penyembuhan tanpa validasi. Tidak ada pemulihan jika korban terus dipaksa merasa malu atas luka yang bukan ia ciptakan.

Pada saat yang sama, pencegahan harus berjalan seiring. Hukum perlu berpihak tegas pada perlindungan anak. Institusi pendidikan harus memiliki mekanisme pelaporan yang jelas dan responsif. Orang dewasa di sekitar anak harus dilatih mengenali pola manipulasi yang sering disamarkan sebagai kasih sayang. Bahkan bahasa sehari hari perlu dibenahi agar tidak lagi meromantisasi relasi yang timpang.

Broken Strings mengingatkan bahwa masa muda yang dicuri tidak bisa dikembalikan. Namun masa depan masih bisa diperjuangkan. Setiap kisah yang dibagikan dengan jujur membuka celah bagi empati dan perubahan.  Jika ada satu pelajaran penting dari kisah ini, itu adalah bahwa grooming bukan tragedi individual semata. Ia adalah persoalan sosial yang menuntut tanggung jawab kolektif. Dengan mendengarkan, percaya, dan bertindak, kita bisa memutus belenggu yang selama ini menjerat generasi paling rentan di antara kita.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak